Penulis: Admin
Berdasarkan al-Quran, umat ini memiliki keistimewaan sebagai umat terbaik. Allah berfirman:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar…” (QS. Ali ‘Imrȃn [3]: 110).
Juga berdasarkan as-Sunnah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَنْتُمْ تُوفُونَ سَبْعِينَ أُمَّةً أنْتُمْ خَيْرُهَا وأنْتُمْ أكْرَمُ عَلَى اللهِ عزَّ وجَلَّ
“Kalian sebanding dengan tujuh puluh umat, sedang kalian adalah yang terbaik dan termulia diantara mereka di hadapan Allah azza wa jalla” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah; Hasan menurut at-Tirmidzi).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أُعْطِيتُ مَا لَمْ يُعْطَ أَحَدٌ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هُوَ قَالَ نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ وَأُعْطِيتُ مَفَاتِيحَ الْأَرْضِ وَسُمِّيتُ أَحْمَدَ وَجُعِلَ التُّرَابُ لِي طَهُورًا وَجُعِلَتْ أُمَّتِي خَيْرَ الْأُمَمِ
“Aku diberi sesuatu yang tidak diberikan kepada seorangpun dari para Nabi”, maka kami bertanya; “Wahai Rasulullah apakah itu?” beliau menjawab: “Aku ditolong dengan rasa takut (musuh), aku diberi kunci-kunci dunia, aku diberi nama Ahmad, debu dijadikan pensuci untukku, dan ummatku dijadikan ummat terbaik.” (HR. Ahmad, sanad hasan)
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan sifat-sifat terpuji mereka: menegakkan amar makruf dan nahi mungkar baik dikalangan tertentu maupun kalangan umum (ta’murûn bil ma’rûf wa tanhaun ‘anil munkar), ini juga berkedudukan sebagai syarat agar layak disifati sebagai umat terbaik. Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu dalam khutbah haji ketika membaca QS. Ali ‘Imrȃn 110 berkata:
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَكُونَ مِنْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ فَلْيُؤَدِّ شَرْطَ اللهِ فِيهَا
Siapa yang senang menjadi bagian umat (terbaik) ini, hendaknya memenuhi syarat Allah di surat tersebut.
Jadi, syarat menjadi umat yang mulia, adalah amar makruf dan nahi mungkar. Selama umat fokus dalam dakwah, mereka akan mulia.
(Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani rahimahullah, Syaraf al-Ummah al-Muhammadiyyah, h. 18)
Yan S. Prasetiadi
Purwakarta, 6 Sya’ban 1440 H