Penulis: Admin

(Catatan Daurah Umum “Kemukjizatan al-Quran” bersama Dr. Fathi Sabbaq di Ruwaq Quran Indonesia)

Oleh: Muhammad Dhiyauddin Hafidzullah, Lc., Dipl. (Ruwaq Quran Indonesia)

Muqaddimah

Abu Manshur Ats Tsa’alibi berkata:

“Barangsiapa yang mencintai Allah, maka dia akan mencintai Rasulullah. Barangsiapa yang mencintai Rasulullah maka dia akan mencintai Bahasa Arab. Barangsiapa yang mencintai Bahasa Arab niscaya Allah akan memudahkan segala urusan”

Dari perkataan diatas dapat dipahami bawa Bahasa Arab merupakan bagian dari Agama Islam, dimana satu dengan yang lain saling berkaitan sangat erat dan tidak dapat dipisahkan.

Maka dengan mempelajari Bahasa Arab dan mendalaminya akan memberikan keyakinan kepada diri akan kebenaran Mukjizat al Qur’an & aspek kenabian yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Nabi/Rasul yang diutus oleh Allah SWT senantiasa diberikan kepadanya Mukjizat sebagai bentuk penguat dakwahnya & tantangan pada kaumnya. Bentuk Mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi/Rasul yang diutus adalah berupa perkara yang masyhur di kalangan kaumnya, contoh:

Nabi Musa - Tongkat Sihir

Nabi Muhammad - al Qur’an

Kaum Nabi Muhammad SAW merupakan orang-orang yang ahli & fasih dalam berbahasa Arab. Oleh karena itu Allah menurunkan al Qur’an berbahasa Arab sebagai Mukjizat Nabi Muhammad.

Mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi/Rasul kelak akan hilang & tidak berlaku lagi bersamaan dengan wafatnya Nabi/Rasul tersebut. Namun, hal ini tidak berlaku kepada Mukjizat Nabi Muhammad yang berupa al Qur’an. Meski beliau telah wafat, akan tetapi kemukjizatan al Qur’an akan kekal hingga Hari Kiamat kelak. Sebab Risalah yang dibawa oleh beliau bersifat umum dan berlaku bagi seluruh makhluk hidup, baik golongan manusia ataupun jin.

Definisi Mukjizat

Secara bahasa berasal dari kata (عجز) yg berarti tidak mampu / hilangnya suatu kemampuan

Secara istilah, para Ulama mendefinisikan Mukjizat berupa:

أمر خارق للعادة يظهره الله على مدعي النبوة مقرونا بالتحدي وسالما عن المعارضة

“Perkara diluar kebiasaan yang dimunculkan Allah SWT kepada seorang Nabi bersamaan adanya tantangan darinya & terbebas dari gugatan”

Dari definisi diatas terdapat beberapa point yang perlu diperjelas maknanya.

١. أمر خارق للعادة

Maksud dari perkara diluar kebiasaan adalah bahwa Mukjizat adalah suatu hal yang menyelisihi Sunnatullah.

Contoh:

Terbelahnya Bulan, Api yang tidak membakar Nabi Ibrahim, dll

٢. على يد مدعي النبوة

Maksudnya adalah bahwa Mukjizat merupakan hal khusus yang dimiliki oleh Nabi, adapun perkara-perkara diluar kebiasaan yang nampak selain dari Nabi, seperti Wali, maka dinamakan Karomah

٣. مقرونا بالتحدي

Maksud dari adanya tantangan adalah bahwa Nabi memberikan tantangan kepada kaumnya dengan Mukjizat yang dimilikinya agar mereka mendatangkan yang semisal. Baik dalam skala lebih kecil, yang sepadan, atau yang lebih besar. Sebagaimana Firman Allah SWT:

  1. Hud:13

قُلۡ فَأۡتُوا۟ بِعَشۡرِ سُوَرࣲ مِّثۡلِهِۦ مُفۡتَرَیَـٰتࣲ 

Katakanlah, “(Kalau demikian), datangkanlah sepuluh surah semisal dengannya (Al-Qur`ān) yang dibuat-buat.”

  1. Al Baqarah:23

فَأۡتُوا۟ بِسُورَةࣲ مِّن مِّثۡلِهِۦ

Buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

٣. سالما عن المعارضة

Maksud terbebas dari kecacatan adalah Bahwa Mukjizat tidak dapat ditandingkan dengan hal yang lainnya, sebab dia tidak mengandung selain kebenaran.

