Penulis: karena itu, dalam menjalani
Orang sering mengira bahwa ujian hidup hanyalah berupa kemiskinan, kelaparan, kecelakaan, tertimpa bencana, sakit, tertangkap KPK, difitnah, dan segala hal yang tidak menyenangkan. Sementara kaya, sehat, karir terus melejit, dihormati, berilmu tinggi dan segala hal yang dianggap menyenangkan dianggap bukan sebagai ujian.
Bagaimana bentuk ujian dalam hidup ini? Apa sebenarnya substansi ujian? Apa indikasi lulus ujian?
Tulisan ini insya Allah akan membahasnya.
Kehidupan ini adalah rangkaian ujian, apapun bentuknya, baik berupa sesuatu yang menyenangkan atau berupa penderitaan. Dalam kehidupan ini, ujian akan selalu datang silih berganti, dengan bentuk yang bermacam-macam, selama kita masih hidup. Ujian hidup dunia itu hanya akan berakhir saat manusia meninggalkan dunia ini. Jadi, selama kita belum mati, maka kita akan terus-menerus menghadapi ujian.
Segala sesuatu dalam hidup ini adalah ujian. Kita diuji Allah setiap detik, bahkan setiap saat. Ujian itu bentuknya bermacam-macam. Ujian itu terkadang berupa sesuatu yang baik (menyenangkan), dan terkadang sesuatu yang buruk (tidak menyenangkan). Allah berfirman, “Dan kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (TQS. Al-Anbiya’ [21]: 35).
Allah juga berfirman, “Maka apabila manusia ditimpa bahaya, ia akan berdo’a kepada Kami. Kemudian apabila Kami berikan nikmat kepadanya, ia akan berkata, ‘Sesungguhnya aku diberi nikmat itu, karena kepintaranku’. Padahal, sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya.” (TQS Az-Zumar [39]: 49).
Sudah merupakan sunnatullah jika bentuk ujian itu bermacam-macam. Ada yang tampak jelas sebagai ujian, tetapi ada juga yang tak tampak sebagai ujian. Ada yang tampak formal, tetapi ada yang informal. Ada yang berupa penderitaan, tetapi ada juga yang berupa kesenangan. Ada yang ringan, tetapi ada juga yang berat. Ada yang menimpa secara pribadi (ibtila’ fardi), tetapi ada juga yang menimpa secara kolektif (ibtila’ jama’i).
Tak semua ujian itu tampak sebagai ujian, kadang-kadang juga tidak tampak (ujian informal). Seorang mahasiswa, misalnya, ujiannya bermacam-macam. Ujian yang formal, misalnya ujian semester, ujian mid-semester dan tugas kampus, dan lain-lain. Namun, ada juga ujian yang tidak formal, misalnya ujian terkena penyakit kanker (kantong kering, alias tidak punya uang), ujian mendapat penyakit kanker (yang sesungguhnya), ujian lawan jenis, ujian teman, ujian lingkungan dan lain-lain.
Seorang mahasiswa seringkali cukup pandai untuk menghadapi ujian formal, tetapi gagal ketika diuji berupa ujian informal, misalnya kehadiran “orang spesial”. Lalu, waktu dan perhatiannya dihabiskan untuk membuktikan cintanya. Akibatnya, kuliah jadi berantakan sehingga akhirnya gagal menyelesaikan kuliah (tidak lulus kuliah).
Sering juga kita lihat, seorang mahasiswa yang uangnya pas-pasan, tetapi karena kondisi seperti itu justru mendorongnya untuk kuliah lebih tekun, lebih hemat, lebih tertata dan lebih semangat, sehingga mengantarkan pada kesuksesan, baik saat kuliah dan setelah kuliah. Dan sebaliknya, kita sering melihat mahasiswa anaknya orang kaya. Uang sakunya berlebih. Namun uang sakunya yang berlebih itu justru mendorongnya untuk hidup berfoya-foya, nge-drug, lupa belajar, dan lupa terhadap hidupnya. Akibatnya, kuliah tersendat dan hidupnya menjadi berantakan di kemudian hari.
Begitulah ujian. Ujian hadir setiap saat dalam bentuk yang beraneka ragam. Jadi, hidup ini adalah ujian, apapun bentuknya, menyenangkan atau tidak.
Semua yang terjadi dalam hidup ini adalah ujian dari Allah, lalu apa substansi ujian hidup itu?
Meskipun segala hal adalah ujian, namun sebetulnya subtansi dari ujian adalah: untuk membuktikan apakah kita TAAT atau TIDAK TAAT kepada Allah dalam menjalani setiap detik ujian hidup kita.
