Penulis: Admin

Sesungguhnya, umur suatu Republik yang baru menginjak 78 tahun belum ada apa-apanya dibandingkan entitas-entitas negara lain di wilayah ini yang pernah eksis sebelum Republik. Beberapa di antara mereka ada yang mampu bertahan bahkan hampir 400 tahun. Sebutlah salah satu contoh seperti Aceh Darussalam. Sebagaimana Republik, Kesultanan Aceh mempunyai founding fathers, yakni peletak dasar berdirinya entitas politik dan masyarakat Islam yang luar biasa di ujung Sumatra sana.

Namanya adalah Sultan ‘Ali Mughayat Syah. Rumahnya yang abadi kini ada di Banda Aceh, di kompleks pemakaman Kandang XII yang disebut juga “Baitul Rijal” (Rumah Para Lelaki, House of the Gentlements). Biografi singkat tentang founding fathers Aceh ini sampai sekarang masih dapat kita baca di epitaf nisannya yang terpahat seperti berikut:

١. هذا القبر المغفور المرحوم الراجي إلى

٢. رحمة الله المطيع لأوامر الله

٣. الغازي في البر و البحر ينصره الله 🔥

٤. الباذل لعباد الله ألا و هو

٥. السلطان علي مغاية شاه 🔥🔥

٦. سقى الله ثراه و جعل الجنة المأواه 🔥

  1. Inilah kubur orang yang diampuni lagi dirahmati, seorang yang selalu berharap…

  2. rahmat Allah, yang senantiasa menaati perintah-perintah Allah.

  3. Yang berperang di darat dan di laut, semoga Allah selalu menolongnya 🔥

  4. Yang menghabiskan segala daya upayanya untuk kebaikan hamba-hamba Allah, ketahuilah bahwa ia adalah…

  5. Sultan Ali Mughayat Syah 🔥🔥

  6. Semoga Allah menyiramkan rahmat ke atas pusaranya, dan menjadikan surga tempat kembalinya 🔥

Biografi yang terkandung dalam pahatan epigraf itu memang begitu singkat, namun tentu sangat padat. Penuh akan gambaran kepribadian beserta visi misi yang diemban Sultan Ali Mughayat Syah. Bahkan sang pemahat nisan tak lupa membubuhkan pahatan simbol api, yang di zaman digital sekarang boleh kita wakilkan dengan simbol api berbentuk emoticon (🔥).

Ini berarti, masih teringat betul di benak sang pemahat tentang sultannya yang hidup dengan semangat berapi-api. Kobarannya ia abadikan dalam pahatan batu nisan, pertanda bahwa semasa hidupnya, di jiwa Sultan Ali Mughayat Syah ada api yang tak lekang oleh zaman. Selalu berkobar. Membakar.

Tujuan hidup Sultan Ali dari Aceh adalah “kasih sayang Allah” (رحمة الله) di mana ia “selalu berharap” (الراجي) kepada-Nya. Dan untuk meraih tujuan itu, beliau menjadi “orang yang selalu menaati perintah-perintah Allah” (المطيع لأوامر الله). Jalan tempuh beliau adalah dengan menjadi ksatria, “pertarung di berbagai medan tempur, baik darat maupun laut” (الغازي في البر و البحر) melawan musuh-musuhNya, sehingga “Allah menolongnya” (ينصره الله). Semua itu adalah pengabdiannya untuk menjadi pelayan rakyat, hamba-hamba Allah, yang selalu ia usahakan kebaikan untuk mereka (الباذل لعبد الله). 

Itulah gambaran salah satu founding fathers yang bangsa kita pernah miliki.

Tapi sekarang, begitu didengungkan kata “founding father”, mesti sosok yang pertama terbesit di benak adalah Soekarno. Dalam otobiografi yang ia diktekan kepada wartawan Amerika, Cindy Adams, presiden pertama Republik itu juga menggambarkan dirinya sendiri dalam paragraf yang mengawali otobiografinya di halaman pertama: “Tjara jang paling mudah untuk melukiskan tentang diri Sukarno ialah dengan menamakannja seorang jang maha-pecinta. Ia mentjintai negerinja, ia mentjintai rakyatnja, ia mentjintai wanita, ia mentjintai seni dan —melebihi daripada segala-galanja— ia tjinta kepada dirinja sendiri.” 

