[Pembawa Acara]:

Sebutkan orang yang baik itu yang hari ini lebih baik dibanding hari kemarin dan hari esok lebih baik dibanding hari ini. Artinya, ini kan trennya naik, Ustaz. Selalu, apa, naik. Apakah yang disebut istikamah itu yang harus naik ini, atau orang yang memang bertahan tetap dalam keimanannya itu—minimalis itu—juga masih istikamah? Itu seperti apa, Ustaz? (00:00:41)

[Ustaz Rokhmat S. Labib]:

Iya, jadi ketika orang tuh berada dalam keimanan yang diperintahkan Islam, yaitu istikamah. Ketika orang itu mengerjakan dan taat syariat, nah, itu istikamah. Iya, jadi garisnya, jalannya itu di situ. Dan kemudian kalau dia meningkat, ya itu juga tentu juga merupakan dari bagian istikamah. (00:00:58)

Dan karena memang justru tanda… ee… tanda diterimanya amal itu adalah amal itu lebih baik. Jadi ada pernyataan atau penjelasan para ulama mengatakan, “Min jazaail hasanah al-hasanatu ba’daha”. Termasuk balasan kebaikan adalah kebaikan yang dikerjakan… ee… sesudahnya, gitu. (00:01:25)

Jadi makanya para ulama misalnya mengatakan apa tanda bahwa salat fardu itu adalah diterima? Ketika membuat dia salat fardu itu… membuat dia ringan untuk mengerjakan salat rawatib. Jadi ketika orang melang satu hal, maka dia akan cenderung terus meningkat. Itulah buah dari… ee… kelezatan ketika dia taat terhadap syariat itu. (00:01:56)

Ini didasarkan seperti dalam firman Allah Subhanahu wa taala… eh… “Wa faamma man a’tha wattaqa wa shaddaqa bil husna fasanuyassiruhu lil yusra”. Siapa yang memberi, bertakwa, kemudian dia juga… ee… apa namanya… m… ee… dia membenarkan atau meyakini al-husna, maka fasanuyassiruhu lil yusra. Diberikan… kami berikan kemudahan bagi untuk mendapatkan kemudahan… ee… dalam. (00:02:29)

Dalam ayat lain disebutkan apa: “Man jahada fina… sabilana… eh… man jahada fina lanahdiannahum subulana”. Siapa yang jahada, yang bersungguh-sungguh di dalam jalan kami, lanahdiannahum subulana, kami akan berikan petunjuk kepada mereka atas jalan kami. Jadi ini juga ayat-ayat yang menunjukkan bahwa kata orang itu… ee… makin takwa, diberikan kemudahan untuk semakin takwa, gitu. (00:03:06)

Orang yang misalnya belajar kayak gini lalu kemudian dia tanamkan rasa lezat, sehingga kalau sekarang belajar, besok pengin belajar lagi, belajar lagi. Begitu, meningkat terus. (00:03:17)

[Pembawa Acara]:

Baik, Ustaz. Ini ada pertanyaan dari akun @jujurlah: menurut Ustaz apa bedanya istikamah sama konsisten? Iya, ada beda? (00:03:35)

[Ustaz Rokhmat S. Labib]:

Iya jadi… ee… gini. Saya tidak begitu ini ya, begitu… saya tidak menerangkan tentang konsisten ini, bisa dilihat dalam kamus bahasa Arab, bahasa Inggris, ya. Kalau istikamah itu artinya dari kata istaqama tadi, tegak, la iwaja tidak bengkok, wala maila tidak miring. Oke, gitu. (00:03:54)

Jadi berarti kalau disebut konsisten, berarti itu yang bahasa Arabnya… bahasa lainnya tsabbat, gitu. Cuman dalam kata istikamah ini juga memberikan makna positif. Hm. Jadi kalau misalnya orang mencuri, tidak disebut sebagai istikamah, ya. Jadi ketika dia melakukan kemaksiatan itu jelas amal bengkok, bukan disebut. (00:04:13)

Jadi… ee… kata istikamah itu kalau mau disebut konsisten, konsisten dalam kebaikan. Hm. Jadi spesifik. Dia bukan… bukan melaku… ee… konsisten keburukan. Dalam keburukan tidak disebut sebagai istikamah. Jadi kalau mau disebut konsisten, tsabbat tadi. Tsabbat dalam kebaikan, i… gitu, dan kebenaran. Kalau istikamah selalu positif, kalau konsisten bisa dalam… (00:04:44)

