Penulis: Admin
© Doni Riw . Pengetahuan itu ada dua: ilmu & tsaqofah. . Ilmu itu pengetahuan terkait benda-benda mati, seperti fisika, kimia, dan sejenisnya. . Tsaqofah itu pengetahuan terkait manusia seperti sosiologi, antropologi, dan semacamnya. . Ilmu itu mempelajari hukum alam yang bekerja mengatur benda-benda mati. . Tsaqofah itu mempelajari hukum-hukum yang bekerja pada manusia dan hubungannya dengan manusia lain. . Peradaban barat memperlakukan keduanya sama. Ilmu sebagai sains dan tsaqofah sebagai sosial sains.
Untuk menggali pengetahuan terkait sains maupun sosial sains, barat menerapkan metode penelitian experimental.
Barat seolah tak mampu membedakan antara benda mati dan manusia.
Benda mati tak memiliki akal dan hati. Maka hasil eksperimen pada benda mati bersifat universal.
Manusia memiliki hati dan akal. Maka setiap hasil eksperimen pada manusia bersifat lokal dan temporal.
Dengannya, penelitian experimental tidak akan pernah menghasilkan konklusi hukum universal atas manusia, seperti hukum universal pada benda.
Artinya, pengetahuan sosial sains yang dihasilkan barat itu tidak pernah menjawab apapun atas misteri prinsip hidup manusia.
Tapi ironis, barat memaksakan diri untuk mengekspor sosial sains-nya yang rapuh itu kepada peradaban-peradaban lain.
Standar sosiologi weberian, marxian, beserta segala penerus cabang-cabangnya, dengan percaya diri memaksakan diri mengatur manusia di dunia dengan hasil fantasinya yang merka kira ilmu itu.
Islam mendudukkan ilmu dan tsaqofah secara tepat sesuai fitrah.
Pada pengetahuan terkait hukum yang mengatur benda mati, Islam mempelajarinya dengan pengamatan indera yang bersifat experimental.
Sedangkan pada pengetahuan terkait hukum yang mengatur manusia, maka muslimin mengunakan pengetahuan yang diberikan oleh Allah Sang Pencipta Manusia melalui ayat-ayatNya.
Karena penelitian experimental atas manusia, mustahil menemukan prinsip hukum mahluk berakal.