Oleh karena itu Mukjizat berbeda dengan Sihir yang dapat ditentang dan dibatalkan dengan yang semisalnya.

Perhatian Ulama terhadap aspek Mukjizat al Qur’an

Pada masa Sahabat, mereka tidak merasa butuh untuk menuliskan kitab-kitab yang membahaskan aspek Mukjizat al Qur’an. Sebab, mereka adalah orang yang paling tahu dan sering berinteraksi langsung dengan Rasulullah SAW yang notabene penerima wahyu dari Malaikat Jibril. Oleh karena itu pengetahuan para Sahabat terkait Mukjizat sudah berada diluar kepala.

Hingga datanglah abad 3H, dimana orang-orang Arab mulai bercampur baur dengan orang-orang non-Arab bersamaan dengan meluasnya wilayah Islam dan mereka ditugaskan untuk menagajarkan Islam & al Qur’an kepada orang-orang non-Arab. Saat itu jugalah bermunculan tuduhan-tuduhan (syubhat) kepada al Qur’an dan Hadits sehingga para Ulama bergerak untuk membela al Qur’an dan Hadits dari tuduhan-tuduhan yg ada berupa kitab-kitab yang ditulis di bidangnya, diantaranya pembahasan Mukjizat al Qur’an.

Sejarah Penulisan Kitab-Kitab bidang Mukjizat al Qur’an

Dari pembelaan para Ulama’ diatas mulailah bermunculan kitab-kitab dalam bidang Mukjizat al Qur’an. Orang pertama yang menuliskan dalam bidang ini adalah al-Jahiz W 255H (الجاحظ) dalam kitabnya Nadzham al Qur’an (نظم القرآن)

Lalu datanglah Abu Bakar al Baqillani yang juga menuliskan dalam bidang Mukjizat al Qur’an dalam kitabnya I’jaz al Qur’an (إعجاز القرآن), kemudian berdatangan Ulama lain yang menuliskan dalam bidang Mukjizat al Qur’an, seperti: Imam al Khattabi, ar Razi, Imam as Suyuti dalam kitabnya Mu’tarak al Aqran fi I’jaz al Qur’an (معترك الأقران في إعجاز القرآن), Abdul Qahir al Jurjani dalam kitabnya Dalail I’jaz (دلائل الإعجاز), dll.

Aspek-aspek kemukjizatan al Qur’an

  1. Bahasa & Uslub

Aspek kemukjizatan al Qur’an yang pertama terletak pada Bahasa & cara penyampaian (Uslub) yang digunakan di al Qur’an. Apabila dicermati maka akan didapati bahwa Bahasa yang digunakan censerung mudah, jernih, serta mengandung keindahan didalamnya, begitu pula dengan Uslub nya.

Syekh Muhammad Abdul Adzhim az Zurqoni pengarang kitab Manahil ‘Irfan berkata:

“Bahasa Arab telah banyak melalui masa-masa dalam keberlangsungannya, mulai dari masa keemasan, penurunan, perkembangan, kemunduran, dll. Meski demikian al Qur’an mampu menjaga & melestarikan Bahasa yang digunakannya serta berada pada performanya yang stabil.”

  1. Metode susunan (طريقة التركيب)

Al Qur’an yang dalam penurunannya memakan waktu selama 23 tahun secara terpisah dan berdasarkan kejadian-kejadian masa Rasulullah SAW, meski demikian, metode penyusunan al Qur’an sangatlah sempurna dan baku, antara satu surat dengan yang lainnya saling memiliki keterikatan yang sagat erat. Sebab penyusunan al Qur’an ini bersumber langsung dari Allah SWT melalui wahyu yang dibawa Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad (Tauqifi).

  1. Pengaruh pada Hati

Al Qur’an melalui auatnya mampu memberikan pengaruh di hati bagi orang-orang yang mendengarnya, baik dia muslim maupun bukan.

Contoh:

Jubair bin Muth’im yang saat itu masih dalam kemusyrikan, suatu saat mendengar Rasulullah SAW membaca awal surat at Tur hingga firman Allah:

إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَ ٰ⁠قِعࣱ﴿ ٧ ﴾

Sungguh, azab Tuhanmu pasti terjadi (at Tur:07)

Seketika mendengarnya beliau berkata: “Sungguh aku sangat khawatir atas diriku tertimpa adzab tersebut.” kemudian langsung berislam

Juga kisah keislaman Sahabat Unar bin Khattab setelah mendengarkan lantunan surat Maryam hatinya tergerak dan memutuskan untuk masuk islam.

