Penulis: Admin

©Ni’mat Al Azizi

.

Dalam buku Sisi Lain Diponegoro, Peter Carey menceritakan tentang Diponegoro yang dilihat dari sudut pandang pihak musuh atau lawannya  dalam Perang Jawa. Dengan menggunakan Babad Kedung Kebo yang ditulis oleh Raden Adipati Cokronegoro I, bupati Purworejo pertama. Sebelum diangkat menjadi Bupati oleh Belanda, Namanya adalah Raden Ngabehi Resodiwiryo, seorang Mantri Gladak di Surakarta. Kedudukan Mantri Gladag sebenarnya hanyalah jabatan rendah dalam lingkungan keraton. 

.

Sebelum Perang Jawa Meletus, baik Cokronegoro maupun Diponegoro sama-sama belajar tasawuf kepada guru yang sama, yaitu Kyai Taptojani atau Taftazzani. Kyai Taptojani merupakan seorang ulama yang berasal dari Sumatera Barat, yang berkedudukan di tanah perdikan Mlangi. Selain punya guru yang sama, keduanya juga sama-sama penganut tarekat sattariyah. Tapi takdir akhirnya berkata lain, keduanya berbeda sikap dalam perang jawa. Selama perang jawa, Cokronegoro membantu Belanda dan bertugas memandu jalan di daerah Bagelen untuk pasukan Belanda dan sekutunya. Bahkan ia bisa membuat Belanda senang dan akhirnya mendapat jabatan sebagai Bupati Purworejo pertama. 

.

Di Bagelen, Cokronegoro bertugas sebagai penasehat pribadi Pangeran Kusumayuda, seorang komandan pasukan Surakarta yang dikirim oleh Belanda ke daerah Bagelen dan Banyumas. Karena di daerah Bagelen, pengaruh Diponegoro sangat kuat dan mendapat dukungan yang sangat luas oleh penduduk Bagelen. Cokronegoro dikirim dan ditugaskan untuk menjadi penunjuk jalan dan juga ditugaskan untuk mengorganisasikan perlawanan terhadap laskar Diponegoro. Cokronegoro dianggap orang yang tepat, karena tahu medan Bagelen juga mempunyai pengaruh didaerah asalnya, sehingga bisa merekrut orang-orang dekatnya untuk melakukan perlawanan terhadap laskar Diponegoro. 

Dalam perang yang hampir berlangsung 5 tahun, banyak prestasi yang diraih oleh Cokronegoro. Ia dapat menangkap beberapa pangeran dan pejabat keraton yang membantu Diponegoro. Prestasi yang paling mengagumkan adalah berhasil mengalahkan dan menewaskan panglima perang dan juga penasehat perang Diponegoro yaitu Pangeran Ngabehi Joyokusumo (paman Diponegoro) dan dua orang anaknya yang bernama Pangeran Gondokusumo dan Raden Mas Atmokusumo di Sangon, Gunung Kelir. Bahkan pada tahun 1829 Ali Basah Kertopengalasan yang juga merupakan Senopati perang bersama pasukannya menyerahkan diri kepada Tumenggung Cokronegoro di benteng Bubutan.

.

Dalam Babad Kedung Kebo yang ditulisnya, Cokronegoro menganggap bahwa Diponegoro mengobarkan perang pada waktu yang tidak tepat. Melawan Belanda disaat itu merupakan hal yang sia-sia, daripada berperang dengan mereka, lebih baik menerima takdir dan bekerja sama sebagai sekutu politik. Pangeran Diponegoro juga dianggap memiliki ambisi pribadi dan punya pamrih dalam melakukan perang jawa. Cokronegoro juga beranggapan bahwa Pangeran Diponegoro hanya didorong oleh nafsu belaka dan angkuh. Sehingga, perang yang terjadi hanya menyebabkan kehancuran tanah Jawa.

.

Tuduhan Cokronegoro sebenarnya hanyalah pembenar atas pilihan politiknya yang membantu dan berada di pihak Belanda. Seandainya tuduhan itu benar, maka Diponegoro tidak mungkin menolak kehendak ayahnya dan juga residen Jogja yang menginginkan agar Diponegoro mau menjadi putra mahkota. Tapi justru Diponegoro menolak untuk dijadikan putra mahkota dan menyerahkannya kepada adiknya. 

.

Diponegoro paham betul situasi dan kondisi politik  jawa yang semakin memprihatinkan dibawah penjajahan Belanda. Kehancuran Jawa dimulai ketika kedatangan Daendels yang membawa semangat revolusi Prancis. Semangat egaliter ala penjajah digunakan untuk menghinakan kedudukan Sultan Jogja dan Sunan Surakarta. Perampasan tanah di mancanegara barat dan timur bahkan tanah di negaraagung juga mulai diambil alih. Kedatangan Raffles dan pasukannya semakin menambah kegetiran Diponegoro. Apalagi ketika istana kesultanan jogja akhirnya diserang dan diduduki pasukan Raffles. Ribuan ton emas, harta pusaka dan manuskrip dijarah yang membuat kesultanan Jogja bangkrut. 

