Penulis: Admin
Banyak sekali sekarang pemikiran-pemikiran yg berbahaya.. misalnya di TV ada tokoh-tokoh yg mengatakan :
“Kita harus pisahkan antara Al-Qur’an dan tafsir terhadap Al-Qur’an”
“Kita harus pisahkan antara Islam dengan pemikiran terhadap Islam”
“Islam itu mutlak.. Al-Qur’an itu mutlak.. tetapi tafsir terhadap Al-Qur’an dan pemikiran terhadap Islam itu relatif.. karena dia berasal dari akal manusia, jangan mutlakkan pendapat anda karena tafsir itu juga beda-beda”
Nah ini kena virus.. orang yg ngomong begini ini bahaya. Kadangkala Tokoh yg sangat kita hormati yg ngomong begini.
Dimana letak bahayanya ? Karena tafsir terhadap Al-Qur’an yg mutlak benar, itu nilainya sama dengan Al-Qur’an itu sendiri. Sebab Al-Qur’an itu diturunkan bukan hanya lafaznya.. tetapi juga maknanya. Makna Al-Qur’an yg ditangkap oleh para Mufassir itu menjadi ijma’ kebenaran, dan itu nilainya sama dengan Al-Qur’an.. jadi jika dia ingkar dalam tafsir yg benar, maka dia sama dengan ingkar terhadap Al-Qur’an. Karena akal manusia ini bisa sampai pada taraf mutlak. Nah ini yg paling banyak menjangkiti mahasiswa kita.. termasuk dosen-dosen.. relativisme ini. Ini dulu namanya sufastho’iyyah.. paham sofis. Ini berbahaya, karena orang yg sudah terkena virus ini.. dia menjadi tidak yakin dengan kebenaran.
Ada mahasiswa yg bertanya.. “Pemikiran mana yg benar ? semua relatif, hanya Tuhan yg mutlak.”
Gini aja yg gampang.. kita semua ini, lihat teman kita yg bertanya ini.. kita lihat dia bersama-sama.. menurut pendapat saya.. menurut pikiran saya.. saya yakin benar bahwa yg bertanya ini pasti manusia dan pasti bukan monyet, mungkin gak dia monyet ? Anda bilang kan pikiran manusia itu relatif.. menurut anda, anda itu laki-laki atau perempuan ? laki-laki. Nah menurut pikiran anda kelaki-lakian anda itu mutlak atau relatif ? Berarti di pikiran anda ada yg mutlak. Kita jangan dikacaukan oleh pemikiran-pemikiran begini.
Di perguruan-perguruan tingi Islam.. saya itu mengumpulkan puluhan buku tentang metodologi studi Islam. Biasanya liberalisasi itu dimulai dari mata kuliah ini.. Pengantar Studi Islam dan Metodologi Studi Islam.. Ini yg awal liberalisasi. Karena disitu dilakukan pendekatan dengan apa yg dinamakan Teo antroposentrisme. Al-Qur’an dan As Sunnah ini.. dari para Salafus Shaleh.. sudah dibentengi dengan Ulumuddin. Jadi untuk memahami Al-Qur’an dan As-sunah kita harus menguasai Ulumuddin. Maka untuk memahami Al-Qur’an dan As sunnah kita harus menguasai bahasa arab ilmu nahwu ilmu sharaf ilmu balaghah dsb, ilmu ushul fiqih, ilmu tafsir, ilmu hadits.. itu ilmu ulumuddin. Dan rumusan ini sudah selesai zaman salafus shaleh. Sekarang diperguruan tinggi.. ketika anda belajar metodologi studi islam.. dibilang gak cukup ilmu ulumuddin ini. Anda harus menggunakan ilmu bantu, ilmu humainora.. masuk ilmu sosiologi, masuk ilmu psikologi, masuk ilmu sejarah, masuk ilmu hermeneutika, masuk ilmu fenomologi.. ini kacau. Karena dua ilmu ini karakternya berbeda.. Ulumuddin, ilmu ini lahir dengan semangat memperkuat agama.. memperkuat Al-Qur’an dan Sunnah. Tetapi ilmu-ilmu psikologi, sosiologi, politik, dan lain sebagainya.. lahir di Barat.. semangatnya adalah pemberontakan terhadap agama (Kristen), menjadikan agama sebagai produk budaya. Ketika ilmu ini digabungkan.. katanya supaya ilmiah.. akhirnya kacau.. karena yg muncul hanya kebingungan. Makanya banyak orang di zaman ini, belajar di perguruan-perguruan tinggi Islam.. belajar Islam, dia bukannya tambah yakin.. tapi tambah bingung. Ada misalnya dia sudah Doktor jauh-jauh.. kemudian mengatakan “Yg tahu kebenaran hanya Tuhan, jangan mengatakan yg lain sesat, jangan mengatakan yg lain salah.. yg lain kafir.. jangan Sok menjadi Tuhan”.