Iya, gak tahu kalau apakah konsisten sudah digunakan untuk hal yang buruk apa tidak, gitu. Heh. Kelihatannya kata konsisten itu masih dalam pengertian umum ya. Konsisten dengan kekufurannya misalnya, disebut dengan konsisten, ya. Konsisten dengan keyakinannya misalnya, padahal keyakinannya belum tentu benar. (00:05:02)

Tapi kalau disebutkan istikamah itu harus selalu itu positif karena disebutkan istaqama yastaqimu istiqamatan mustaqim misalnya. Ihdinas shiratal mustaqim, jalan yang lurus itu positif. Jalan lurus itu apa? Jalan disebut jalan lurus itu apa? Jalan yang mengantarkan pada tujuan, jalan yang juga dekat dengan tujuan. Itu namanya jalan yang lurus. (00:05:35)

Saya kalau dari sini mau ke Jakarta arahnya mana? Ke utara. Iya, iya, ke utara. Kalau mau ke Jakarta kita ke selatan, bisanya nyampai gak? Enggak nyampai, enggak nyampai, makin jauh. Iya, menjauh. Kalaupun harus nyampai itu muter dulu. Iya, ke Bogor, ke… Masukapi, balik ke Jakarta. Dia jalannya jauh dan makin bisa jadi enggak nyampai pada tujuan. (00:05:55)

Kenapa ketika lurus begitu, mustaqim? Orang yang mustaqim, orang yang lurus, ya itu adalah orang yang menapaki jalan yang lurus istikamah itu. (00:06:12)

[Pembawa Acara]:

Ada lagi pertanyaan dari saudara Najib Abdul Qawi: Pak Kiai, kebanyakan umat Islam sulit bisa istikamah, terutama ketika dirayu dunia. Bagaimana kita bisa kuat menghadapinya? Nah, ini kan suka diiming-imingi. Iya. (00:06:35)

[Ustaz Rokhmat S. Labib]:

Keyakinan… ee… tergantung pada tingkat keyakinannya sebenarnya. Apakah keyakinannya itu dengan keyakinan yang kuat. Dia misalnya kalau misalnya gini: orang itu kalau orang muslim ditanya tentang yakin gak kamu dengan surga? Yakin gak? Ada yang mengatakan kami gak yakin? Berarti sebenarnya itu yakin, mereka beriman. (00:06:57)

Mereka tidak meragukan surga itu beriman. Gak dengan hari kiamat? Mereka mengatakan beriman. Tidak ada yang berani mengatakan… ee… tidak ada… tidak ada hari kiamat, gak ada neraka, gitu. Mereka yakin berarti iman, tidak ada ragu, gak gak ragu, pasti ada. Hm. Nah, cuman kalau kita lihat ada tingkatan keyakinan itu kuat dan lemahnya itu. (00:07:28)

Jadi makin kuat seseorang itu, berarti dia bisa menggerakkan dirinya untuk menghadapi resiko ketika… ee… keyakinannya itu berhadapan dengan realitas yang buruk bagi dirinya. Eh begini contohnya, ya. Katakanlah misalnya… ee… sudah ini, orang ini ada air. Karena air putih ini enggak kelihatan ada racunnya, tapi kita yakin ini ada racunnya. (00:08:07)

Hm. Keyakinan itu membuat kita gak berani minum. I… gitu. Tapi kalau keyakinan kita itu gak terlalu kuat, maka bisa lagi kita minum. Kenapa? Kata tadi disebutkan ter… orang kemudian terbelokkan dengan kenikmatan dunia berarti apa? Dunia lebih enak daripada akhirat. Lebih nikmat. (00:08:33)

Maka dalam Quran disebutkan banyak sekali itu tentang kenikmatan surga itu… ee… khairu wa abqa, ya. Ee lebih baik, iya, dan lebih kekal. Khairu wa abqa, ya, lebih baik lebih kekal. Ini penting keyakinan seperti itu. (00:08:58)

