Biografi
Mush’ab radhiyallahu ‘anhu adalah seorang sahabat yang memiliki ciri khas. Ciri khasnya dibandingkan dengan sahabat yang lain adalah orang yang sebelum masuk Islam sangat kaya raya dan terkenal. Berkumpul padanya putihnya kulit yang bersih, wajah yang tampan, pakaian yang selalu bersih, serta minyak wangi yang selalu semerbak. Hingga terkenal di Makkah, kalau seandainya Mush’ab sudah melewati sebuah tempat, maka pastilah masyarakat Makkah secara keseluruhan sepakat mengatakan, “Di sini telah lewat Mush’ab ibn Umair,” karena wanginya minyak wangi yang dipakai dan mahalnya minyak wangi tersebut, sehingga memiliki bau khas dan tidak semua orang memilikinya.
Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, sahabat Nabi yang lain, pada saat di Makkah dia melihat Mush’ab pertama kali, dia mengatakan, “Saya pada saat melihat Mush’ab seperti melihat salah satu dari laki-laki ahli surga.” Yang seperti digambarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam; dari pakaian yang rapi, tampan, bersih, dan segala kelebihan ada padanya.
Mush’ab radhiyallahu ‘anhu bernama Mush’ab ibn Umair bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Abdud Dar bin Qushay bin Kilab bin Murrah Al-Qurasyi Abu Abdillah. Ayahnya bernama Umair bin Hasyim, salah satu kepala suku yang terkenal di Makkah dan juga orang kaya raya, memiliki wibawa. Dan ibunya bernama Khunas binti Malik.
Ada tradisi orang-orang Jahiliah dulu, teman-teman sekalian, kalau ada wanita lahir dari jalur nasab yang kuat di pandangan mereka—misal ayah ibunya adalah orang-orang yang terkenal, sama jajaran jalur nasabnya, keadaan ekonominya, kepintaran dan kecerdasannya, kelebihan fisiknya—maka anak yang lahir itu nanti kalaupun perempuan, dia punya kedudukan khusus. Kapan dia menikah dengan level laki-laki yang di mata mereka pada saat itu lebih di bawah sedikit saja dari keadaan ekonominya, atau fisiknya, atau kecerdasan, atau jalur nasabnya, maka perceraian ada di tangan si wanita. Dia menentukan segala sesuatu di rumahnya. Ibu Mush’ab radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu wanita yang seperti ini. Wanita ini memiliki kedudukan yang sangat luar biasa, sampai dia termasuk wanita yang bisa menceraikan suaminya. Sehingga memang karena kekayaannya, kecantikannya, jalur nasabnya yang luar biasa, dan kecerdasannya.
Ibunya dia selalu menghiasi Mush’ab*—yang kebetulan waktu itu adalah anak pertamanya, dan Mush’ab punya adik laki-laki lain yang bernama Abdul Aziz, —*dengan pakaian yang terbaik. Selalu menggunakan baju yang terbuat dari kain katun dari Yaman yang terkenal sangat mahal. Minyak wangi yang dipakai dari negeri Syam yang terkenal paling mahal.
Kemudian sepatu yang dipakai dan segala macam yang berhubungan dengannya, termasuk rambut yang sangat lurus berwarna hitam dan sangat indah, disisir rapi ke belakang sampai menerpa pundak Mush’ab radhiyallahu ‘anhu. Dengan ketampanannya, dan saking tampannya sampai di Perang Uhud nanti, Ibnu Qami’ah—Ibnu Qami’ah ini yang telah memukul Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Perang Uhud sebagaimana akan saya jelaskan kembali review kisahnya walaupun sudah pernah kita sampaikan—dialah nanti yang akan membunuh Mush’ab di Perang Uhud. Dan dia mengira Mush’ab adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena miripnya.
Beliau juga tampan dan memiliki kemiripan dengan Nabi, termasuk rambut yang sangat lurus berwarna hitam dan sangat indah, disisir rapi ke belakang sampai menerpa pundak. saking tampan dan mirip nya dengan Nabi sampai di Perang Uhud nanti, Ibnu Qami’ah dia mengira telah membunuh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena kemiripaannya. Para ulama sepakat mengatakan kalau Yusuf ‘alaihissalam diberikan sepertiga kegagahan dunia, maka Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberikan seluruh kegagahan dunia.