Ada seorang liberal yg pernah mengatakan, “Beragama yg tawadhu’ itu beragama yg tidak suka menyalah-nyalahkan” jadi yg tawadhu’ begitu.. jangan angkuh beragama.. dikit-dikit menyalahkan orang lain”.
Padahal dia sendiri nyalahin kita. Dia boleh nyalahin kita.. sedangkan kita gak boleh nyalahin mereka.. logikanya seenaknya sendiri. “Jangan menyalahkan yg lain”, padahal dia sendiri menyalahkan kita.. Ini sebenarnya muncul paradoks.
Kalo orang mengatakan “Hanya Tuhan yg tahu kebenaran”, ini bahaya..
Karena dia menghina Tuhan. Berarti Tuhan Allah itu.. menurunkan kitab-Nya tidak bisa dipahami oleh manusia.. “Kebenaran itu dari Allah.. dan kamu jangan termasuk orang yg ragu” Artinya, kebenaran dari Allah itu.. sudah diturunkan kepada Nabi Nya dan disampaikan kepada umat manusia.. supaya kita jangan ragu dengan kebenaran dari Allah. Makanya tugas Nabi itu menyampaikan kebenaran.. kemudian dia mengatakan “Kebenaran yg tahu hanya Tuhan” itu berarti dia menghina Tuhan, dan kemudian menghina Nabi.. karena berarti dia mengatakan bahwa Nabi tidak tahu kebenaran, karena Nabi bukan Tuhan. Kalo dia mengatakan “Tidak ada yg tahu kebenaran kecuali Tuhan” berarti dia sendiri juga tidak tahu kebenaran.. karena dia juga manusia. Kalo gak tahu kebenaran jangan ngomong.. katakan ke dia : “Saya sudah tahu.. makanya anda ngaji sama saya”. Coba bayangkan.. orang tidak tahu.. tetapi bangga. Orang yg tidak tahu.. dan tidak tahu kalo dia tidak tahu.. dan bangga kalo dia tidak tahu. Itu kalo dalam filsafat disebut agnostik.. paham laa adriyah.. paham ketidaktahuan.. ilmu yg tertinggi itu tidak tahu.
“Tidak berhak menyesatkan manusia, yg berhak adalah Tuhan”, ini seolah-olah indah.. tetapi menipu. Saya sudah survei dan melakukan kuisioner di kampus-kampus banyak yg terpengaruh relativisme.
“Tafsir Relatif” ? Tafsir itu ada yg relatif dan ada yg tidak relatif.
Banyak sekali mahasiswa terjebak.. karena dia salah berfikir. Kalo dia sudah salah berfikir.. kalo kita kasih Al-Qur’an dan Sunnah maka akan mental. Karena di pikirannya sudah tertanam.. orang itu tidak bisa sampai kepada kebenaran. Kalo mau diisi dengan Al-Qur’an dan Sunnah.. maka pemikiran-pemikiran yg rusak harus dibersihkan dulu. Ibarat komputer kita instal ulang dulu.. baru diisi.
Ada mahasiswa saya barus selesai.. anak PERSIS, dia S-1 nya di Bandung.. kemudian selesai S-2. Setelah lulus S-2 ini apa yg km rasakan ? Dia bilang : habis ilmu saya S-1. Karena cara berfikir nya yg keliru.. karena basisnya adalah relativisme, dia melihat semua kebenaran itu menjadi relatif. Itu gak bener.
Kadang dinukil juga perkataan Imam Syafi’i : “qouliy shawab, yahtamilu al-khatha’. Qoulu Ghairy Khatha’, Yahtamilu shawab’ = pendapatku benar, tapi bisa jadi salah. Pendapat selainku salah, tapi bisa jadi benar.
Pernyataan Imam Syafi’i itu bukan di masalah ushul.. bukan dalam hal haq dan bathil. Para Ulama kita sudah tahu.. mana yg boleh berbeda dan mana yg tidak boleh berbeda.