Misalnya kenapa sih orang mau meninggalkan sesuatu, mengambil suatu yang lain? Saya antum punya uang, mengapa antum berikan kepada tukang warung? Ngasih. Berarti antum pada saat itu punya keyakinan punya nasi lebih baik daripada uang, maka antum berikan uang itu, antum dapatkan nasi. (00:09:19)

Nasi sebaliknya penjual warung tadi kenapa dia berikan nasi dan dia ambil uangnya? Ketika dia mengata… dia menganggap bahwa nas… apa uang lebih enak, lebih bagus daripada nasi. Jadi kenapa orang membuang kenikmatan surga, kenikmatan akhirat karena kenikmatan dunia itu lebih baik daripada itu? Maka disebutkan khairu wa abqa, khairun lebih baik. (00:09:52)

Jadi antum punya keyakinan apa sih dunia? Punya istri? Maka Allah mengatakan “Lahum fiha azwajun muthahharah”. Nah, di dalamnya ada istri yang disucikan. Sucikan perilakunya, sucikan badannya, ya. (00:10:07)

Di dunia coba kalau kita lihat ya namanya istri itu manusia, anda bisa jadi kelemahan-kelemahan hal yang tidak suci pada dirinya. Ada bisa jadi rasa apa namanya rasa hasad segala macamnya, iya. Maka disebutkan kalau kamu punya istri yang lahum… eh… fiha azwajun muthaharah wahum fiha khalidun. Dan mereka di dalamnya kekal. (00:10:40)

Apa sebab yang dimakan misalnya Allah Subhanahu wa taala tadi memberikan lebih enak? Bahkan disebutkan di dalamnya… eh“Walakum fiha ma tastahi anfusukum”. Apa yang kamu apa namanya kamu sukai di jiwamu. (00:11:00)

Coba kalau kita lihat dalam kenikmatan dunia, coba kita perhatikan apa kenikmatan dunia itu yang paling enak apa? Makan. Makan yang paling lezat. Tapi kita ingat makan yang lezat itu bisa jadi punya pengaruh negatif ketika kita makan. Hm. Jadi meningkan sakit, ya? Diabet, terus apalagi itu ya, e strok, darah tinggi, stroke segala macam. Akhirnya kita tidak mau makan itu walaupun enak. (00:11:27)

Nah, keyakinan seperti ini harus kita miliki bahwa sebenarnya gak ada apa-apanya meski itu enak, gitu. Demikian juga disebutkan rumah di surga. Rumah di dunia itu apa sih? Maka dalam banyak hadis itu diberikan penjelasan bagaimana kenikmatan-kenikmatan akhirat supaya apa? Supaya orang tidak tergiur dengan kenikmatan dunia tadi. (00:11:45)

Sebaliknya diberitakan juga tentang dahsyatnya neraka supaya apa? Supaya orang tahu, ya supaya tidak… ini memang enak riba, tapi ingatlah riba membuat kamu jatuh dalam neraka yang neraka itu jauh lebih dahsyat. Saya mendapatkan bunga karena sepuluh persen, tapi apa misalnya lima persen, sepuluh persen apa kemudian hasilnya kamu dapat uang sepuluh persen tapi kamu akhirnya dibakar dalam neraka? (00:12:14)

Maka tidak lagi… tidak lagi merasa… tidak lagi merasa senang dengan melakukan itu. Jadi sebenarnya kalau disebutkan menjadi tergiur dengan kenikmatan dunia tadi itu sebenarnya kembalikan kepada keimanan. Hm. Jadi keimanan itu yang harus dikuatkan dan ketika dikuatkan itu maka usahakan tinggalkan. (00:12:45)

Maka Allah akan berikan rasa lezat dalam diri kita untuk meninggalkan kemaksiatan dan… ee… hal yang buruk tadi. Saya kira itu yang dapat disampaikan. (00:12:45)

[Pembawa Acara]:

Baik Ustaz. Pertanyaan terakhir Ustaz, ini sebagai penutup ada pertanyaan dari nampaknya dari aktivis dakwah ini, dari Saudara Harun Al-Rasyid. Jadi beliau bertanya: “Ustaz bagaimana tips agar istikamah dalam dakwah?” Nah… ee… (00:13:10)

[Ustaz Rokhmat S. Labib]:

Iya banyak ya… ee… tip-tip itu seperti tadi saya katakan. Satu misalnya menjaga keimanan tadi, terus meningkatkan. Yang kedua tentu saja… ee… mengerjakan, diamalkan dalam… diamalkan. Hmh. Ee diamalkan dalam bentuk perbuatan karena ke perbuatan itu ketika dikerjakan, amal s… dikerjakan itu akan menimbulkan semangat untuk mengerjakan lagi. Hm. (00:13:40)

Katakanlah saya ingin berikan contoh salat. Salat itu kan apa enaknya salat bagi orang yang gak pernah salat? Gak merasakan lezatnya salat. Hm. Betul. Tapi kalau orang mengerjakan salat itu maka menjadi nikmat salat itu. Allah berikan kenikmatan akhirnya menjadi istikamah tadi. (00:13:58)

Dakwah tadi kalau disebut dengan dakwah misalnya apa nikmatnya dakwah itu? Capek, capek saja enggak ada uangnya, gitu. Tapi kalau dikerjakan ada rasa lezat kelezatan Allah Subhanahu wa taala berikan kepada dada kita, maka dapatlah kenikmatan itu. Maka menjadi makin aktif, makin kuat begitu ya. (00:14:20)

Lalu demikian juga jihad. Apa sebenarnya nikmatnya jihad? Enggak ada secara fisik, capek, bahkan kemudian harus bertaruh dengan nyawa, enggak ada nikmatnya secara fisik. Maka orang yang melihat secara fisik dia kan tidak dakwah. (00:14:31)

Tapi ketika dia yakin lalu kemudian dikerjakan Allah berikan rasa nikmat sampai siapa namanya… ee… Walid, Khalid bin Walid mengatakan, “Ya sungguh,” kata dia, “Berkemah di malam hari yang dingin lebih aku sukai daripada menjadi pengantin.” Ya atau dikabarkan bayi laki-laki. Coba bayangkan sampai seperti itu menjiwainya. (00:15:03)

Jadi maka kalau ingin istikamah: kerjakan. Kerjakan, Allah Subhanahu wa taala… ee… akan memberikan rasa lezat itu kepada dirinya, gitu. Nah yang ketiga, tentu saja untuk istikamah itu butuh kelompok, butuh teman, lingkungan yang sama-sama… sama-sama istikamah. (00:15:26)

Ada… ee… dalam hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam itu menceritakan tentang orang di zaman… ee… ee… Bani Israil, orang zaman dulu ya. Dalam satu hadis ceritakan bahwa dia telah membunuh orang seratus orang, ya. Ketika dia tanya kepada… ee… apa namanya… sembilan puluh sembilan tanya kepada ahli ibadah: apakah bisa diampuni? Enggak, bunuh bisa seratus orang. (00:15:53)

Datang lagi kepada ahlil ilmu: bisa, kata dia. Dengan syarat kamu pindah dari kampungmu ke kampung yang lain. Kenapa? Kalau dia balik ke kampung ya ketemu teman-temannya lagi, ketemu teman bandit dan kalau sebelumnya bandit, bandit lagi. Kalau sebelumnya bertemu dengan narkoba, narkoba lagi. (00:16:12)

Walaupun dia sudah sadar datang ke Makkah sana untuk haji, begitu balik teman-temannya koruptor semua ya balik lagi dia. Jadi maka perbarui lingkungan, ya… ee… berteman… ee… orang-orang yang istikamah. Yang kadang kan kita gini kan, teman itu menjadi cermin kita. (00:16:36)

Kalau kita misalnya biasa salat lalu kemudian melihat teman kita gak salat kita merasa apa? Wah sudah hebat saya. Tapi kalau kemudian kita teman kita kita baru salat lima waktu, teman kita tahajud salat rawatib salat tahajud, waduh saya merasa kurang. (00:16:52)

Kalau kita mungkin berteman orang-orang bodoh mungkin wah pintar sendiri saya. Begitu kita berteman dengan ulama yang ahli ilmu, waduh saya masih jauh. Demikian juga kalau kita mungkin bertemu orang… ee… hidup gak ada dakwahnya kita merasa masyaallah. (00:17:09)