Jika kita TAAT Allah dalam kondisi tertentu, berarti kita LULUS diuji dalam kondisi itu. Jika kita TIDAK TAAT dalam kondisi tertentu, berarti kita TIDAK LULUS diuji dalam kondisi ini.
Seringkali orang menyadari bahwa mereka sedang menjalani ujian hidup ini, tetapi mereka tidak menyadari substansi ujian hidup yang sebenarnya. Dikiranya mereka sudah lulus (sukes) menjalani hidup ini, padahal mereka gagal menjalaninya.
Saat miskin, orang merasa mendapat ujian, lalu bekerja keras hingga kaya. Saat itu mereka merasa sukses. Saat kuliah, orang merasa menjalani ujian, lalu belajar giat dan tekun hingga lulus dekat predikat cumlaude. Saat itu mereka merasa telah sukses. Saat sakit, orang merasa sebagai ujian, lalu berobat kemana-mana hingga akhirnya dikaruniai sehat. Saat itu mereka telah sukses. Memang benar, semua ini adalah sukses, tetapi semua ini adalah sukses semu.
Sukses yang hakiki adalah saat kita TAAT kepada Allah dalam menjalani kehidupan apapun bentuknya. Dan gagal adalah saat kita tidak TAAT kepada Allah.
Sederhananya adalah sebagai berikut:
Orang miskin diuji dengan kemiskinannya. Mungkin suatu saat kita diuji berupa kemiskinan, apakah kita tetap taat Allah atau tidak, apakah kita masih menjalankan syariah Allah atau tidak, apakah kita masih berdakwah dengan sepenuh hati atau tidak dalam kondisi tersebut. Jika kita masih tetap taat Allah saat miskin, berarti kita lulus diuji kemiskinan. Jika kita masih berdakwah dengan sepenuh hati, berarti kita lulus diuji kemiskinan. Jika kita tetap menahan diri dari yang haram, berarti kita lulus diuji kemiskinan. Jika kita tetap bersemangat menjalani hidup, berarti kita lulus diuji kemiskinan. Sebaliknya, jika kita tidak taat Allah saat miskin, berarti kita tidak lulus diuji kemiskinan. Kemiskinan bukanlah ujian yang ringan. Banyak orang gagal diuji kemiskinan, akhirnya menerjang yang diharamkan Allah, meninggalkan dakwah dan sebagainya. Meski tidak sedikit yang sukses diuji dengan kemiskinan. Jadi, suksesnya orang saat diuji kemiskinan bukan saat berubah jadi kaya, tetapi saat ia tetap taat Allah dalam kondisi miskin tersebut.
Orang kaya diuji dengan kekayaannya. Mungkin suatu saat kita diuji berupa kekayaan, apakah kita masih taat Allah atau tidak, apakah kita masih menjalankan syariah Allah atau tidak, apakah kita masih berdakwah dengan sepenuh hati atau tidak, dan lain sebagainya. Jika kita selalu taat Allah saat kaya, berarti kita lulus diuji kekayaan. Jika kita masih berdakwah dengan sepenuh hati meski sangat sibuk, berarti kita lulus diuji kekayaan. Jika kita tidak sombong dan tidak melanggar yang diharamkan Allah, berarti kita lulus diuji kekayaan. Jika sebaliknya, maka kita gagal diuji Allah dengan kekayaan. Ujian kekayaan juga bukan ujian yang ringan. Banyak orang gagal diuji kekayaan. Banyak orang rajin ke masjid, berdakwah dengan tulus, dan ketaatan lainnya, saat masih miskin, tetapi semuanya berubah saat diuji kekayaan. Jadi, suksesnya orang saat diuji kekayaan bukan saat ia mampu mempertahankan kekayaannya, tetapi saat ia tetap taat Allah dalam kekayaannya tersebut.
Orang sakit diuji dengan sakitnya, dan orang sehat diuji dengan sehatnya. Banyak orang gagal saat diuji sakit, misalnya sakit telah mendorongnya untuk menggugat Allah, menyekutukan Allah saat berobat, dan lain sebagainya. Tetapi tak sedikit orang gagal saat diuji dengan sehat. Saat sehat, manusia terkadang lupa Allah, lupa ahirat, lupa dakwah, dan lain-lain. Jadi, suksesnya orang saat diuji sakit bukan saat ia berhasil sembuh dari sakitnya, dan suksesnya orang saat diuji sehat bukan saat ia selalu dalam kondisi sehat, tetapi saat ia tetap taat Allah baik dalam kondisi sakit atau sehat.
