Penulis: Najmah Saiidah

Penulis: Najmah Saiidah

Muslimah News, KELUARGA — Belakangan ini, ramai diberitakan di media sosial tentang fenomena ketakutan menikah pada kalangan Gen Z, terutama kaum perempuannya. Penyebabnya adalah banyak permasalahan yang menimpa keluarga, seperti, perceraian, perselingkuhan, dan sebagainya. 

Ini membuktikan bahwa mental generasi muda kita tidak sedang baik-baik saja. Di sisi lain, maraknya perselingkuhan membuktikan bahwa dalam kehidupan pernikahan terjadi kemaksiatan.

Kondisi ini tentu memprihatinkan. Kelompok yang satu takut untuk menikah, sedangkan kelompok lainnya justru mempermainkan pernikahan. Bagaimana sesungguhnya mereka memaknai sebuah pernikahan?

Dalam pandangan Islam, pernikahan merupakan kehidupan persahabatan antara suami dan istri sebagai persahabatan yang sempurna. Suami maupun istri dapat menikmati ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan yang mereka bangun bersama. Tentu saja dengan menjadikan akidah dan syariat Islam sebagai pijakan membangun rumah tangga. Bahkan dengan menikah, setiap muslim akan bisa menyempurnakan separuh agamanya, sebagaimana sabda Rasulullah saw.,

إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نَصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي

“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah kepada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR Al-Baihaqi).

Jika demikian halnya, apa yang harus ditakutkan? Pernikahan adalah hukum syarak yang diperintahkan Allah Taala. Ini artinya, jika dilaksanakan akan mendatangkan pahala. Yang harus dilakukan adalah mempersiapkan pernikahan dengan matang, menguatkan keimanan, membekali diri dengan pemahaman Islam yang benar tentang pernikahan, memilih pasangan sesuai perintah Allah, yaitu memilih karena agamanya, dan tentu saja melayakkan diri untuk mendapatkan pasangan saleh.

Lebih dari itu, jika kita menelusuri nas-nas, akan mendapati bahwa pernikahan merupakan ladang pahala bagi dua insan, baik laki-laki yang nantinya menjadi suami, maupun perempuan yang nantinya setelah menikah akan menjadi istri.

Pernikahan Adalah Ladang Pahala dan Surga bagi Seorang Istri

Dalam sebuah hadis diceritakan oleh sahabat Hushain bin Mihshan bahwa bibinya pernah mendatangi Nabi saw. untuk suatu keperluan. Setelah urusannya selesai, Nabi bertanya kepadanya, “Wahai fulanah sudah bersuamikah kamu?” “Sudah,” jawabku. Beliau bersabda lagi,“Bagaimana kewajibanmu terhadap suamimu?” Aku menjawab, “Aku melayaninya dengan sungguh-sungguh kecuali dalam hal yang aku tidak mampu.” Beliau bersabda lagi,“Bagaimana kedudukanmu darinya? Sesungguhnya, suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR Hakim).

Dalam riwayat lain, “Apakah kamu mempunyai suami?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau bertanya lagi, “Bagaimanakah sikapmu terhadapnya?” Ia menjawab, “Aku tidak pernah mengabaikannya, kecuali terhadap sesuatu yang memang aku tidak sanggup.” Beliau bersabda, “Perhatikanlah posisimu terhadapnya. Sesungguhnya yang menentukan surga dan nerakamu terdapat pada (sikapmu terhadap) suamimu.” (HR Ahmad).

Sesungguhnya di dalam hadis ini Rasulullah saw. menegaskan kedudukan suami di hadapan istrinya. Bahwa sesungguhnya, suami adalah ladang pahala bagi istrinya. Artinya, apabila seorang istri berbakti kepada suaminya, maka surga Allah akan selalu menantinya. Sebaliknya, jika seorang istri durhaka kepada suaminya, maka nerakalah ancamannya.

Hadis lain menegaskan juga tentang hal ini, “Sekiranya aku boleh memerintahkan seseorang sujud kepada orang lain, maka akan aku perintahkan seorang istri sujud kepada suaminya. Sekiranya seorang suami memerintahkan istrinya untuk pindah dari gunung Ahmar menuju Gunung Aswad, atau dari Gunung Aswad menuju gunung Ahmar, maka ia wajib untuk melakukannya.” (HR Ibnu Majah).

