Penulis: Admin

Seseorang yang idealis kurang puas dengan sekolah yang ada.

Ia bertekad membangun sekolah Islami yang sesuai idealismenya.

Hasilnya, berdirilah sekolah Islam berkualitas tinggi.

Yang SPP-nya tentu juga tinggi sekali.

Dampaknya, jangankan orang bergaji UMR, gaji jauh di atas UMR pun kesulitan menyekolahkan anaknya di sana.

Seseorang yang lain tidak puas melihatnya.

Harusnya, sekolah Islam itu murah.

Agar orang-orang ekonomi UMR juga bisa menyekolahkan anaknya di sana.

Ia pun bertekad membangun sekolah Islami yang SPP-nya murah.

Hasilnya, berdirilah sekolah Islam yang SPP-nya murah.

Karena SPP murah, maka gaji guru pun menjadi rendah.

Karena gaji guru rendah, maka gurunya pun menjadi tidak loyal.

Jika ada lowongan PNS, gurunya mendaftar.

Jika diterima menjadi PNS, pekerjaan sebagai guru di sekolah Islam swasta ditinggal.

Karena gaji gurunya rendah,

Maka gurunya juga suka nyambi bisnis.

Bisnis jualan online.

Bisnis les privat.

Konsentrasi sang guru pun terbagi.

Nggak fokus pada profesi sebagai guru.

Seseorang yang lain tidak puas.

Harusnya sekolah Islam itu berkualitas tapi tetap murah.

Walau demikian, gaji gurunya tetap harus tinggi.

Konsekuensinya, sekolah tidak boleh mengandalkan SPP dari siswa.

Owner sekolah harus punya pemasukan lain.

Tidak lain dan tidak bukan, si owner sekolah haruslah orang yang kaya raya.

Maka si owner menjadi pengusaha.

Pengusaha bukan sembarang pengusaha.

Tapi pengusaha yang levelnya M-M-an.

Hasilnya, berdirilah sekolah Islam yang bagus, gaji guru tinggi, SPP murah bahkan gratis.

Warga pun berbondong-bondong mendaftar ke sekolah tersebut.

Dampaknya, daya tampung amat sangat kurang sekali.

Antara daya tampung dengan peminatnya, bahkan 0,1% saja tidak ada.

Alias, mayoritas orang tetap tidak akan bisa mengaksesnya.

Seseorang yang lain tidak puas juga.

Harus ada sekolah Islam berkualitas, gaji gurunya tinggi, SPP-nya gratis.

Daya tampung unlimited, alias semua orang bisa masuk.

Caranya bagaimana?

Tentu tidak akan ada pengusaha muslim sebesar apapun yang mampu.

Itu sudah levelnya negara.

Hanya negara yang mampu menyediakan hal tersebut.

Tentu negaranya juga bukan negara berflower.

Juga bukan negara yang krisis identitas.

Pemimpinnya juga harus berkepribadian Islam, bukan berkepribadian kapitalis.

Jadi, Anda maunya bagaimana?