Penulis: Admin
Beredar video, pengadangan/pelarangan seorang aparat terhadap pawai Muharram sambut tahun baru 1441 Hijriah, yang membawa panji tauhid. Sang aparat, sambil bicara dengan nada tinggi, juga menambahkan alasan “tidak membutuhkan tulisan kalimat tauhid di bendera. saya cukup simpan tauhid di hati saja. kalau dituliskan, bisa jadi Riya”. Kira-kira demikian ungkapnya.
Acara yang digelar di berbagai daerah dan terhitung sukses dan lancar ini, juga berkat bantuan aparat keamanan. Barakallahu fihim. Semoga Allah berkahi kehidupan saudara-saudara kita dari pihak aparat.
Kasus yang disebut di awal tulisan ini, nampaknya hanya oknum. Buktinya di daerah lain, tak ada masalah.
Tulisan ini hanya bermaksud menyoroti penggalan kalimat dari oknum tadi, tentang Riya.
Perlu kita review lagi sama-sama, pelajaran tentang klasifikasi dan kategorisasi bidang-bidang dalam agama kita.
Bahwa di dalam Islam itu ada I’tiqad/keyakinan (aspek hati), Kaifiyat/tatacara (aspek fisik), dan Syi’ar (aspek simbol).
Bab tentang keimanan dan sebagian besar akhlaq, itu ada di aspek hati. Tidak bisa diunjukkan. Urusannya hanya dengan Allah.
Bab tentang tatacara (kaifyat) sholat, haji dan zakat itu aspek fisik. Pasti bisa dilihat. Karena ada gerakan dan tatacara. Istilah FIQH yang biasa kita dengar itu, urusannya di sini. Definisi Fiqh sendiri adalah “pengetahuan tentang tatacara pelaksanaan hukum syariat berdasarkan dalil rinci dari Alquran dan Assunnah”.
Jadi tak cukup hanya beriman tentang wajibnya sholat (i’tiqad, hati), tapi juga harus dikerjakan secara teratur dan rutin, serta sesuai kaifiyat yang dicontohkan Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Selain itu, seseorang tak cukup hanya lakukan gerakan sholat (fisik). Tapi juga harus ikhlas & khusyu’ (hati). Nah, yang terakhir ini Babnya Akhlaq.
Ibadah Haji juga demikian. Diimani bahwa itu perintah Allah, dikerjakan sesuai kaifiyat-nya, dan harus ikhlas diamalkan.
Begitu juga ajaran Islam lainnya. Diimani, diamalkan, dan ikhlas dikerjakan semata karena Allah.
Ikhlas itu lawannya Riya. Tidak bisa karena beralasan takut Riya maka kita tak mau ber-kaifiyat. Akhirnya tak mau bersyhadat di depan orang, tak mau sholat dilihat orang, enggan haji ketahuan orang, tak mau zakat disaksikan orang.
Orang yang takut Riya, itu masih bagus kalau semata sikap pribadi. Repotnya, kalau takut Riya-nya itu diekspresikan dengan mempersoalkan pilihan orang lain. Melarang orang haji terbuka, marah sama orang sholat terbuka, ngomel sama orang wudhu terbuka, ngambek ke yang zakat terbuka, dll.
Hati-hati lho, ungkapan “saya tidak mau Riya” itu bisa jadi Riya itu sendiri.
Nah, di mana posisi syi’ar? Syi’ar, sebuah kata yang telah diadopsi oleh bahasa kita menjad siar, siaran, menyiarkan, dan derivasi lainnya.
Tujuannya agar orang lain tahu, kenal, maklum dan termotivasi beramal kebaikan seperti yang disyiarkan itu.
Misalnya sholat. Kalau iman terhadap kewajibannya adalah urusan i’tiqad, lalu ada kaifiyat yang itu urusan fisik, lalu ada ikhlas dan khusyu’ yang masuk dalam lingkup akhlaq, maka sholat berjamaah di Masjid adalah bentuk syi’ar-nya. Adzan juga adalah syi’arnya.
Ibadah haji, juga demikian. Ada syi’arnya. Kita lihat terjemahan surat Albaqarah ayat 158:
”Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah…”
Yang mau pergi haji pun dianjurkan adakan walimatus safar sebelum berangkat. Kumpulkan tetangga dan keluarga. Agar didoakan dan agar memotivasi yang lain juga untuk berangkat.
Kalimah thayyibah, atau syahadat, juga begitu. Mengimani isinya itu urusan hati, mengucapkannya dengan tepat itu urusan fisik, tulus mengucapkan itu urusan hati, dan mengekspresikan kalimat itu di berbagai media dan sarana adalah masuk bab syi’ar.
Masing-masing kategori ada targetnya sendiri-sendiri. Iman dan Tauhid: untuk dapat pengakuan dari Allah. Ucapan Syahadat : untuk dapat digolongkan dalam shaff kaum muslim Ikhlas : agar beroleh pahala Syi’ar : agar menjadi identitas dan sekaligus media dakwah.
Jadi tak boleh ditukar. Yang urusan hati, tempatkan di hati. Urusan kaifiyat wujudkan secara praktikal. Urusan ikhlas atau riya nya, manage di hati, bukan diucapan, apalagi diklaim. Yang urusan syi’ar, ya harus disimbolisasikan.
Kita sudah terbiasa koq dengan simbol, simbolitas, simbolisasi. Semua orang, semua agama, semua bangsa, semua budaya mengenal simbol-simbol. Jadi, mestinya tatkala berkaitan dengan Islam, tak boleh ada yang resah saat ada yang berekspresi, bersyiar, dan bersimbol.
Hal sederhanapun kita maklumlah. Misalnya soal Rindu. Ada kerinduan di hati. Ada ucapan rindu untuk penegasan. Ada ekspresi rindu agar menghiasi hari.