Lewat di reels saya sebuah video: seorang kader perempuan dari sebuah organisasi Islam internasional berjoget membanggakan organisasinya. Tidak berlebihan sih jogetnya, biasa saja.
Namun barangkali karena bahasanya khas, dengan istilah-istilah internal yang hanya akrab bagi mereka yang berada di lingkar itu, kolom komentarnya segera dipenuhi orang-orang yang mungkin tak saling mengenal, tetapi merasa seorganisasi. Mereka meninggalkan kalimat yang hampir seragam, antara “Sama dong kita!” atau “Kamu baru ya?”
Skala dan Jarak
Pada mulanya, organisasi adalah ruang yang sempit dan akrab. Orang saling mengenal bukan hanya nama, tetapi nada suara dan kebiasaan diam masing-masing. Keputusan lahir dari percakapan yang berulang, kadang dari perdebatan yang panjang, kadang hanya dari kesepahaman yang tak perlu banyak kata. Kepercayaan menggantikan prosedur. Kedekatan menggantikan verifikasi.
Lalu ia membesar.
Dan setiap pembesaran selalu membawa jarak.
Ketika anggota bertambah, cabang meluas, dan tanggung jawab melipat, organisasi tak lagi bisa berdiri hanya di atas ingatan personal. Ia membutuhkan sistem. Sistem memerlukan aturan. Aturan menuntut konsistensi. Di titik itu, relasi yang dulu lentur mulai menemukan batasnya.
Yang dulu bisa diputuskan karena “kita tahu orangnya”, kini harus dipertimbangkan karena “bagaimana jika yang lain mengalami hal serupa”. Skala memaksa organisasi memikirkan bukan hanya satu orang, tetapi banyak orang sekaligus. Keadilan dalam ukuran kecil bisa lahir dari intuisi. Keadilan dalam ukuran besar membutuhkan standar.
Standar tidak selalu dingin. Justru ia sering melindungi yang tak punya akses pada kedekatan. Tanpa standar, keputusan mudah condong pada yang paling dikenal. Tanpa prosedur, ruang bisa dikuasai oleh yang paling dekat dengan pusat. Maka birokrasi, sejauh ia dirancang dengan sadar, bukanlah penolakan terhadap kemanusiaan. Ia adalah upaya agar kemanusiaan tidak menjadi hak istimewa segelintir orang.
Namun tetap saja, jarak itu terasa. Sebab yang hilang bukan sekadar keluwesan, melainkan rasa diakui secara personal. Di organisasi kecil, seseorang merasa dilihat sebagai individu. Di organisasi besar, ia lebih sering hadir sebagai bagian dari kategori.
Di sinilah konsekuensi pertama itu berdiri. Untuk menjaga kepentingan yang lebih luas, organisasi membatasi improvisasi pada tingkat individu. Bukan karena ia tak peduli, tetapi karena ia tak lagi bisa bertumpu pada kedekatan sebagai dasar keputusan.
Jalur yang Tak Lagi Seragam
Pembesaran organisasi tidak hanya mengubah cara keputusan dibuat. Ia juga mengubah cara manusia dibentuk di dalamnya.
Dalam fase awal, jalan menuju kedewasaan biasanya tunggal. Mereka yang bergabung melewati tahapan yang relatif sama. Dari proses dasar menuju tanggung jawab yang lebih besar. Dari pengenalan nilai menuju penghayatan nilai. Pengalaman itu membentuk pola pikir yang sejenis. Cara memahami sejarah organisasi pun relatif serupa, karena mereka mengalaminya bersama.
Keseragaman proses melahirkan keserupaan karakter.
Ketika organisasi membesar, pintu masuk menjadi lebih banyak. Kebutuhan akan sumber daya mempercepat regenerasi. Ada yang masuk melalui proses lengkap. Ada yang datang dari pengalaman luar lalu langsung memegang peran penting. Ada yang mengenal nilai organisasi sebagai pengalaman hidup. Ada pula yang mengenalnya melalui dokumen dan pelatihan singkat.
Urutan tak lagi sama.
Di sini, perbedaan bukan hanya soal pendapat, tetapi soal cara menjadi. Ada yang memaknai disiplin sebagai hasil tempaan panjang. Ada yang melihatnya sebagai aturan administratif. Ada yang memandang organisasi sebagai rumah perjuangan. Ada yang melihatnya sebagai ruang kontribusi profesional.
Variasi ini bukan kesalahan. Ia konsekuensi logis dari skala yang membesar. Organisasi besar tak mungkin hanya dihuni oleh orang dengan riwayat pembentukan yang identik. Ia menjadi pertemuan banyak latar, banyak tempo kedewasaan, banyak cara memahami loyalitas.
Namun perbedaan itu membawa tantangan. Kesalahpahaman mudah muncul ketika pengalaman pembentukan tak sama. Generasi awal mungkin merasa ada standar yang mengendur. Generasi baru mungkin merasa beban masa lalu terlalu membayangi. Ketegangan sering kali bukan soal benar dan salah, melainkan soal perbedaan jalur yang pernah ditempuh.
Antara Nostalgia dan Keniscayaan
Ada kecenderungan untuk merindukan masa kecil organisasi. Masa ketika segalanya terasa lebih hangat, lebih cepat, lebih sederhana. Tetapi sering kali yang dirindukan bukanlah struktur yang lebih baik, melainkan skala yang lebih kecil. Luka yang dulu ada mungkin sama dalamnya, hanya saja dampaknya tak sejauh sekarang.
Organisasi kecil memang luwes, tetapi ia juga rentan eksklusif. Ia hangat bagi yang di dalam, namun belum tentu adil bagi yang belum dekat. Organisasi besar memang lebih prosedural, tetapi prosedur memungkinkan ruang yang lebih setara bagi yang tak punya kedekatan personal.
Maka persoalannya bukan memilih kecil atau besar. Persoalannya adalah kesadaran akan harga yang harus dibayar ketika memutuskan untuk membesar.
Konsekuensi organisasi membesar terletak pada dua hal sekaligus. Ia menukar sebagian keluwesan dengan stabilitas. Ia menukar keseragaman proses dengan keberagaman latar. Ia memperluas jangkauan, tetapi memperpanjang jalur keputusan. Ia membuka pintu lebih lebar, tetapi tak lagi bisa mengandalkan satu pola pembentukan saja.
Pertanyaannya kemudian bukan apakah organisasi masih sama seperti dulu. Ia memang tidak akan sama. Pertanyaannya adalah apakah di tengah sistem yang kian rapi dan anggota yang kian beragam, organisasi masih sadar akan alasan ia berdiri. Apakah nilai yang dulu dibangun melalui pengalaman kini dirawat melalui mekanisme yang lebih terencana. Apakah perbedaan jalur pembentukan dijembatani dengan dialog, bukan dengan saling curiga.
Menjadi besar adalah pilihan strategis. Memelihara makna di dalam kebesaran adalah pekerjaan yang tak pernah selesai.[]