.

Dan hal yang membuat Diponegoro sudah tidak kuat lagi menahan amarahnya adalah ketika melihat bagaimana gaya hidup kafir Belanda mulai masuk keraton. Pesta ala barat, mabuk, candu dan bahkan keraton sampai digambarkan sudah seperti Rumah Bordil. Melihat tatanan jawa yang bersendikan syariat islam mulai dirusak, Diponegoro memantapkan hatinya untuk mengangkat senjata dan mengumandangkan perang sabil terhadap Belanda. Dengan resiko yang tidak kecil, di cap pemberontak, dicoret dari trah kesultanan Jogja, dipenjara dan dibuang dari tanah kelahirannya. Resiko tersebut tetap dipilihnya, karena Diponegoro tahu bahwa dialah orang yang dipilih untuk mengambil tanggung jawab yang sangat berat tersebut. 

.

Kita tidak bisa membayangkan seandainya Diponegoro pada waktu itu tidak mau mengambil tanggung jawab tersebut. Sebagai orang jawa saya akan sangat malu. Malu karena melihat ada pihak-pihak yang mencoba untuk merusak tatanan yang haq, merusak aturan syariat islam tapi ternyata diam tidak melawan. Sendi-sendi syariat islam yang sudah menancap kuat dibenak penduduk jawa yang dibangun selama ratusan tahun semenjak era Walisongo mulai diacak-acak kafir penjajah, kenapa diam. Betapa malunya orang jawa seandinya tidak ada Diponegoro yang bangkit dan melawan.  Sebenarnya orang jawa berhutang begitu besarnya kepada Diponegoro, hutang kehormatan dan harga diri yang tidak bisa dinilai dengan apapun.

Disebelah barat pulau jawa, kita juga bisa menemukan bagaimana Kesultanan Banten dengan bimbingan seorang ulama pejuang yaitu Syekh Yusuf al Makassari, begitu hebat perlawanannya terhadap Belanda. Padahal monopoli perdagangan Lada di Banten yang dilakukan oleh VOC masih sangat menguntungkan Sultan Banten. Ini sebagaimana yang ditulis oleh Denys Lombard dalam bukunya, bahwa para petani menjual kepada para tengkulak 7 real sebahar kemudian tengkulak menjual Lada kepada Sultan sebesar 12 real sebahar. Semua Lada berapapun jumlahnya akan dibeli oleh Sultan. Dan Sultan menjual lada kepada kompeni Belanda sebesar 20 real sebahar, dan Kompeni Belanda juga akan membeli berapapun banyaknya jumlah Lada. inilah kebiasaan yang berlaku di Banten yang dilakukan secara turun temurun.

.

Dengan keuntungan yang begitu besarnya yang dapat diraih oleh Sultan Banten, kenapa mereka masih melakukan perlawanan untuk mengusir kompeni Belanda? Padahal kompeni tidak bisa membeli lada langsung dari para tengkulak apalagi dari petani. Bahkan siapa saja yang melanggar kesepakatan tersebut hukumannya adalah digantung. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa Sultan Banten masih berkeinginan untuk mengusir kompeni Belanda?

.

Dalam sejarah awal islam kita juga bisa belajar dari Sayidina Husen, yang dijuluki oleh Rasulullah sebagai penghulu para syuhada. Prinsip amar ma’ruf nahi munkar yang dipegang dengan kuat oleh Sayyidina Husein menghantarkan dirinya, keluarga dan kerabatnya syahid di padang Karbala. Diamnya para sahabat Nabi dan penghianatan penduduk Kufah tidak melemahkan jiwa ksatria seorang muslim sejati. Ia tak gentar dengan kondisi apapun, baginya tidak ada langkah mundur dalam perjuangan amar ma’ruf nahi munkar terhadap penguasa zalim. Sayyidina Husein teguh dalam memegang prinsip agar jangan pernah tunduk dan takut pada penguasa zalim, sekalipun nyawa harus menjadi taruhannya. 

.

Namun saat ini, prinsip-prinsip yang telah ditorehkan Diponegoro, para Sultan Banten dan apa yang telah dicontohkan oleh Sayyidina Husein berabad lamanya, nampaknya mulai dilupakan oleh umat islam. Justru jamak kita lihat, umat islam yang menggunakan cara-cara Cokronegoro yang memilih bekerjasama dengan penguasa zalim dan menindas. Naudzubillah…