1. Membaca Pemikiran Akidah Imam Muhammad Taqiyyuddin An Nabhani ra dan murid-muridnya ha harusnya gunakan teori Qot’i dan Dzonni, sebagaimana kita membaca Pemikiran Ulama Aswaja (Asyairoh Maturidiyah). Tanpa gunakan teori Qot’i dan Dzonni kita bisa terpapar gaya pemikiran Kelompok Takfiri, baik takfiri dari salafi maupun takfiri dari asyari. Kelompok Ahbasy adalah di antara Kelompok Takfiri yang banyak mengajarkan kitab-kitab Asyairoh.

  2. Teori Qot’i/Tasdiq Jazim dalam mendefinisikan akidah bukan hanya disebutkan oleh Imam Al-Jurjani ra dalam mendefinisikan akidah, sebagaimana dikutib Syaikhul Azhar Ahmad At Toyyib ha (sila baca ibarohnya di https://t.me/SantriGarisLurus ), akan tetapi juga didefinisikan oleh Imam Al Ghozali ra dalam kitabnya Iljamul ‘Awam ‘an ‘Ilmil Kalam , beliau ra mengatakan:

والإيمان: عبارة عن تصديق جازم لا تردد فيه, ولا يشعر صاحبه بإمكان وقوع الخطأ فيه.

“Iman: Bentuk Ungkapan Pembenaran Secara Pasti yang tidak ada keraguan di dalamnya, dan tidak terbersit adanya kemungkinan salah dalam keimanannya.”

Kesamaan dalam mendefinisikan akidah inilah, maka status An nabhani ra berada dalam rel/jalan/manhaj yang sama dengan ulama Aswaja lainnya seperti Imam Al Jurjani ra dan Imam Al ghozali ra.

  1. Tasdiq Jazim/ pembenaran pasti atau 100% adalah sikap kita atas isu yang memiliki Dalil Qot’i. dan Tasdiq Dzonni/ Pembenaran tidak 100% dalam meyikapi isu yang yang tidak memiliki dalil Qot’i.

Contoh Tasdiq Jazim/ Percaya 100%, seperti kita percaya bahwa diri kita ini ada (wujud), tidak ada keraguan sedikitpun atau kurang 1%. Dari dalil/ bukti kita ada 100%, kita lanjutkan berpikir “Siapakah yang ciptakan diri kita ini?” Diri kita sendiri atau di luar kita?

Jawabannya: 100% diciptakan dzat di luar diri kita, karena kita 100% sadar bahwa kita ini mustahil ciptakan diri kita sendiri. Islam mengenalkan Allah lah yang ciptakan kita. Allah SWT berfirman:

وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ (الذاريات: 21)

“(Begitu juga ada tanda-tanda kebesaran-Nya) pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan?”

Demikianlah cara mengimani Allah SWT wujud (ada) 100%, tanpa ada keraguan sedikitpun.

Dan Iman atas isu Hari Kiamat adalah Tasdiq Jazim karena disebutkan dengan dalil yang Qot’i yaitu Al Quran. Adapun rincian daripada hari kiamat yang disebutkan oleh hadis-hadis Ahad maka sikap kita wajib Tasdiq Ghoiro Jazim/ Tasdiq Dzonni dan tidak boleh mengingkarinya.

Inilah jalan Aswaja, dengan manhaj ini kita akan jauh dari gaya berpikir takfiri/ tukang sesatkan orang bahkan ulama. Syaikhul Azhar Ahmad At Toyyib ha-ketika membantah Rektor Universitas Kairo Mesir- mengatakan:

ليس الأشاعرة – كما تفضلت-يقيمون عقيدتهم على أحاديث الآحاد

“ Tidaklah Ulama Mazhab Asyari – sebagaimana tuduhan anda- membangun akidah mereka dengan Hadis-hadis Ahad.” Sila simak http://surl.li/uibid

Apakah -berarti- Mazhab Asyari tidak percaya Hadis-hadis Ahad?

Jawabannya: Percaya/ Tasdiq Ghoiro Jazim/Itsbat.