Tapi begitu kita bertemu dengan orang yang mengghibahkan hidup mereka untuk dakwah, kita berhasil merasa kecil: waduh saya belum apa-apanya. Maka ini juga menjaga untuk istikamah tadi. Jadi itu lingkungan, teman, segala macam itu… ee… juga berpengaruh ya. (00:17:27)

Kalau kita menjadi… kalau kita berpikir negara, maka negara itulah yang sebenarnya akan menciptakan orang istikamah. Hm. Jadi memang ini gak… ini kalau kita bicara istikamah ini gak bisa diserahkan juga kepada individu, harus… harus negara yang melakukan. (00:17:45)

Coba bayangkan misalnya para jemaah pada saat salat Jumat disebutkan ittaquillah, ittaqu, bertakwa kepada Allah Subhanahu wa taala. Begitu keluar dari masjid apa yang dilihat? Kemaksiatan, temannya korupsi semua, kemudian sistem yang berlaku juga bukan sistem yang membuat dia taat. (00:18:00)

Kalau dia hakim dia memutuskan dengan hukum selain Allah Subhanahu wa taala dan seterusnya dan seterusnya. Jadi ini juga kalau kita lihat memang diperlukan ini, gitu ya. Istikamah untuk itu walaupun tentu kita tidak bisa mengatakan dan tidak boleh mengatakan wah negaranya wajarlah kita bisa begini. Gak! Justru kita berjuang untuk mengubah negara yang menjaga orang istikamah. (00:18:28)

Nah kalau kita bicara tentang waman ahsanu mimallah itu menjadi lebih dahsyat lagi. Berarti kita tidak hanya berbicara tentang istikamah diri kita, tapi kita juga berbicara bagaimana orang lain istikamah. Lebih dasar lagi bagaimana orang lain bisa beriman, bagaimana orang bisa istikamah. (00:18:48)

Dan itu negara yang menjamin. Caranya apa? Caranya itu melarang berbagai macam kemaksiatan. Kalau misalnya sekarang kan udah ada orang mengeluh apa? Kalau keluannya… kelunya itu kan jangankan yang hal… halal, yang haram saja sulit. Maksudnya yang halal itu gak ada penghasilan itu yang ada itu haram, haram, haram itu pun susah dicari, iya. (00:19:07)

Jadi yang haramnya susah apalagi yang halal, gitu loh. Nah sekarang coba bayangkan kalau negara itu melarang semua yang haram? Sing riba dilarang, judi dilarang, suap-menyuap dilarang, segala apa namanya segala muamalah dilarang Islam dilarang oleh negara, pelakunya tangkap hukum. (00:19:29)

Apa yang terjadi? Enggak ada orang judi, enggak ada orang suap-menyuap, enggak ada orang minum khamer, enggak ada orang yang menjual yang halal haram-haram tadi termasuk riba. Apa yang terjadi? Jadi betul-betul sulit mencari yang haram yang ada kok halal, kok halal, kok halal, semuanya halal. Iya nggih. (00:19:55)

Termasuk untuk dakwah lebih kondisi. Nah jadi begitu ini kalau kita pikir ini juga kadang-kadang perlu juga kita menjelaskan istikamah ini bukan sekedar bagaimana kita secara pribadi istikamah, tapi kita juga menjelaskan kepada umat bagaimana bentuk negara yang negara itu melahirkan orang-orang istikamah. (00:20:14)

Sistem pendidikan yang membuat anak-anak beriman dan istikamah gimana? Sekarang pendidikan misalnya contoh iya pendidikan kenapa kemudian anak gak istikamah? Generasi kita gak istikamah, gak beriman dan tidak beristikamah ya karena memang pendidikannya disetel begitu. (00:20:36)

Orang mendidik itu kan karena apa mendidik itu kan mewariskan kita kepada generasi berikutnya. Apa yang diwariskan? Apa yang kita anggap paling penting. Misalnya antum, kita sebagai seorang muslim misalnya, kita tidak pernah mungkin tidak mempersoal anak kita kerja apa. Yang kita persoalan adalah gimana akidahnya, kan begitu iya. Berarti kita itu mementingkan akidah. (00:21:04)