Juga kisah dari seorang senior Quraisy Walid bin Mughiroh yang menyatakan kesaksian yang haq bahwa al Qur’an sangatlah tinggi kedudukannya dan tidak ada yang lebih tinggi darinya. Maka bernarlah firman Allah SWT: 

ٱللَّهُ نَزَّلَ أَحۡسَنَ ٱلۡحَدِیثِ كِتَـٰبࣰا مُّتَشَـٰبِهࣰا مَّثَانِیَ تَقۡشَعِرُّ مِنۡهُ جُلُودُ ٱلَّذِینَ یَخۡشَوۡنَ رَبَّهُمۡ ثُمَّ تَلِینُ جُلُودُهُمۡ وَقُلُوبُهُمۡ إِلَىٰ ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ ذَ ٰ⁠لِكَ هُدَى ٱللَّهِ﴿ ٢٣ ﴾

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur`ān yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang,gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah. (Az Zumar:23)

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَاۤءࣱ وَرَحۡمَةࣱ لِّلۡمُؤۡمِنِینَ وَلَا یَزِیدُ ٱلظَّـٰلِمِینَ إِلَّا خَسَارࣰا﴿ ٨٢ ﴾

Dan Kami turunkan dari Al-Qurān (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qurān itu) hanya akan menambah kerugian. (Al Isra:82)

  1. Pengetahuan yang terkandung di dalam al Qur’an 

Nabi Muhammad merupakan orang yang tidak membaca & menulis (Ummi) meski demikian pengetahuan beliau amat sangat luas dan lengkap, padahal Nabi SAW tidak pernah didapati berguru pada seorang manusia, melainkan hal itu tidak lain karena beliau dapatkan dari al Qur’an yang didalamnya mencakup banyak ilmu pengetahuan, seperti: Politik, Ekonomi, Sosial, dll. Oleh karena itu al Qur’an merupakan kitab pedoman keselamatan hidup baik di dunia maupun akhirat.

  1. Kabar-kabar ghaib

Didalam al Qur’an juga tercantum kabar-kabar ghaib yang dikategorikan menjadi dua macam:

  1. Kabar-kabar ghaib masa depan

Yaitu kejadian-kejadian yang belum terjadi namun hal tersebut sdh dituturkan oleh al Qur’an

Contoh:

Kekalahan kaum Romawi atas kaum Persia pada awal peperangan & disusul dengan kemenangan kaum Romawi setelahnya & kegembiraan kaum Muslim atas pertolongan Allah di perang Badar. Hal ini telah lebih dahulu tercantum di al Qur’an sebelum kejadian tersebut berlaku.

غُلِبَتِ ٱلرُّومُ﴿ ٢ ﴾ فِیۤ أَدۡنَى ٱلۡأَرۡضِ وَهُم مِّنۢ بَعۡدِ غَلَبِهِمۡ سَیَغۡلِبُونَ﴿ ٣ ﴾ فِی بِضۡعِ سِنِینَۗ لِلَّهِ ٱلۡأَمۡرُ مِن قَبۡلُ وَمِنۢ بَعۡدُۚ وَیَوۡمَىِٕذࣲ یَفۡرَحُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ﴿ ٤ ﴾ بِنَصۡرِ ٱللَّهِۚ یَنصُرُ مَن یَشَاۤءُۖ وَهُوَ ٱلۡعَزِیزُ ٱلرَّحِیمُ﴿ ٥ ﴾

Bangsa Romawi telah dikalahkan,

di negeri yang terdekatdan mereka setelah kekalahannya itu akan menang, Dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allahlah urusan sebelum dan setelah (mereka menang). Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Perkasa, Maha Penyayang. (ar Rum:2-5)

  1. Kabar-kabar ghaib masa lalu:

Seperti kisah Nabi-Nabi terdahulu bersama umatnya masing-masing.

