Penulis: Admin
Di masa awal, pendidikan Islam tidak mengenal sistem madrasah, jami’ah, klasikal, multimedia, platform online dan sebagainya. Namun bukan berarti kualitas pendidikan masa lalu “lebih buruk” dari era modern saat ini. Meskipun jika diukur dengan standar masa kini, pendidikan Islam di masa awal Islam hanya “sekedar” pendidikan informal dan non-formal, tetap saja kualitas nya jauh lebih baik dan berhasil menjamin masyarakat Islam di masa itu sebagai teladan generasi, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وآله وسلم :
خير القرون قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم
“Sebaik - baiknya generasi ialah generasiku, kemudian orang setelahnya, kemudian orang setelah mereka”
Syaikhuna Taqiyyuddin an-Nabhani رحمه الله رحمة واسعة menjelaskan bahwa generasi terdahulu itu pada umumnya adalah muqallid muttabi’ dan jumlah mujtahid saat itu “ribuan”.
Jika kita mengkaji biografi Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in penjelasan beliau bukanlah tanpa data. Artinya, hingga masa Umawiyyah dan Abbasiyyah Awal tingkat pendidikan masyarakat Islam itu tinggi. Salah satu indikatornya ialah masyarakat “sadar hukum” disertai istidlalnya hingga masa al-Manshur dan Harun ar-Rasyid sehingga membuat negara tak merasa perlu mengadopsi hukum umum bagi masyarakat karena rata - rata muslim saat itu terpelajar (meskipun sekedar alumni mesjid dan majlis ta’lim).
Bahkan fenomena anak cerdas semisal Imam asy-Syafi’i itu bukanlah “anomali” justru “umum” dan “biasa” terjadi di masa tersebut. Silahkan cek generasi aqran dari Imam asy-Syafi’i, serta mereka yang semasa, baik bertemu maupun tidak.
Tingkat pendidikan masyarakat mulai menurun sejak pintu ijtihad “ditutup” dan bahasa Arab “diabaikan”, kemudian umat tersibukan dengan beragam “bela diri” dari serangan pemikiran dan fisik dari pihak luar. wallahu a’lam.