Kalau kita tidak gunakan teori Qot’i -Dzonni dan sikap atas keduanya maka kita akan katakan bahwa Ulama Asyairoh itu sesat karena tidak membangun akidah dengan hadis ahad. Dan ini yang dilakukan sebagian teman-teman salafi melalui sikap mereka tidak mau/ ogah bahkan menolak keras pembagian dalil menjadi Qot’i-Dzonni bahkan menolak pembagian hadis menjadi mutawatir dan ahad.

  1. Kalau kita mau buka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), maka percaya artinya mengakui atau yakin bahwa sesuatu memang benar atau nyata. Contoh kalimat: “percaya kepada ceritanya” artinya mengakui atau yakin kepada ceritanya.

Percaya atau yakin dalam bahasa Indonesia masih Umum, bisa percaya 100% dan bisa juga di bawah 100%. Percaya 100% ini dikenal dengan sikap Tasdiq Jazim atas isu-isu yang memiliki dalil Qot’i sebagaimana disebutkan dalam buku-buku Asyairoh Maturidiyah. Sedangkan percaya di bawah 100% dikenal dengan sikap Tasdiq Dzonni atas isu yang memiliki Dalil Dzonni.

Qot’i dan Dzonni merupakan bentuk Itsbat, sehingga kalau kita mau mengkoneksikan antara makna percaya dalam bahasa Indonesia dengan Pemikiran Akidah dalam kitab-kitab Asyairoh Maturidiyah (termasuk An Nabhani ra) lebih tepat dengan Istilah “Itsbat” dalam bahasa arab, yang memiliki arti menetapkan, mengakui, atau percaya.

Apakah Ulama Asyairoh Itsbat/ percaya Khobar Ahad? Maka Jawabannya: Itsbat/ mengakui/ percaya, hanya saja tidak 100%, begitu juga dengan An Nabhani ra dan Ulama Azhar Mesir yang lain. Sehingga ketika ada pihak yang menolak, mendloifkan Khobar Ahad kita tidak langsung mengkafirkan mereka.

Bagaimana dengan Isu Azab Kubur?

  1. Imam Abul Hasan Al-Asyari ra sudah menginformasikan bahwa isu Azab Kubur ini adalah isu Dzonni/Ijtihadi sehingga sikap kita haruslah Toleran (Tasamuh). Beliau ra mengatakan dalam kitab Maqolat al Islamiyyin:

وا ختلفوا في عذاب القبر:

  • فمنهم من نفاه، وهم المعتزلة و الخوارج

  • و منهم من أثبته، وهم أكثر أهل الإسلام

  • و منهم من زعم أن الله ينعم الأرواح و يؤلمها، فأما الأجساد التي في قبورهم فلا يصل ذلك إليها وهي في القبور

“(Umat Islam) berbeda/ Ikhtilaf dalam isu Azab Kubur: 1. Pihak yang menafikan, seperti Muktazilah dan Khowarij, 2. Pihak yang menetapkan/ percaya, dan ini yang mayoritas, 3. Pihak yang meyakini bahwa ruh itu diberi nikmat dan disiksa, adapun fisik yang di dalam kubur tidak mengalami.”

An-Nabhani ra dan murid-muridnya berada di pihak mana dalam isu ini? Pastinya ada di pihak kedua, yaitu Itsbat/ percaya, tentu tidak Itsbat 100% sebagaimana kesepakatan Ulama Asyairoh bahwa Khobar Ahad tidak berfaidah ilmu/ yakin. Dr Muhammad Solah Taqwa ha mengatakan dalam kitab beliau manhajul asyairoh:

وبهذا الاستعراض السريع يتبين اتفاق الأشاعرة على أن خبر الآحاد لا يفيد منفردا إلا الظن

An-Nabhani ra melarang kita mengingkari Khobar ahad, beliau ra mengatakan dalam kitab Asy-Syakhshiyah juz 1:

و خبر الآخاد لا يفيد قطعا ولا جزما، و إنما يفيد ظنا، ولا يكفر منكره، ولكن لايجوز أن يكذب، لأنه جاز تكذيبه لجاز تكذيب جميع الأحكام الشرعية المأخوذة من الأدلة الظنية، و لم يقل بذلك أحد من المسلمين.

