Penulis: Admin

Kata مناخ itu diartikan sebagai tempat istirahat, yakni tempat istirahat orang-orang yang melakukan perjalanan, umumnya perjalanan yang memakai unta.

Ini sebagaimana hadist saat ‘Aisyah ra berkata kepada Rasulullah :

 يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا نَبْنِي لَكَ بِمِنًى بَيْتًا قَالَ لَا مِنًى مُنَاخُ مَنْ سَبَق

“Wahai Rasulullah, apakah perlu kami buatkan engkau rumah di Mina?” Beliau menjawab: ‘Tidak, ‘Mina adalah tempat peristirahatan orang-orang dahulu” (HR. Ibnu Majah).

Oleh karena itu, saat sebulan lamanya para pengemban dakwah melakukan aktivitas dakwahnya, mereka juga perlu istirahat sejenak, berkumpul dengan pengemban dakwah yang lain untuk saling bercerita atau menyampaikan sesuatu hal, maka wajar memang dalam forum tersebut tidak ada materi yang disampaikan, bahkan setiap orang boleh berbicara baik bertanya atau memberikan tanggapan.

Terlebih tidak ada kenikmatan bagi seorang musafir yang melakukan perjalanan selain bertemu dengan sesama musafir. Begitu pula dengan pengemban dakwah, tidak ada kenikmatan baginya selain jug bertemu dengan sesama pengemban dakwah yang sama-sama telah melakukan perjalanan dakwah, kemudian mereka bertemu, beristirahat sejenak, menyegarkan fikiran lagi, kemudian pergi lagi meninggalkan tempat istirahat itu. Karena memang  hati dan fikiran juga perlu istirahat sejenak, sebagaimana badan, jiwa juga perlu refreshing.

Imam ‘Ali pernah berkata:

روِّحوا القُلوبَ فإنها تَتْعَبُ كما تتعب الأبدانُ

Refreshing hati, hati juga bisa letih sebagaimana badan (Syarah Tadzkirah Sami’ hal. 263)

Pertemuan tersebut، disamping sebagai tempat istirahat sejenak, juga sebagai tempat untuk charger pemikiran dan perasaan lagi.

Agar aktivitas dakwah kembali bisa semakin mantap dalam melakukan perang untuk mengubah pemikiran dan perasaan umat. 

Karena dua hal inilah yang harus disentuh oleh para pengemban dakwah dalam aktivitas dakwahnya. Sebagaimana kata syaikh Taqiyuddin an Nabhani saat menjelaskan maksud dari kata mau’idhah hasanah pada surah An Nahl ayat 125, 

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

Beliau mengatakan bahwa mau’idhah hasanah adalah memberi peringatan yang baik (at tadzkir al jamil), yaitu mempengaruhi perasaan masyarakat ketika kita menyeru akal mereka, atau mempengaruhi akal mereka ketika kita menyeru perasaan mereka, sampai perasaan dan pemikiran mereka bersatu padu sehingga mampu membuahkan amal perbuatan secara sempurna

Wallahu a’lam bisshowab.