Beberapa waktu lalu saya menulis tentang bagaimana negara-negara bagian di Amerika Serikat pernah “menang besar” melawan industri rokok lewat sebuah kesepakatan hukum bersejarah di akhir 1990-an. Banyak yang mengira cerita itu sudah selesai, jadi catatan lama dalam buku kesehatan masyarakat. Ternyata tidak. Hari ini, bab baru sedang ditulis—kali ini menyasar industri makanan ultra-proses.

Berdasarkan pemberitaan yang beredar, gugatan ini tidak datang dari satu negara bagian saja, tetapi dimulai dari pemerintah kota dan county, terutama di California. Kota San Francisco, disusul wilayah seperti Los Angeles County dan Santa Clara County, menggugat perusahaan besar seperti Coca-Cola, PepsiCo, Nestlé, Kellogg’s, dan Kraft Heinz. Tuduhannya terdengar familier: produk mereka berkontribusi pada krisis kesehatan masyarakat, terutama obesitas dan penyakit metabolik, sementara risiko tersebut tidak dikomunikasikan secara jujur dan proporsional kepada konsumen.

Di sini sering muncul kesalahpahaman. Banyak orang langsung berkata, “Lah, kan itu makanan, bukan racun. Orang bebas memilih.” Pernyataan ini sepintas masuk akal. Tapi sejarah rokok mengajarkan kita satu hal: gugatan bukan soal produk ada di pasaran, melainkan soal cara produk itu dirancang, dipasarkan, dan dampaknya terhadap biaya kesehatan publik.

Secara medis, berdasarkan banyak penelitian populasi, konsumsi makanan ultra-proses secara rutin berkaitan dengan peningkatan obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, dan penyakit jantung. Ini bukan berarti makan mi instan sekali langsung sakit. Masalahnya adalah pola konsumsi massal, didorong oleh produk murah, enak, awet, dan agresif dipasarkan—terutama ke anak-anak.

Secara kebijakan, argumen pemerintah daerah Amerika sederhana: ketika jutaan warganya sakit, negara yang menanggung biaya pengobatan, bukan perusahaan makanan. Ini sangat mirip dengan logika gugatan rokok dulu, yang akhirnya melahirkan Master Settlement Agreement pada 1998 dan memaksa industri tembakau membayar ratusan miliar dolar.

Sebagai dokter, saya melihat pantulan masalah ini di Indonesia hampir setiap hari. Pasien datang dengan diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan ketika ditanya pola makannya, jawabannya sering sama: minuman manis, makanan kemasan, gorengan, “yang praktis-praktis”. Ini bukan soal salah individu semata. Ini soal lingkungan pangan yang mendorong pilihan buruk menjadi pilihan termudah.

Bayangkan seorang ayah dengan gaji pas-pasan. Makanan segar mahal dan ribet. Minuman manis dan snack kemasan murah dan ada di mana-mana. Anak kenyang, orang tua lega. Sepuluh tahun kemudian, sang ayah jadi pasien rutin rumah sakit. Biayanya ditanggung BPJS, negara, dan masyarakat. Perusahaannya tetap untung. Secara logika sederhana, ada ketimpangan di sini.

Apakah gugatan terhadap industri makanan ultra-proses ini pasti menang? Jujur saja, belum tentu. Secara hukum, membuktikan “niat jahat” industri makanan lebih sulit dibanding rokok. Tapi secara arah, gugatan ini penting. Ia mengubah cara kita memandang makanan ultra-proses: bukan sekadar soal kalori, tapi tanggung jawab sosial dan biaya kesehatan jangka panjang.

Implikasinya besar. Jika gugatan ini berhasil, bisa muncul regulasi label yang lebih tegas, pembatasan iklan ke anak, bahkan skema kompensasi kesehatan. Kalau gagal pun, diskusinya sudah terlanjur bergeser. Publik mulai bertanya: apakah benar semua yang legal itu aman?

Bagi Indonesia, ini alarm dini. Kita sedang menikmati bonus demografi, tapi di saat yang sama penyakit tidak menular melonjak. Kalau pola konsumsi dibiarkan, kita akan memanen beban kesehatan yang mahal. Bukan hanya bagi individu, tapi bagi sistem kesehatan nasional.

Seperti kasus rokok dulu, pertanyaannya bukan “apakah orang boleh makan ini”, melainkan siapa yang bertanggung jawab ketika dampaknya sistemik dan mahal. Negara? Individu? Atau industri yang meraup keuntungan terbesar?

Saya pribadi melihat gugatan ini bukan sebagai serangan membabi buta ke industri, tapi sebagai upaya menyeimbangkan tanggung jawab. Karena kalau tidak, kita akan terus mengobati penyakitnya, tapi membiarkan penyebabnya tumbuh subur.

Sekarang saya ingin bertanya ke Anda yang membaca: menurut Anda, apakah gugatan terhadap industri makanan ultra-proses ini akan berhasil? Dan yang lebih penting, apakah Anda setuju jika industri yang produknya membahayakan kesehatan publik ikut bertanggung jawab dan memberi kompensasi? Silakan tuliskan komentar anda di kolom komentar.

EPW 20/1/2026