Akal manusia ini bisa sampai kepada kebenaran yg mutlak.. karena ada kebenaran yg dasarnya itu akal, dan ini terkait dengan wahyu. Sederhananya begini.. contoh misalnya, didalam Al-Qur’an diharamkan Khinzir.. di Al-Qur’an itu tidak ada ciri-ciri Khinzir disebutkan.. Khinzir itu kakinya berapa ? punya ekor atau tidak ? telinganya bagaimana ? tidak ada disebutkan. Kenapa semua umat Islam sepakat khinzir itu babi.. dan tidak mungkin keliru dengan kambing. Jadi kalo ada orang yg mengatakan “Saya yakin kok khinzir itu haram, tetapi mana binatang Khinzir ? itukan pendapat manusia.. Qur’an dan Sunnah tidak ada yg menjelaskan ciri-ciri Khinzir.. kok kemudian kita tahu ini Khinzir, ini ayam, ini sapi, ini monyet, ini babi ?
Tetapi tidak berubah sepanjang zaman.. bahwa Khinzir ya Babi. Khinzir itu kita sepakati adalah Babi. Ada surat Al-Baqarah.. Baqarah itu sapi.. tidak mungkin berubah menjadi monyet.
Ini penting untuk kita dudukkan karena kita dikaruniai Allah dengan akal. Kalau ada orang yg mengatakan “Kita menerima isra’ mi’raj dengan iman.. bukan dengan akal” menurut saya kurang tepat.. yg lebih tepat dikatakan kita menerima kebenaran isra’ mi’raj dengan akal juga. Karena isra’ mi’raj itu masuk ke akalnya Abu Bakar Ash Shiddiq.. tidak masuk ke akalnya Abu Jahal.. sama-sama menggunakan akal. Dan Abu Bakar Ash Shiddiq menerima berita Isra’ Mi’raj dengan akal juga.. karena beliau paham, bahwa berita ini dibawa oleh seseorang yg tidak pernah berbohong.. maka pasti benar. Orang Barat itu menolak khobar shodiq, ditolak menjadi sumber ilmu.. tetapi kita menerima. Dulu ada seorang Profesor.. yg rasionalis. “Saya gak mau terima kalo gak rasional”. H Agus Salim membantahnya dengan mengatakan.. “Anda kalau mau pulang ke Padang.. kalau km rasional kamu jangan naik kapal. Karena kalau kamu naik kapal kamu tidak rasional.. yg benar kamu berenang dari Jakarta.. sebab begitu orang naik Pesawat.. naik Kapal.. dia tidak menjadi rasional. Kita ini sebenarnya percaya sama orang yg tidak kita kenal.. sepintar apapun dia, dia pasti percaya. Ketika dia naik Pesawat.. diumumkan Pilot.. kalo dia seorang intelektual yg cerdas.. harusnya dia nanya.. betul gak pilot ini ? berapa jam dia terbang ? mana ijazahnya ? Tapi dia percaya saja.. dia percaya kepada Pramugari yg dia tidak pernah kenal. Kalo orang mau rasional.. gak akan ada yg jadi Sarjana. Saya Dosen.. mengatakan, Einstein rumusnya : bla bla bla.. mahasiswa bertanya : Bapak tau darimana itu rumusnya Einstein ? Paling Dosen mengatakan “Katanya sih”.. Bapak lihat sendiri gak Einstein menulis rumus itu ? Kan mungkin saja bukan Einstein yg nulis.. Bapak tau dari “Katanya” juga kan ? kan dari katanya.. katanya.. katanya..
Kita ini mempunyai kaidah keilmuan yg kuat sekali.. kita punya ilmu sanad yg gak dimiliki oleh umat lain. Kita klarifikasi siapa yg membawa berita ini. Metodologi ilmu dalam Islam ini yg kokoh.. jauh lebih kokoh dari orang Barat. Mereka bilang rasional.. tetapi mereka tidak rasional ketika percaya dengan sesuatu, yg mereka sendiri tidak bisa mengklarifikasi. Kita ini ilmiah.. ketika kita percaya bahwa Al-Qur’an kita hari ini sama persis dengan yg ada di masa Rasulullah saw, ilmiah karena ini sampai kepada kita melalui khabar mutawatir.. karena diriwayatkan dari jama’ah.. ke jama’ah.. dst.. dan tidak mungkin mereka bersepakat untuk berbohong. Kalo kita percaya kepada seseorang yg tidak kita kenal.. kenapa kita tidak bisa percaya kepada seseorang yg kawan maupun lawan mengatakan bahwa dia tidak pernah berbohong seumur hidup.
(Diringkas dari kajian tentang Liberalisme yg disampaikan oleh Dr Adian Husaini, dengan sedikit perubahan redaksi)