Hal ini membuktikan bahwa al Qur’an itu berasal dari Allah SWT dan bukan buatan manusia. Allah SWT berfirman:

تِلۡكَ مِنۡ أَنۢبَاۤءِ ٱلۡغَیۡبِ نُوحِیهَاۤ إِلَیۡكَۖ

Itulah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah engkau mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. (Hud:49)

  1. Ayat teguran bagi Rasulullah SAW

Ayat-ayat yang bersifat teguran atas keputusan yang diambil oleh Nabi cukup banyak didapati dalam al Qur’an, seperti:

Surat Abasa, Surat at Tahrim, al Anfal:67, at Taubah:43, al Ahzab:37, dll.

Hal ini membuktikan bahwa al Qur’an bukan berasal dari Nabi Muhammad SAW. Sebab, apabila al Qur’an berasal dari beliau, mustahil akan didapati ayat-ayat yang menegur diri beliau.

Itulah beberapa point kemukjizatan al Qur’an dan masih banyak lagi yang belum disebutkan.

Sebagian Ulama memandang bahwa kemukjizatan al Qur’an terdapat sebagian point-point diatas dan bukan keseluruhannya. Namun, pendapat yang kuat adalah bahwa kemukjizatan al Qur’an ada pada keseluruhan point diatas juga yang tidak disebutkan.

Qoul bi Shorfah

Sebagian Ulama lain (Abu Ishaq, Muktazilah, Syiah) memiliki pendapat yang berbeda mengenai aspek kemukjizatan al Qur’an. Mereka berpendapat bahwa kemukjizatan al Qur’an terdapat pada Shorfah, yakni berpalingnya orang-orang Arab dari usaha untuk mendatangkan yang seperti al Qur’an. Meski mereka bersatu padu dalam pendapat ini tapi sejatinya mereka berbeda pandangan dalam penyebab berpalingnya orang Arab dari usaha untuk mendatangkan yang seperti al Qur’an:

  1. Dikarenakan diri mereka enggan & tidak memiliki kemampuan akan hal tersebut (shorf nafsi)

  2. Adanya pengalang dari Allah SWT

  3. Tidak adamya kemampuan memahami isi al Qur’an

Bantahan terhadap Qoul bi Shorfah

  1. Al Qur’an telah terang-terangan menantang mereka untuk mendatangkan surat yang semisal dengan al Qur’an, dan apabila mereka tidak memiliki kemampuan niscaya ayat-ayat yang bersifat tantangan tidak akan berguna, padahal faktanya orang-orang Arab memiliki kemampuan untuk membuat karya dan lain membalas satu sama lain dengan bahasanya seperti syiir, khutbah, dll. Hanya saja kemampuan mereka tidak setara dengan level al Quran

  2. Untuk membantah alasan kedua dari mereka kita, sejarah telah mengkisahkan kebenaran kepada kita. Bahwa tidak sedikit orang-orang yang pernah mengaku sebagai Nabi setelah wafatnya Rasulullah dan beranggapan telah turun wahyu baru kepadanya. Diantara mereka ada:

Musailamah al Kadzzab ynag mengaku Nabi dan Malaikat Rahman turun kepadanya memberikan wahyu. Dia juga berusaha untuk mendatangkan surat yang semisal dengan al Qur’an meski makna yang terkandung didalamnya adalah sebuah kebatilan

Juga Abu Aswad al Ansi yang pernah mengaku Nabi.

Lalu Thulaihah al Asadi juga pernah mengaku Nabi hanya saja kaumnya tidak mempercayainya & tidak mengikutinya karena mereka paham betul nilai dari bahasa Arab

Tak hanya dari golongan laki-laki saja yang mengaku sebagai Nabi. Tapi dari golongan perempuan oun juga ada, sebut saja namanya Sajah at Tamimiyyah juga pernah mengaku Nabi & Jibril membawakan wahyu kepadanya serta menebar ayat-ayat dusta.

Ini merupakan bukti meskipun terdapat penghalang dari Allah yang mencegah manusia untuk mendatangkan surat yang semisal dengan al Qur’an, meski demikian banyak dijumpai dari mereka yang menggaku menjadi Nabi baru.

  1. Tidak benar jika dikatakan bahwa orang Arab tidak mampu memahami al Qur’an. Buktinya banyak dari mereka ketika diseru & mendengar lantunan al Qur’an justru malah menikmatinya dengan perasaan damai dan tenang sembari meresapi kandungannya.

Dengan penjabaran diatas, terlihat jelas akan kebatilan pendapat yang mengatakan kemukjizatan al Qur’an terdapat pada Shorfah, yakni berpalingnya orang-orang Arab dari usaha untuk mendatangkan yang seperti al Qur’an. Sekian.