Pengkaji tashawuf diuji dengan kajian tashawufnya, pengkaji hadits diuji dengan kajian haditsnya, pengkaji ushul fiqil diuji dengan kajian ushul fiqihnya, pengkaji tafsir diuji dengan kajian tafsirnya, dan pengkaji sains diuji dengan kajian sains-nya, lain sebagainya. Yang mengkaji tashawuf terkadang meras lebih tinggi dari yang lain karena belajar ilmu hati, ilmunya para wali. Yang mengkaji hadits terkadang merendahkan yang lain karena merasa belajar langsung dari Rasul, lalu merendahkan atau menyesatkan orang lain yang kebetulan belajarnya tidak seperti metode yang mereka lakukan. Yang belajar ushul fiqih terkadang merasa lebih tinggi, karena merasa tahu proses pengalian hukum, lalu merendahkan oranr-orang yang mempelajari ilmu lain. Jadi, suksesnya orang yang belajar bukan saat ia berhasil menguasai ilmu-ilmu tersebut, tetapi saat ia semakin taat Allah dengan ilmunya tersebut.
Aktivis organisasi diuji dengan aktivitas dan organisasinya. Dengan aktivitasnya, mereka terkadang merasa telah berbuat banyak dan berjasa untuk oang lain, umat, bangsa, dan lainnya. Lalu membusungkan dada dan meremehkan orang-orang yang kebetulan tidak seaktif mereka. Dengan organisasinya, terkadang menjadi ashobiyah, atau melanggar syariah karena membela kelompoknya, atau merendahkan orang yang ada di organisasi lain, dan lain sebagainya. Jadi, suksesnya para aktivis dakwah bukan saat ia berhasil memperoleh tujuan-tujuan material dari aktivitasnya, misalnya banyaknya pengikut dan keterkenalan, tetapi saat ia tetap istiqomah di dalam aktivitas dakwahnya dan tetap taat Allah dalam semua aktivitas dakwahnya tersebut.
Dan lain sebagainya. Intinya, apapun yang kita hadapi adalah ujian. Apapun yang terjadi, jika kita tetap taat kepada Allah dan ikhlas tulus karena Allah, maka kita sukses menjalani ujian. Sebaliknya, jika kita menjadi tidak taat dan melanggar Allah, baik secara fisik maupun hati, maka kita gagal diuji Allah.
Hidup itu mata-rantai ujian. Jadi, tak mungkin hidup lepas dari ujian. Lalu siapa orang yang suskes dalam arti yang sebenarnya?
Orang sukses adalah orang yang tetap lulus ujian sampai ujian terakhir, yaitu saat meghadap Allah swt. Sederhananya, orang sukes adalah orang yang husnul khotimah. Sebaliknya, orang gagal adalah orang yang su’ul khotimah.
Dengan demikian, orang yang masih hidup, belum bisa disebut orang sukses yang sebenarnya. Sebab, orang yang masih hidup, sedang menjalani ujian. Terkadang, awalnya ia gagal dalam menjalani ujian, tetapi berhasil saat menjalani ujian akhir kehidupan. Sebaliknya, terkadang awalnya ia lulus menjalani berbagai ujian, tetapi gagal saat menjalani ujian akhir kehidupan.
Oleh karena itu, dalam menjalani kehidupan ini, tidak perlu ada yang dibanggakan atau disombongkan. Sebab, kita semua masih menjalani ujian, dan belum tentu tetap istiqomah sampai ujian yang terakhir. Dalam hidup ini yan terpenting kita berusaha untuk selalu taat kepada Allah swt. Jangan sampai kita sedikitpun kita tergoda untuk tidak taat, sebab bisa jadi saat kita tidak taat, itu adalah akhir dari hidup kita.
Dan jika dalam kondisi tidak taat secara fisik (melakukan keharaman atau meninggalkan kewajiban) atau secara hati (sombong, merendahkan yang lain, beramal bukan karena Allah), maka kita harus segera menyadari dan segera bertaubat kepada Allah. Kita harus bergegas memperbaiki diri secepat-cepatnya, sebab kita tidak pernah tahu apakah masih ada kesempatan lagi atau tidak.
Selain kita harus terus bebuat terbaik yang bisa kita lakukan, kita hars terus menerus meminta kepada Allah (berdoa) agar diberikan keistiqomahan hingga akhir hayat, hingga kita menghadap Allah dalam kondisi husnul khotimah. “Ya Allah, jangan palingkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk. Dan berilah kami Rahmat-Mu. Sesunggunya Engkau Maha Penerima Taubat”.
Wallahu a’lam.