Soekarno adalah seorang “maha-pecinta”, namun tak ada Allah dan Rasulullah di dalam mahabbah-nya. Yang ada hanya negeri, rakyat, wanita, seni, dan diri sendiri (lucunya, hari ini ada ustaz yang menyebutnya seorang wali). Sangat kontras gambaran singkat dari sumber primer masing-masing antara dua founding fathers di zaman yang berbeda, untuk entitas politik yang tak serupa, dan output dari visi kedua sosok itu berupa kondisi ekosospolhumkam negaranya jauh dari kata sama. 

Founding fathers yang lebih dulu diceritakan, Sultan Ali Mughayat Syah, adalah pahlawan dalam arti sebenarnya, al-Ghazi di darat dan samudera. Itulah fakta yang juga disaksikan pengarang Kitab Fath’ul-Mu’in yang sangat kita kenal, Syaikh Ahmad Zaynuddin al-Ma’bari. Di kitabnya yang lain dalam genre sejarah, Tuhfah al-Mujahidin fi Ba’dhi Akhbar al-Purtugaliyyin, Syaikh al-Ma’bari menjelaskan kiprah sultan pertama Aceh tersebut: 

لم يأخذها أحد إلا السلطان المجاهد السلطان علي الآشي نور الله مرقده فإنه فتح شمطره و جعلها دار الإسلام جزاه الله عن المسلمين خير الجزاء

“Tidak ada seorang pun yang dapat merebut kota-kota pelabuhan (yang telah ditaklukkan Portugis) itu selain Sultan yang mujahid, Sultan ‘Ali al-Asyi, semoga Allah menerangkan kuburnya. Dialah yang telah membebaskan Sumatra dan menjadikannya sebagai negeri Islam. Semoga Allah membalas kebaikannya kepada Muslimin dengan sebaik-baik balasan.”

Sedangkan founding fathers Republik, ada juga ulama yang mengomentarinya. Ialah KH. Firdaus AN, ulama-aktivis Masyumi kelahiran tepi danau Maninjau yang menulis buku Dari Pendjara ke Medja Hidjau. Kalimat berikut ini adalah tentang Soekarno yang dulu dijunjung sebagai “Pemimpin Besar Revolusi”, dan begini KH. Firdaus AN menggoreskan tinta tajamnya di buku tersebut halaman 147:

“Hitler betul-betul pernah luka dalam medan perang selaku revolusioner. Tetapi Bung Karno adalah pseudo-revolusioner (revolusioner palsu), terbukti diwaktu ia mengangkat tangan menegakkan bendera putih diwaktu Belanda menjerang ibu kota Republik Indonesia, Jogjakarta. 

Tak ada dalam kamus perdjuangan, bahwa seorang jang mengangkat bendera putih kepada musuhnja harus dimasukkan kedalam barisan pemimpin revolusioner … Namun demikian seluruh tubuhnja penuh dengan bintang-bintang tanda djasa jang turun dari langit kajangan jang disematkan oleh para pendjilatnja, dan kepada Fir’aun modern abad ke-20 itupun diberikan pulalah gelar-gelar keagungan dan kesardjanaan sehingga memerlukan waktu sekian lama untuk menjebutkannja satu persatu, suatu pendewaan jang melebihi dari apa jang pernah diterima “gurunja” sendiri, Hitler; dan melebihi pula pudjaan terhadap Fir’aun abad silam.”

Demikianlah sejarah manusia, sejarah bangsa ini. Ada hitam dan juga putih. Sejarah tak boleh diglorifikasi atau pun diskreditisasi, baik buruk di masa lalu kita hormati. Tapi setidaknya kita punya akal nurani: Memilih mana yang pantas untuk dijadikan modal pembangunan karakter negeri.

Nicko Pandawa.