Penulis: Muhammad Imaduddin Shiddiq
Isu #1 Tentang PKI
Penulis : Muhammad Imaduddin Shiddiq
// Kala kudeta Partai Komunis Indonesia (PKI) pecah di Madiun tahun 1948. Amukan mereka tidak hanya menyasar Pemerintah resmi kala itu, tapi juga masyarakat serta Ulama.
// Seorang Antropolog Amerika, Robert Jay, menggambarkan keberingasan dan kekejaman PKI
“Mereka menggunakan kekuatan mereka untuk melenyapkan bukan saja para pejabat pemerintah pusat, tapi juga penduduk biasa yang merasa dendam. Mereka itu terutama ulama-ulama tradisionalis, santri, dan lain-lain yang dikenal kesolehan mereka kepada Islam. Mereka ini ditembak, dibakar sampai mati, atau dicincang, kadang-kadang ketiga-tiganya sekaligus. Masjid dan madrasah dibakar, rumah-rumah pemeluknya dirampok dan dirusak.”
// Seorang narasumber bercerita kepada Robert Jay, “Soalnya begini Mas. Kami mulai mendengar kabar itu dari Madiun. Ulama-ulama dan santri-santri mereka dikunci di dalam madrasah, lalu madrasah-madrasah itu dibakar. Mereka itu tidak berbuat apa-apa, orang-orang tua yang sudah ubanan, orang-orang dan anak-anak laki-laki yang baik. Hanya, karena mereka muslim itu saja. Orang dibawa ke alun-alun kota, di depan masjid, kemudian kepala mereka dipancung. Parit-parit di sepanjang jalan itu digenangi darah setinggi tiga sentimeter, mas.”
// Sin Po (sebuah surat kabar kala itu) pada 1 Oktober 1948, memberitakan,
“Pembrontakan communist itoe ditoedjukan kerna kaoem FDR-PKI merasa tidak soeka pada Masjoemi dan banjak sekali orang-orang jang Masjoemi di daerah jang didoedoekin oleh communits telah diboenoe dengan kekedjaman.”
// Di Madiun, Sin Po, menulis laporan dari saksi mata. Sesudah perebutan kekuasaan menyusul tindakan pembersihan,
“Semoea pemimpin Masjoemi dan PNI ditangkep atawa diboenoeh dengan tidak dipreksa poela. Kekedjaman di Kota Madiun djadi memoetnjak, koetika barisan ‘warok’ ponorogo masoek kota dengan bersendjata revolver dan klewang. Di mana ada terdapat orang-orang Masjoemi, PNI atawa jang ditjoerigakan, zonder banjak tjingtjong lagi lantas ditembak. Belon poeas dengan ini tjara, korban itoe laloe disamperi dan klwanganja dikasi bekerdja oentoek pisahken kepalanja sang korban dari toeboehnja. Kedjadian atawa pemboenoehan stjara ini dilakoekan di berbagai bagian dari kota dan sakiternja, sehingga dalam tempo beberapa hari sadja darah manoesia telah membandjiri kota Medioen. Soenggoe keadahan sangat mengerihkan teroetama djika orang melihat dengan mata sendiri, orang-orang jang diboenoeh pating gletak di sepandjang djalan sampe bebrapa hari tida ada jang mengangkat.” []
Sumber :
Beggy Rizkiansyah, dkk. 2017. Dari Kata Menjadi Senjata : Konfrontasi Partai Komunis Indonesia dengan Umat Islam. Penerbit Jurnalis Islam Bersatu (JITU). Jakarta.
Follow us
Instagram : @komunitasliterasiislam Telegram channel : t.me/KomunitasLiterasiIslam Facebook : Komunitas Literasi Islam