Kalau mementingkan akidah dia persoalkan misalnya mereka kerja apa tapi mereka tetap dalam keadaan muslim dalam keadaan apapun berarti kalau kita bicara pendidikan, pendidikan apa ini? Kan akidah ini. Tapi kan ini sekarang tidak dianggap penting gimana bisa menjadi pribadi yang istikamah? Ha… karena pendidikan juga mencetak melahirkan itu. (00:21:25)

Begitu kalau kita lihat ya memang jadi apa namanya Islam itu mengajarkan bukan sekedar individu tapi juga negara ini yang punya tanggung jawab justru membentuk ini. Kalau kita lihat negara itu membangun pendidikan yang apa tadi yang saya katakan. (00:21:43)

Kalau negara itu berdasar menjadikan Islam pasti yang diwariskan dalam pendidikan adalah Islam itu sendiri. Jadi pendidikan tentang keislaman mulai dari kecil, ya sampai dewasa dijaga oleh mereka. Jadi kalau pertanyaan tadi kenapa kita sulit istikamah? Ya sistem yang melingkupi kita ini memang tidak islami. (00:22:04)

I… dan kalau kita lihat juga dalam Islam itu memang orang Islam itu tidak memaksa orang untuk masuk Islam, tapi Islam memaksa sistem agar Islam begitu. Apa buktinya? Orang kafir tidak dipaksa masuk Islam… eh“La ikraha fid din”“Wa man sya’a falyu’min wa man sya’a falyakfur”. (00:22:45)

Berarti berhenti perang kalau mereka menjadi kafir dzimmi. Kafir dzimmi itu apa? Kafir yang hidup dalam negara Islam. Jadi dia tidak dipaksa masuk Islam tetapi lingkungan dia lingkungan yang Islam. Dan dia ketika lingkungan Islam dia tidak boleh misalnya meskipun dia kafir gak boleh judi, enggak boleh riba, enggak boleh melakukan transaksi kemudian mengganggu kaum muslimin. (00:23:16)

Jadi kaum muslimin aman, dia sendiri juga aman begitu sebenarnya. Maka dia akan melihat betapa indahnya Islam, i… gitu. Baik jazakumullah khair Ustaz dan tentu kalau ingin istikamah yang tidak kalah pentingnya: minta kepada Allah. Hm. (00:23:38)

Allahummarzuqnal istiqamah, ya Allah berikan kami rezeki berupa… berikan istiqamah rezeki. Allahummarzuqnal istiqamah. Ini penting untuk kita minta Allah. Bahkan segala sesuatu minta pada Allah. Salullaha, minta kepada Allah apapun segala sesuatu minta pada Allah termasuk minta agar mendapatkan istikamah. (00:23:58)

Karena harta yang paling penting itu istikamah ini. Enggak ada gunanya dakwah, iman seumur hidup lima menit mati apa gunanya? Apa gunanya beramal saleh seumur hidup menjelang meninggal dia tidak mengerjakan itu? Maka kita minta, pastikan minta pada Allah Subhanahu wa taala. Ya Allah istikamah sampai mati termasuk dakwah berjuang istikamah jangan sampai menjadi alumni, ya atau keluar dari barisan dakwah sebelum kematian datang. Begitu, cukup Ustaz? (00:24:35)

[Pembawa Acara]:

Baik terima kasih. Baik terima kasih Pak Kiai ee yang sudah menguraikan tentang istikamah panjang lebar. Kesimpulannya istikamah ini secara individu kita laksanakan, tapi itu akan… ee… terjaga kalau kita berada dalam lingkungan yang… ee… kondusif. (00:24:58)

Dan lingkungan yang paling kondusif membuat istikamah itu pengaruh besar adalah kalau negara yang menjaga istikamah dari masyarakat. Termasuk tadi pertanyaan terakhir dari pemirsa supaya dalam dakwah istikamah akan mudah itu apabila negara berdakwah, negara menjaga istikamah di tengah-tengah masyarakat. (00:25:22)

Dan jangan lupa kita selalu berdoa kepada Allah agar kita dijaga bisa istikamah hingga hari akhir, hingga akhir hayat kita. Terima kasih kepada jemaah yang sudah hadir di studio dan para pemirsa di mana Anda berada. Insyaallah kita akan bertemu lagi di pertemuan mendatang. Akhirul kalam wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. (00:25:41)

[Ustaz Rokhmat S. Labib]:

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. (00:25:41)