Mush’ab radhiyallahu ‘anhu adalah As-Sabiqunal Awwalun dan awal masuk Islamnya hanya mendengar saja kalau ada seseorang yang mengaku Nabi di Makkah. Dan termasuk salah satu sahabat yang tidak ada seorang pun mengajaknya untuk Islam; sendirian datang, mendengar, dia datang ke Darul Arqam, lalu menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mus’ab mendengar, menerima, memahami, mendalami, kemudian mempraktikkan dan mempertahankan sampai mati. Maka Mus’ab mengucapkan syahadat di kali pertama mendengarkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ayat-ayat Al-Qur’an. Dan semenjak itu Mush’ab tidak pernah meninggalkan majelis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ketika masuk Islamnya Mush’ab ketahuan oleh ibunya. Maka oleh ibunya segala fasilitas Mush’ab ditarik, dari pakaian, dari makanan, dari uang, segala-galanya. Dibiarkan kelaparan, hanya diberi makan sepotong roti dan air putih, hingga tubuhnya yang dulu kekar dan berisi menjadi kurus dan kulitnya penuh luka karena kondisi yang buruk. Kemudian dikurung di dalam rumah dan dijaga oleh beberapa penjaga yang berbadan kekar yang siap memukul Mush’ab setiap saat jika hendak kabur. Mus’ab bersabar dan meninggalkan semua kenikmatan dunia walaupun sudah di depan matanya. Karena ibunya cuma mengatakan, “Tinggalkan agama Muhammad, kau akan dapatkan semua fasilitas apa pun yang sudah aku berikan, aku akan berikan kembali. Tapi syaratnya tinggalkan.” Tapi Mus’ab tidak mau dan memilih untuk dihukum.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai meriwayatkan sebuah hadis tentang bagaimana Mush’ab. Kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Saya tidak pernah lihat ada orang yang paling putih, paling gagah, paling kekar, paling nyaman untuk dilihat, paling bagus bajunya, dan juga tidak ada nikmat yang mengalahkan nikmat-nikmat yang sedang bertumpuk pada Mush’ab.”
Dalam sebuah riwayat menjelaskan di Madinah, pernah satu kali Mush’ab radhiyallahu ‘anhu masuk ke dalam masjid. Kemudian baju yang dipakai oleh Mush’ab itu punya dua tambalan. Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku datang ke masjid lalu Mush’ab ibn Umair datang kepada kami sambil memakai sebuah jubah yang ditambal dengan kulit. Padahal sebelum itu dia termasuk pemuda Makkah yang paling makmur dan hidup dalam kemewahan. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau menangis.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis karena teringat kenikmatan masa lalu Mush’ab dan beliau melihat keadaannya saat itu, sehingga kedua mata beliau meneteskan air mata.
Sampai setelah masuk Islam pun radhiyallahu ‘anhu ketika para sahabat mendapatkan harta ghanimah yang banyak tapi Mush’ab tidak sempat mendapatkan itu. Karena baru tahun 3 Hijriyah beliau sudah wafat dan mati syahid di Perang Uhud.
Datanglah beberapa orang dari Anshar, di antaranya As’ad ibn Zurarah radhiyallahu ‘anhu, menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Makkah di musim haji dan untuk masuk Islam. Setelah masuk Islam, beliau berkata, “Ya Rasulullah, di kaum saya ada potensi untuk bisa menerima Islam, tapi saya tidak bisa sampaikan. Kirimlah kepadaku atau bersamaku seorang yang bisa membantu untuk menyebarkan ajaran agama ini. Saya Insyaallah akan melindunginya.”
Maka kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Baiklah, saya utus Mush’ab ibn Umair.” Padahal waktu itu baru beberapa bulan Mush’ab masuk Islam. Diutuslah oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Mush’ab ke Madinah. Begitu tiba di Madinah, Mush’ab radhiyallahu ‘anhu mengatur strategi dan bertanya kepada As’ad bin Zurarah, “Di mana atau siapa saja pemimpin-pemimpin kabilah?” Diberikanlah nama Sa’ad bin Mu’adz, Usaid bin Khudhair, Sa’ad bin Ubadah. Maka Mush’ab menjadikan mereka sebagai target.
