Jika kita menengok sejarah peradaban manusia, satu hal akan terlihat jelas: pengorbanan manusia bukanlah hal asing bagi dunia kuno. Hampir semua peradaban musyrik mengenalnya. Dari Amerika hingga Asia, dari Afrika hingga Eropa, manusia pernah dipersembahkan atas nama para dewa.
Bangsa Aztec mempersembahkan ribuan manusia kepada dewa matahari agar dunia tidak runtuh.
Di wilayah Kanaan, anak-anak dibakar untuk Moloch. Dalam Yunani kuno, kisah Iphigenia mencerminkan keyakinan bahwa nyawa manusia bisa ditebus demi keselamatan banyak orang.
Bahkan di beberapa kerajaan Cina dan Afrika kuno, manusia dikuburkan hidup-hidup bersama raja sebagai bekal ke alam lain.
Dan juga tak ketinggalan…. India Kuno.
Dalam tradisi Weda, agar kehidupan manusia mengalami kesuburan dan ketenangan mereka harus masyarakat dan pendeta harus menyalakan api, melantunkan mantra, memberikan persembahan secara rutin setiap menjelang musim-musim tertentu.
Namun realitasnya, kehidupan masyarakat India tak kunjung membaik meski sudah memberikan sesaji hasil panen, air atau bunga.
merasa dewa tetap marah mereka kemudian memperkenalkan ritual
Puruṣamedha.
पुरुष (puruṣa) = manusia / laki-laki
मेध (medha) = pengorbanan
Puruṣamedha: pengorbanan manusia.
Ya ritual ini masih ada hingga sekarang meski pemerintah India melarangnya.
https://www.facebook.com/share/p/14VgtWk1Xv9/?mibextid=wwXIfr
Gilanya….Tercatat selama 2014-2021 ada 105 Manusia yang dijadikan tumbal.
Dan ini merupakan pengulangan dari sejarah masa lalu.
Mereka melakukan berdasarkan panduan kitab suci, berdasarkan warisan leluhurnya.
Salah satu kisah paling terkenal tentang pengorbanan manusia dalam tradisi Hindu adalah cerita Śunaḥśepa, yang disebut dalam Ṛg Veda dan dijelaskan lebih rinci dalam teks-teks pendukungnya. Raja Hariścandra berdoa kepada dewa Varuṇa agar dikaruniai seorang putra. Dewa Varuna meminta agar kelak anak yang lahir akan di korbankan.
Ketika putranya, lahir, Varuṇa menagih janji tersebut. Sang anak rajapun menolak dan melarikan diri, sehingga Varuṇa menimpakan penyakit kepada Raja Hariścandra. Untuk menggantikan dirinya, anak raja itu membeli seorang anak brahmana bernama Śunaḥśepa putra Maharsi Ajigatra agar dikorbankan dalam ritual yajña.
तत: पुरुषमेधेन हरिश्चन्द्रो महायशा: ।
मुक्तोदरोऽयजद् देवान् वरुणादीन् महत्कथ: ॥ २१ ॥
“Raja Hariścandra melaksanakan pengorbanan besar dengan mengorbankan seorang manusia dan dengan itu menyenangkan para dewa.”
(Śrīmad Bhāgavatam 9.7.21–23)
Ritual ini dilakukan oleh ṛṣi besar: Viśvāmitra, Vasiṣṭha, Jamadagni.
Artinya apa?
Mereka tidak mengingkarinya.
Artinya apa ? ritual ini dianggap sah, suci, dan diterima secara religius pada zamannya.
Swami Prabhupada, tokoh besar Hindu modern, tidak mencoba menghaluskannya. Ia menulis dengan jujur:
“Tampaknya pada masa itu seorang manusia dapat dibeli untuk tujuan apa pun. Hariścandra membutuhkan seseorang untuk dijadikan korban pengganti hewan dalam sebuah yajña demi menunaikan janjinya kepada Varuṇa, maka seorang manusia pun dibeli dari manusia lain untuk tujuan tersebut.
Jutaan tahun yang lalu, pengorbanan hewan dan perdagangan budak sama-sama telah ada. Bahkan, keduanya telah berlangsung sejak zaman yang sangat purba.”
(Komentar terhadap Srimad Bhagavatam)
Pahala Besar Bagi Pelaku Purusamedha
Jika seseorang berkata, “Itu hanya satu cerita,” maka silakan baca sejarah tentang Manu mengorbankan Isterinya “Manavi”.
Kisah-kisah seperti ini umum ditemui.
Dalam epos besar ini, Yudhiṣṭhira—raja yang dikenal adil dan bijaksana—diperintahkan untuk melaksanakan yajña-yajña besar.
“Laksanakanlah Rājasūya, pengorbanan kuda, serta Sarvamedha dan Naramedha.”
(Mahābhārata, Aśvamedha Parva 14.3)
Naramedha atau Purusamedha disebut sejajar dengan ritual tertinggi.
Artinya ini bukan ritual kelompok sesat.
Tapi ritual yang diakui dalam Hindu yang setara dengan ritual Aswamedha dan Sarvamedha.
Kemudian Mahābhārata menggambarkan bahwa pelaku Naramedha mendapatkan balasan akhiratnya:
“Ia berada di alam golongan manusia paling utama, yaitu mereka yang melaksanakan pengorbanan kuda dan pengorbanan di mana manusia disembelih.”
(Śalya Parva 9.50)
Bukan Hanya Kitab, Tapi Juga Jejak Arkeologi
Lalu ada yang berkata, “Itu hanya teks, bukan praktik.”
Sejarawan agama Wendy Doniger mencatat sesuatu yang sulit dibantah: jejaknya ada di tanah India sendiri.
“There is, however, in addition to the textual references to human sacrifice, also physical evidence of its performance, such as archaeological remains of human skulls and other human bones at the site of fire-altars, together with the bones of other animals, both wild and tame (horse, tortoise, pig, elephant, bovines, goats and buffalos).” Wendy Donifer, On Hinduism (OUP USA, 2014) 217
Ia menulis bahwa di lokasi altar api ditemukan tengkorak dan tulang manusia, bercampur dengan tulang hewan kurban. Artinya, apa yang dibaca dalam kitab pernah dilakukan dalam kenyataan.
Penutup
Pengorbanan manusia bukan aib satu agama. Ia adalah fase gelap dalam sejarah peradaban manusia secara global. India kuno, dengan seluruh kekayaan spiritualnya, pernah melewati fase itu—dan kitab-kitabnya mencatatnya dengan jujur.
Mengakui hal ini bukan berarti membenci Hindu. Justru sebaliknya: ini menghormati teks apa adanya, bukan menyesuaikannya dengan selera zaman.
Sejarah tidak selalu nyaman. Tapi ia tetap sejarah.
QS. al-An‘ām 6:137
وَكَذَٰلِكَ زَيَّنَ لِكَثِيرٍ مِنَ الْمُشْرِكِينَ قَتْلَ أَوْلَادِهِمْ شُرَكَاؤُهُمْ لِيُرْدُوهُمْ وَلِيَلْبِسُوا عَلَيْهِمْ دِينَهُمْ
Artinya:
“Demikianlah setan menjadikan terasa indah bagi banyak orang musyrik pembunuhan anak-anak mereka, untuk membinasakan mereka dan mengacaukan agama mereka.”
Pertanyaan lanjutan:
Bagaimana cara ritualnya ?
Apa buktinya mereka eksis di Jawa dan Bali ?
Next pembahasan…..