Penulis: Poetra Sambu

Oleh: Poetra Sambu

Anda pernah mendengar istilah “insaniyyah”? Saya yakin pernah. Sebagai contoh saya kutip pernyataan Habib Ali al-Jufri di di FP/Laman FB nya:

بقدر حفاظ الإنسان على إنسانيته يستطيع أن يكون مسلماً مستقيمًا في التزامه،

وبقدر تضييعه لمعنى إنسانيته يكون معوجًا في تدينه مهما كانت مظاهر التزامه.

Sejauh mana seorang manusia menjaga “insaniyyah”-nya dia akan mampu menjadi seorang Muslim yg lurus dalam komitmennya (terhadap Islam). Sebaliknya, sejauh mana dia menyia-nyiakan “insaniyyah”nya, dia akan bengkok dalam beragamanya, meski nampak begitu komitmen (terhadap Islam)“.

Dari contoh di atas saya yakin anda telah menerka apa arti kata “insaniyyah”.

“Insaniyyah” dalam bahasa Indonesia sering diterjemah dg “kemanusiaan”. Istilah asingnya ” humanisme”.

Apa itu insaniyyah/kemanusian/humanisme?

Humanisme/kemanusiaan/insaniyyah adalah sebuah pemikiran filsafat yang mengedepankan nilai dan kedudukan manusia serta menjadikannya sebagai kriteria dalam segala hal.

Dari penjelasan di atas saya yakin anda semakin faham ada apa dibalik kata “insaniyyah/humanisme/kemanusiaan”. Dan anda saya yakin semakin dapat menerka apa yang diinginkan dengan istilah di atas, termasuk dapat memahaminya dalam perkataan Habib Ali al-Jufri di atas.

Dalam penggunaannya, istilah “kemanusiaan/humanisme/insaniyyah” sering sekali dipakai oleh kalangan yang alergi dengan nilai-nilai agama, mereka yg disebut liberal, dan yg semisal.

Humanisme/insaniyyah/kemanusian seringkali dieletakkan sebagai nilai yang lebih tinggi dari yang lain, termasuk Islam. Bahkan, sering menjadi senjata untuk menyerang Islam.


Kembali kepada istilah “Insaniyyah”.

Sejak kapan ada istilah “insaniyyah”?

Ketika kita menelisik di induk-induk mu’jam (kamus) bahasa Arab, seperti Lisan al-‘Arab, karya Ibn Manzhur, al-Qamus al-Mukhith, karya al-Fairuzabadi, dan yang lain, kita tidak temukan istilah “insaniyyah”. Di dalam Lisan al-‘Arab, misalnya, hanya dijelaskan bahwa makna al-insan, sudah jelas. Kemudian menyebut-nyebut Nabi Adam AS. dan dijelaskan bahwa bani insan (anak manusia) adalah anak-anak Adam. Dijelaskan pula bahwa insan merupakan pecahan (musytaq) dari kata an-nisyan.

Meski dijelaskan cukup panjang, dan meski terjadi penjelasan isytiqaq (sumber) kata insan -meski hal ini terdapat perbedaan di kalangan ahli bahasa - yang perlu diperhatikan adalah bahwa Ibn Manzhur tak sedikitpun menyinggung kata “insaniyyah”.

Di dalam al-Qamus al-Muhith dikatakan:

البشر والإنسان الواحد إنس، حمع أناس. والمرأة إنسان، وبالهاء عامية.

Meski sempat menjelaskan bahasa Amiyah, yakni ketika digunakan kata “insan” dengan tamnahan ha’ (ة), yakni إنسانة untuk menyebut perempuan. Namun, tak disunggung sama sekali soal “insaniyyah”.

Data-data di atas menunjukkan bahwa kata “insaniyyah” pada masa itu belum lahir. Orang bisa saja mengatakan: Bukankah kata “insaniyyah” adalah bentuk nasab dari kata insan? dan bukan-kah hal ini bersifat qiyasi, sehingga sah-sah saja kita gunakan meski di zaman awal, bahkan hingga abad-abad berikutnya belum ada??!

Benar. Sah-sah saja kita membuat kata “insaniyyah” dari kata insan. Dan ini tidak menyalahi kaidah bahasa.

Namun, yang menjadi pembahasan kita di sini adalah sejak kapan kata
”insaniyyah” sebagai sebuah istilah, dan bukan masalah boleh atau tidak membuat kata “insaniyyah” dari kata “insan”?

Ternyata, seperti dikatakan Nazhir Zaitun, di dalam bukunya, al-Inthilaqat al-Insaniyyah, istilah “insaniyyah” baru lahir satu abad yang lalu (sekarang dua abad -red) pasca merebaknya Budaya Barat (Tsaqafah Gharbiyyah) di Timur Arab.

Dari pejelasan Zaitun, nampak bahwa kata “insaniyyah” merupakan ta’rib (alih bahasa/terjemah) istilah “Humanisme” yang telah lahir lebih dulu di Barat.

Pada dasarnya istilah humanisme mempunyai riwayat dan pemaknaan yang kompleks. Humanisme sebagai sebuah istilah mulai dikenal dalam wacana filsafat sekitar abad ke 19. Menurut K. Bertens, istilah humanisme pertama kali digunakan dalam literature di Jerman, sekitar tahun 1806 dan di Inggris sekitar tahun 1860.

Oleh sebab itu, kita menjumpai Butrus al-Bustani (1819 - 1883) salah satu pendahulu gerakan sastra Lebanon Modern yang lahir dari rahim Orientalis, adalah orang pertama yang mendefinsikan istilah “insaniyyah”, sebagai:

ما اختص به الإنسان من المحامد كالحنو وكرم الأخلاق

“(Insaniyyah adalah) kerakteristik kebaikan yang hanya ada pada manusia, seperti rindu dan kemuliaan perangai”.

Jejak Butrus kemudian diikuti oleh Farid Wajdi di dalam ensiklopedinya, Da’irah Ma’arif al-Qarn al-‘Isyrin, di mana untuk menjelaskan kata “insan” saja dia menghabiskan 36 halaman.

Namun, baik Butrus maupun Farid Wajdi tidak dapat menjadi hujjah untuk menentukan orisinilitas sebuah kata dalam bahasa Arab. Apalagi jelas di luar qurun waktu di mana pada sebuah zaman bahasa yang digunakan oleh seseorang dapat menjadi hujjah dalam menentukan aspek ke-arabannya.

Oleh sebab itu, kata “insaniyyah” merupakan kata asing; serapan dari bahasa asing (bukan bahasa Arab asli). (lihat: Dr. Faris Abu Ulbah, Syawa’ib at-Tafsir, hal. 89).

Dari penjelasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa istilah “insaniyyah” merupakan istilah dalam Tsaqofah Barat yang memiliki pengertian khusus.

Dari sini pula, kita mengerti apa yang ada di balik slogan-slogan Humanisme yang dikampanyekan oleh beberapa kalangan. Dan wajar pula jika “insaniyyah/humanisme” sering menjadi batu sandungan bagi penerapan Islam.

Wallah a’lam.