Penulis: Admin
Seseorang berkata (kurang/lebih): “Kebenaran itu tak bisa ditentukan dengan perang atau adu kekuatan. Perang justru membuat orang tidak bisa mikir kebenaran Islam. Makanya, di Hudaibiyah, Rasulullah saw minta tak ada perang selama 10 tahun, asal diskusi dibebaskan. Hasilnya, orang jadi leluasa untuk berpikir, dan banyak yg masuk Islam.”
Pandangan di atas itu cukup baik. Tapi, supaya tidak ada kesan mempertentangkan antara jihad dengan dakwah, atau kesan bahwa jihad justru menghambat penerimaan Islam, maka saya tambahkan beberapa poin, وباللّه التوفيق :
-
Benar bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh adu kekuatan. Kebenaran ditentukan dgn hujjah, dicerna oleh akal sehat.
-
Benar bahwa perang dan permusuhan, yg sangat emosional itu, menutup kesempatan bagi akal untuk berpikir jernih.
-
Benar bahwa sejumlah orang bisa berpikir jernih dan masuk Islam dalam situasi perdamaian antara Islam dan Quraisy pasca perjanjian Hudaibiyah.
-
Tapi, Rasulullah saw berdakwah tanpa kekerasan di Makkah selama sekitar 13 tahun. Namun, mayoritas manusia tidak menerima Islam, meski pun banyak yg memahami kebenarannya. Artinya, hujjah dan nalar tak cukup membuat masyarakat menerima Islam dan tidak menjadi satu²nya kunci kesuksesan dakwah.
-
Itu menunjukkan bahwa hujjah dan nalar tidak selalu dihadapi sebagaimana mestinya. Hujjah dan nalar sering terbentur dengan anti-pati dan kekuatan pihak yg anti itu.
-
Maka jihad yg dilakukan oleh Rasulullah saw sejak Perang Badr sampai perjanjian itu, bukan utk menunjukkan kebenaran Islam, melainkan untuk berurusan dengan kekuatan yg menghalangi dan hendak menghancurkan dakwah dari kalangan orang² yg keras kepala l, fanatik terhadap status quo dan sombong.
-
Peristiwa semacam Perjanjian Hudaibiyah tidak akan terjadi kecuali setelah terbukti bahwa umat Islam memiliki kekuatan yg layak diperhitungkan dan ditakuti. Itulah mengapa, perjanjian semacam ini tak pernah dipikirkan oleh Quraisy ketika umat Islam lemah, sebab ketika umat Islam lemah, mereka hanya akan mengambil tindakan praktis utk menghabisi umat Islam, dan tak ada untungnya bagi mereka utk melakukan perjanjian.
-
Pada akhirnya, orang Quraisy secara kolektif tidak masuk Islam semata-mata dgn hujjah, meski saya yakin hujjah itu sangat mempengaruhi mereka. Mereka justru masuk Islam setelah berhasil ditaklukkan, tunduk tanpa perlawanan di hadapan kekuatan besar Umat Islam.
-
Sejarah yg nyata itu menunjukkan bahwa dakwah dgn hujjah, dan kekuatan untuk berurusan dgn kekuatan yg menghadang dakwah adalah dua hal yg berjalan seiring dan berkontribusi dalam keberhasilan dakwah Islam pada masa Rasulullah saw.