“ khobar ahad itu tidak berfedah kecuali Dzonni, tidak kafir pihak yang mengingkari, akan tetapi tidak boleh didustakan. Sekiranya boleh mendustai (khobar ahad) maka boleh juga mendustai seluruh hukum-hukum islam yang diambil dari jalan Dzonni, dan tidak satu pun umat islam berpendapat seperti itu.”

Kalau kita membaca pemikiran ulama aswaja dengan teori Qot’i-Dzonni dan sikap atas keduanya maka tidaklah mudah bagi kita mengeluarkan Ulama dari barisan Aswaja, apalagi mengeluarkan dari barisan Umat Islam. Naudzubillah.

Tidak mungkin kita langsung sesatkan Syaikh Mutawalli Asy-Sya’rowi ra melalui pernyataannya bahwa tidak ada siksa kecuali setelah hari penghisaban, apalagi sampai keluarkan beliau ra dari barisan umat islam. Beliau ra katakan:

لا عذاب إلا بعد الحساب

“Tidak ada siksa kecuali setelah hari penghisaban.”

Kalau kita membaca ibaroh Syaikh Mutawalli Asy-Sya’rowi ra di atas, maksudnya adalah tidak ada dalil qot’i siksa kecuali siksa setelah hari hisab. Apakah beliau tidak percaya/ Itsbat hadis-hadis siksa kubur?

Jawabannya: tentu Itsbat/ percaya tidak 100% karena frasa azab kubur memang tidak disebutkan/mansus sebagaimana dalil hari kiamat.

  1. Adapun pihak yang sesatkan beliau ra adalah pihak yang tidak bisa membedakan mana Qot’i dan Dzonni, dan tidak memiliki teori sikap Tasdiq Jazim atau Tasdiq Ghoiro Jazim atas sebuah isu. Dan itu aliran yang berbahaya dan membahayakan persatuan umat islam.

  2. Saya menyayangkan tulisan M Aghits Amta Maula yang berjudul “Menyoal Pandangan Hizbut Tahrir tentang Azab Kubur” bisa dipublish di akun facebook An-najah Center Sidogiri pada tanggal 25 Mei 2024. Pasalnya ybs sangat lah gegabah dengan tidak membaca pemikiran An Nabhani ra dengan Ushul Akidah An-Nabhani ra bahkan sangat awam dengan referensi, buktinya ybs menyuguhkan referensi yang tidak pernah dikenal oleh murid-murid An Nabhani ra yaitu kitab Hizbut Tahrir Fikratuhu Wathariqatuhu Wa Sairuhu. Lebih dari itu, ybs mengklaim bahwa kitab tersebut dijadikan rujukan Hizbut Tahrir.

Ketika membaca pemikiran An Nabhani ra, Ybs tidak membedakan antara sikap Tasdiq Jazim dan Tasdiq Ghoiro Jazim layaknya teman-teman salafi yang tidak mau bedakan antara ta’thil dan tafwid.

Gaya berpikir ybs layaknya teman-teman salafi/ ahbasyi yaitu mudah sesatkan orang, bahkan ulama yang disebut Mujaddid oleh Ulama besar aswaja dunia dan murid syaikh Yasin Al fadani ra yaitu Syaikh Mahmud Said Mamduh ha.

Konon Lembaga Annajah Center Sidogiri ini, lembaga Penelitian milik pondok pesantren Sidogiri Pasuruan, -mudah-mudahan saya salah, karena kalau betul maka lembaga ini tidak teliti sesuai peruntukannya.

  1. Dalam konteks bahasa Indonesia, kata percaya lebih tepat maksudnya Itsbat/tasdiq dalam istilah bahasa arab, di mana Itsbat ini bisa berbentuk Qot’i maupun Dzonni. Kalau kita klasifikasikan dalil itu jadi qot’i dzonni dengan Sikap Tasdiq Jazim dan Tasdiq Ghoiro Jazim, Insya Allah kita tidak akan terpapar gaya berpikir takfiri. Wallahu a’lam