Amalan yang Bisa Membawa Istri kepada Pahala dan Surga Allah

Sungguh, Islam memang luar biasa. Akad pernikahan yang dilakukan oleh seorang laki-laki muslim kepada wali seorang perempuan, selain bernilai ibadah, juga bernilai pahala. Bahkan, Allah akan menghadiahkan surga bagi mereka yang menikah. Tentu saja jika keduanya menjalani kehidupan pernikahannya sesuai syariat Islam.

Mari menadaburi nas-nas yang berkaitan dengan hal ini.

Pertama, mencintai pasangan karena Allah akan membawa kepada surga. 

Perasaan tulus karena Allah akan membawa seseorang pada kemurnian cinta. Rida Allah lebih berharga dari segalanya, sehingga ia akan tulus mencintai pasangannya karena Allah Taala. 

Umat muslim yang berbuat demikian, kelak akan diberikan hadiah oleh Allah Swt. berupa surga. Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw. bersabda,“Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai, kamar-kamarnya di surga nanti terlihat seperti bintang yang muncul dari Timur atau bintang Barat yang berpijar. Lalu ada yang bertanya, “Siapa mereka itu?” “Mereka itu adalah orang-orang yang mencintai karena Allah Azza wa Jalla.” (HR Ahmad).

Makin jelas bahwa saling mencintai karena Allah, baik amal dan akhlaknya, akan membawa kepada cinta yang hakiki. 

Rasulullah saw. bersabda, “Tiga hal, apabila ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia merasakan betapa manisnya iman; apabila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibandingkan selain dari keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya, kecuali karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dirinya bagaikan kebenciannya apabila hendak diceburkan ke dalam kobaran api.” (Muttafaqun ‘alaih).

Kedua, taat kepada suami akan berbuah surga. 

Banyak sekali nas yang memerintahkan seorang istri untuk taat kepada suaminya. Tidak hanya itu, Allah juga akan memberikan pahala yang besar, bahkan Rasulullah saw. menjanjikan sesuatu yang paling menggiurkan, yaitu ia bisa masuk surga melewati pintu yang mana saja. Masyaallah.

Rasulullah saw. bersabda, “Apabila seorang istri melaksanakan salat lima waktu, puasa Ramadan, menjaga kehormatannya, dan menaati suaminya, maka dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu yang mana saja.‘” (HR Ahmad).

Seorang istri wajib menaati suaminya dalam seluruh perintah dan keinginannya, selama bukan berbuat dosa atau maksiat kepada Allah Swt., karena hak Allah Swt. lebih agung dari hak siapa pun. Oleh karenanya, menaati Allah harus lebih didahulukan dari siapa pun selain-Nya.

Ketiga, selalu mengharapkan rida suami. 

Rasulullah saw. bersabda, “… Dan maukah aku tunjukkan kepada kalian perempuan ahli surga? Yaitu setiap istri yang penuh cinta kepada suami, serta penyayang kepada anaknya, yang ketika suaminya marah kepadanya ia berkata, ‘Inilah tanganku berada di tanganmu. Aku tidak bisa tidur memejamkan mata hingga engkau rida kepadaku.‘” (HR An-Nasa’i).

Dari Ummu Salamah ra., ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ

“Perempuan mana saja yang meninggal dunia, lantas suaminya rida padanya, maka ia akan masuk surga.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Rida suami yang saleh terhadap istrinya akan membawa sang istri kepada surga-Nya. Sebaliknya, ketidakridaan seorang suami terhadap istrinya akan membawa sang istri kepada neraka-Nya. 

Al-Munawi rahimahullah berkata, “Suami adalah sebab yang memasukkan istri ke surga karena ridanya kepada istrinya dan sebab yang memasukkan istri ke neraka karena kemarahannya. Oleh karenanya, perbaguslah mempergaulinya dan janganlah menyelisihi perintahnya yang bukan maksiat kepada Allah.” [Faidhul Qodir, 3/78]

Keempat, melayani suami sepenuh hati. 

Dalam sebuah hadis diterangkan bahwa perempuan baik yang disebut Rasulullah saw. adalah ia yang memberikan pelayanan kepada suaminya sebaik mungkin. Perempuan tersebut akan menjadi contoh teladan umat yang salihah dan sosok terbaik di mata Allah Swt., Rasul-Nya dan suaminya. 