Sa’ad bin Mu’adz mendengar kalau As’ad bin Zurarah membawa tamu. Lalu kemudian tersebar berita kalau dia melarang untuk menyembah berhala. Lalu Sa’ad pun mengutus Usaid bin Khudhair, berkata, “Coba kamu lihat ke sana, cari tahu informasi orang ini dan usir mereka dari Madinah. Termasuk As’ad, usir dari Madinah kalau mereka membuat kekacauan.”
Datanglah Usaid ibn Khudhair radhiyallahu ‘anhu—ini sebelum masuk Islam—kepada Mush’ab dan As’ad dan berkata, “Apa yang kalian lakukan nih? Mengacaukan Madinah, mau memisahkan antara keluarga, memecahkan suku-suku kami? Keluarlah kalau kalian masih mau hidup!”
Mush’ab radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan, “Tidakkah Anda duduk dulu mendengarkan? Kalau seandainya apa yang saya sampaikan ini bagus, terimalah. Kalau tidak bagus, pastikan saya langsung tinggalkan Madinah.”
Maka kata Usaid bin Khudhair, “Pilihan yang menarik” Duduklah Usaid bin Khudhair, dan Mush’ab ibn Umair hanya membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Tidak lama kemudian Usaid bin Khudhair tertarik dan mengatakan, “Sungguh indah perkataan-perkataan ini. Bagaimana caranya supaya menganut agama kalian?”
Kata Mush’ab dan As’ad ibn Zurarah, “Engkau mandi untuk mensucikan diri. Kemudian engkau mengucapkan dua kalimat syahadat, dan kami akan ajarkan engkau bagaimana salat dua rakaat.”
Lalu kemudian Usaid pun radhiyallahu ‘anhu masuk Islam. Usaid berkata, “Wahai Mush’ab, wahai As’ad, di sini di Madinah ada satu pemimpin kabilah. Kalau kalian bisa membuatnya menganut agama ini, maka pasti orang-orang yastrib akan masuk agama Islam.” Kata Mush’ab, “Siapa itu?” Kata Usaid, “Sa’ad bin Mu’adz. Dan saya akan membuatnya datang ke sini.”
Lalu Usaid pun pulang menemui Sa’ad bin Mu’adz. Sa’ad bin Mu’adz mengatakan, “Demi Allah wahai Usaid, kamu pulang bukan dengan wajah pada saat kau pergi. Sekarang kau berseri-seri. Ada apa?” Lalu kata Usaid, “Sesungguhnya suku-suku Arab yang ada di Madinah akan mengganggu sepupumu As’ad ibn Zurarah dan kemungkinan karena mereka membenci dakwahnya sebagaimana engkau membenci dakwah mereka, apakah kamu tega sepupumu akan dibunuh oleh suku-suku Arab?” Lalu Sa’ad bin Mu’adz mengatakan, “Baiklah saya akan datang dan membelanya.”Begitu Sa’ad datang tidak ada apa-apa kecualai Mush’ab dan As’ad sedang duduk berdua. Lalu sa’ad berkata, “Kalian berdua keluar dari Madinah atau akan saya bunuh!“.
Kemudian kata Mush’ab kalimat yang sama, “Wahai Sa’ad, cobalah dengarkan apa yang akan saya sampaikan. Kalau seandainya benar, baik, ambillah. Kalau tidak, pastikan saya langsung keluar setelah Anda menolak.” Kata dia, “Baiklah, pilihan yang bijak.” Kemudian dia duduk lalu dia dengarkan. Pada riwayat itu dikatakan dia menancapkan tombaknya ke tanah—ada riwayat lain mengatakan pedangnya ke tanah—lalu kemudian dia mendengarkan beberapa ayat Al-Qur’an. Tiba-tiba Allah masukkan hidayah di hati Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu lalu Sa’ad berkata, “Bagaimana orang masuk agama kalian ini? Sungguh indah apa yang kamu baca ini.” Mush’ab berkata, “Mandi, kemudian ucapkan syahadat dan nanti kami akan ajarkan Anda salat.”
Maka Sa’ad bin Mu’adz pun akhirnya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya di tangan Mush’ab radhiyallahu ‘anhu. Pada saat itu Sa’ad ibn Mu’adz radhiyallahu ‘anhu pulang kepada kaumnya sambil berkata “Bagaimana kedudukan aku di sisi kalian?” Maka orang-orang yastrib mengatakan, “Anda adalah pimpinan kami, Anda adalah orang yang paling cerdas di antara kami, orang yang paling dipuji semuanya.” Kata Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, “Kalau begitu kedudukan saya di mata kalian, pastikanlah wajah saya, saya haramkan dengan wajah kalian, sampai kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Maka pada saat itu belum tiba sore kecuali semuanya sudah syahadat dan ini adalah jasa dari pada Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu.
Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu setelah berhasil di Madinah, beliau kembali ke Makkah melaporkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masuk Islamnya orang-orang Anshar. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun hijrah ke Madinah.
Ringkas cerita, terjadi Perang Badr. Di Perang Badr ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan bendera kepada Mush’ab bin Umair. Jadi pemegang bendera Islam pertama di perang besar, Perang Badr, adalah Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu. Dan beliau memegang bendera kaum Muhajirin pada saat itu, dan beliau menjaganya dengan sangat baik sampai akhirnya kaum Muslimin menang.
Kemudian berlanjut di tahun 3 Hijriyah, terjadi Perang Uhud. Di Perang Uhud, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali memanggil Mush’ab dan memberikan bendera itu kepadanya. “Pegang bendera ini.”
Perang Uhud, di awal peperangan kaum Muslimin menang. Kemudian karena pemanah turun dari atas bukit, akhirnya kaum Musyrikin memutar pasukan—Khalid bin Walid waktu itu memimpin pasukan kuda—dan menyerang balik kaum Muslimin. Terjadilah kancah peperangan yang sangat berkecamuk dan tidak seimbang pada saat itu, karena kaum Muslimin sudah merasa menang, mereka lengah, tiba-tiba diserang dari belakang.
Banyak sahabat yang syahid pada saat itu. Fokus kaum Quraisy, orang-orang musyrik, adalah membunuh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menuju ke arah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu melihat gelagat itu. Dia melihat pasukan musuh menuju ke arah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Mush’ab dengan cerdasnya, dia mengambil inisiatif. Dia membawa benderanya dan dia lari memancing orang-orang Quraisy agar menjauh dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dia bertakbir dengan suara yang keras, “Allahu Akbar! Allahu Akbar!” sambil mengibaskan benderanya. Karena Mush’ab ini mirip dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga badannya yang kekar, cara pakai baju perangnya, maka orang-orang Quraisy mengira itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka mereka pun mengejar Mush’ab. Dan ini memang targetnya Mush’ab, supaya mereka menjauh dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dikejarlah Mush’ab bin Umair. Kemudian datanglah Ibnu Qami’ah. Ibnu Qami’ah ini seorang musyrik yang sangat membenci Islam. Dia naik kuda, kemudian dia mengejar Mush’ab. Mush’ab waktu itu memegang bendera dengan tangan kanannya. Kemudian ditebaslah tangan kanan Mush’ab oleh Ibnu Qami’ah sampai putus.
Begitu putus tangan kanannya, Mush’ab radhiyallahu ‘anhu dengan sigap menyambut bendera itu dengan tangan kirinya sebelum jatuh ke tanah. Sambil dia berteriak membacakan ayat Al-Qur’an, surah Ali Imran ayat 144:
“Wa ma Muhammadun illa Rasul, qad khalat min qablihir-rusul…” (Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul).
Dia baca ayat itu untuk mengingatkan dirinya dan juga orang-orang di sekitarnya bahwa perjuangan ini untuk Allah, bukan hanya bertumpu pada fisik semata. Ibnu Qami’ah melihat Mush’ab masih memegang bendera dengan tangan kirinya, dia marah. Dia tebas lagi tangan kiri Mush’ab radhiyallahu ‘anhu sampai putus.
Maka Mush’ab kehilangan kedua tangannya. Bendera itu mau jatuh, Mush’ab tidak membiarkannya. Dia mendekap bendera itu dengan sisa kedua lengannya ke dadanya, ditahan supaya tidak jatuh ke tanah. Sambil dia terus membaca: “Wa ma Muhammadun illa Rasul…”
Lalu Ibnu Qami’ah melihat ini orang luar biasa, sudah buntung kedua tangannya masih memegang bendera. Maka ditusuklah Mush’ab dengan tombak di dadanya sampai tembus ke belakang. Maka jatuhlah Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu dan syahid seketika itu juga. Lalu bendera itu jatuh, dan barulah diambil oleh sahabat yang lain.
Setelah perang selesai, Ibnu Qami’ah berteriak, “Saya sudah membunuh Muhammad! Saya sudah membunuh Muhammad!” Karena dia pikir Mush’ab adalah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam saking miripnya. Maka tersebar isu Nabi meninggal. Tapi alhamdulillah ternyata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selamat.
Selesai perang, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyisir jenazah para sahabat. Beliau mencari Hamzah, paman beliau. Beliau mencari sahabat-sahabat yang lain. Sampai beliau berdiri di depan jenazah Mush’ab bin Umair. Teman-teman sekalian, ini adegan yang sangat mengharukan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri, kemudian melihat Mush’ab tergeletak dengan penuh luka, kedua tangannya sudah tidak ada.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis tersedu-sedu. Beliau teringat Mush’ab di Makkah. Pemuda yang paling ganteng, paling wangi, bajunya paling mahal. Sekarang tergeletak di atas pasir panas, badannya penuh darah, tangannya buntung. Dan yang paling menyedihkan, kain kafannya—kain yang dipakai untuk menutupinya—itu tidak cukup.
“Ketika di Makkah dulu, tidak ada seorang pun yang aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripada dirimu. Namun, sekarang, engkau (gugur) dengan rambutmu yang kusut masai dan hanya dibalut sehelai kain.”
Kata Khabbab bin Arats radhiyallahu ‘anhu dalam hadis riwayat Bukhari, “Kami hijrah bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam semata-mata mengharap wajah Allah. Maka kami pun mendapatkan pahala dari Allah. Di antara kami ada yang meninggal dan belum menikmati hasil dunianya sedikit pun. Di antaranya adalah Mush’ab bin Umair.”
Kata Khabbab, “Dia terbunuh di Perang Uhud. Kami tidak mendapati kain untuk mengkafaninya kecuali selembar kain burdah (kain bermotif garis-garis). Jika kami tarik kain itu untuk menutupi kepalanya, kakinya kelihatan. Jika kami tarik untuk menutupi kakinya, kepalanya kelihatan.” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tutupilah bagian kepalanya, dan tutupilah kakinya dengan rumput idzhir (rumput-rumputan yang wangi).”
Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di depan jenazah Mush’ab dan para syuhada Uhud, lalu beliau membacakan ayat Surah Al-Ahzab ayat 23:
“Minal-mu’minina rijalun shadaqu ma ‘ahadullaha ‘alaih…” (Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah).
Dan beliau menunjuk ke arah Mush’ab, “Engkau termasuk orang ini wahai Mush’ab.”
Kemudian kisah penutup yang juga menyentuh hati, tentang istrinya Mush’ab, Hamnah binti Jahsy. Hamnah binti Jahsy ini adalah wanita yang sabar. Waktu pasukan pulang ke Madinah, para wanita menunggu di gerbang Madinah ingin tahu kabar keluarga mereka.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Hamnah, lalu Nabi berkata, “Wahai Hamnah, ihtasibi (haraplah pahala dari Allah).“.
Hamnah bertanya, “Siapa ya Rasulullah?” Kata Nabi, “Pamanmu, Hamzah bin Abdul Muthalib.” Hamnah sedih, tapi dia mengatakan, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.” Dia masih tegar.
Lalu Nabi berkata lagi, “Wahai Hamnah, haraplah pahala dari Allah.” Hamnah tanya lagi, “Siapa lagi ya Rasulullah?” Kata Nabi, “Saudaramu, Abdullah bin Jahsy.” (Abdullah bin Jahsy juga syahid). Hamnah kembali mengatakan, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.”
Lalu Nabi berkata lagi yang ketiga kalinya, “Wahai Hamnah, haraplah pahala dari Allah.” Hamnah bertanya, “Siapa lagi ya Rasulullah?” Kata Nabi, “Suamimu, Mush’ab bin Umair.”
Begitu mendengar nama Mush’ab bin Umair, Hamnah berteriak histeris, “Aduhai kesedihanku!” Dia menangis sejadi-jadinya. Maka Nabi berkata kepada para sahabat di sekitarnya, “Sesungguhnya suami itu punya kedudukan khusus di hati seorang istri yang tidak bisa digantikan oleh kerabat yang lain.”
Lalu Nabi mendoakan Hamnah dan anak-anaknya. Itulah akhir kisah perjalanan sahabat yang mulia, Mush’ab bin Umair. Dari kemewahan dunia, menuju kemuliaan akhirat. Semoga Allah mengumpulkan kita bersama beliau di surga-Nya.