Rasulullah saw. pernah bersabda, “Perempuan terbaik yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, menaati suami jika diperintah, tidak menyelisihi pada diri dan hartanya, melayani suami sebaik mungkin, dan menjauhkan suami dari benci.” (HR Ahmad). 

“Seorang suami yang pulang ke rumah dalam keadaan gelisah dan tidak tenteram, kemudian sang istri menghiburnya, maka ia akan mendapatkan setengah dari pahala jihad.” (HR Muslim).

Kelima, perempuan yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga, pahalanya setara dengan laki-laki berjihad. 

Seorang istri yang melakukan pekerjaan rumah tangga dengan penuh keikhlasan adalah muslimah istimewa. Ini karena semua pekerjaan rumah tangga yang dikerjakannya, pahalanya setara dengan upaya para mujahidin di jalan Allah Taala.

Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis, Anas bin Malik ra. mengatakan bahwa beberapa perempuan pernah mendatangi Rasulullah saw.. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, para lelaki mempunyai keistimewaan dapat pergi berjihad di jalan Allah, sedangkan kami tidak punya pekerjaan yang pahalanya setara dengan para mujahidin di jalan Allah.” Setelah mendengar penuturan para perempuan itu, maka Rasulullah saw. bersabda, “Pekerjaan rumah tangga seorang di antaramu, pahalanya setara dengan jihadnya para mujahidin di jalan Allah.”

Keenam, berhias untuk suami. 

Seorang istri salihah yang mencintai suaminya akan berusaha merawat dirinya untuk menyejukkan pandangan mata suami sehingga suami tidak memandang perempuan lain yang bukan haknya. 

Ia berhias ketika di rumah dan pada saat berada di samping suaminya. Ia memakai parfum yang menghangatkan penciuman suaminya, tetapi ia tidak memakainya ketika keluar rumah. Seorang istri yang berhias untuk suaminya bernilai ibadah. Seorang istri bisa berhias untuk suaminya kapan saja, sejauh tidak menyebabkan kewajibannya terlalaikan.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah disebutkan, “Pernah ditanyakan kepada Rasulullah saw., “Siapakah yang paling baik?” Jawaban beliau, “Yaitu, yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, menaati suami saat diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR An-Nasa’i).

Ketujuh, menunjukkan cinta kepada suami saat di dekatnya. 

Seorang istri hendaknya senantiasa menunjukkan rasa cintanya kepada suami, apalagi saat suami di dekatnya. Sebab, salah satu tujuan berumah tangga adalah untuk membentuk keluarga yang saling mencintai. 

Rasulullah saw. bersabda, “… Dan maukah aku tunjukkan kepada kalian perempuan ahli surga? Yaitu, setiap istri yang penuh cinta kepada suaminya, serta penyayang kepada anaknya, yang ketika suaminya marah kepadanya, ia berkata, ‘Inilah tanganku berada di tanganmu. Aku tidak bisa tidur memejamkan mata hingga engkau rida kepadaku.‘” (HR An-Nasa’i).

Kedelapan, gembira dan tersenyum di hadapan suami. 

Selalu tersenyum dan menampakkan wajah berseri-seri di hadapan orang lain akan memberikan ketenteraman bagi orang yang melihatnya. Demikian halnya, selalu tersenyum dan berseri-seri terhadap orang-orang terdekat, seperti keluarga, kerabat, bahkan suami, tentu lebih dianjurkan.

Rasulullah saw. pernah berpesan kepada putrinya, Fatimah ra. agar senantiasa tersenyum dan menjaga raut muka berseri-seri di hadapan suami. Pasalnya, senyum seorang istri terhadap suaminya memiliki ganjaran besar dari AllahTaala.

Rasulullah saw. bersabda, “Wahai Fatimah, tiada seorang istri yang tersenyum di hadapan suaminya, kecuali Allah akan memandangnya dengan pandangan kasih (rahmat).”

Khatimah

Masih banyak lagi amalan yang bisa membawa seorang perempuan yang telah menikah menuju pahala dan surga Allah Taala. Jika semua ini dilakukan, dengan izin Allah, kehidupan rumah akan selalu harmonis dan penuh kasih sayang. 

Dengan memahami ini semua, sesungguhnya seorang perempuan tidak perlu takut menikah. Yang harus ia lakukan adalah terus memahami Islam dan melayakkan diri agar mendapat pasangan saleh yang diridai Allah Taala. Amin. Wallahualam bissawab. [MNews/YG]