Penulis: Admin
Awalnya begini, saya berusaha untuk adil kepada semua buku di perpustakaan pribadi. Mana yang belum pernah saya angkat, maka saya prioritaskan. Namun, ada beberapa buku yang memang akan mendapat jatah lebih sering diangkat dalam tulisan. Buku-buku tersebut saya pisahkan ke kamar baca khusus. Tidak banyak, sekitar 500 judul yang setiap pekan saya rolling ke perpustakaan dengan buku lain; semacam seleksi buku.
Buku Arsip Fotograf İstanbul* adalah salah satu buku yang masih bertahan seleksi pekan an tersebut. Pada halaman 281 ada sebuah foto bernomor 223 dengan keterangan Masjid Fatih pada tahun 1880-1893, karya foto Abdullah Freres.
Tidak dipungkiri, bahwa yang pertama saya ingat adalah di masjid ini pernah dikumandangkan fatwa jihad kekhilafahan memasuki Perang Dunia Pertama. Boleh dianggap, ini fatwa terakhir. Fatwa ini pun jelas bukan inisiatif khalifah yang kala itu dijabat oleh Sultan Mehmed V Reşat. Kita perlu ketahui bahwa keputusan tertinggi sebenarnya dipegang oleh tiga orang pasha yang dikenal dengan istilah Paşalar. Mereka adalah Enver Paşa, Cemal Paşa, dan Talat Paşa. Ketiga petinggi dari kelompok Turki Muda (Genç Osmanlılar) ini naik ke pentas kekuasaan Turki Utsmani setelah memakzulkan Sultan-Khalifah Abdülhamid II Han melalui kudeta tahun 1909.
Pada kudeta tersebut, saya berpendapat ini sebenarnya akhir Kekhilafahan Turki Utsmani, Sultan Abdülhamid II Han terpaksa menghidupkan kembali Konstitusi yang dibekukan sejak 1878 serta mensahkan Meşruiyet atau sistem Monarki-Konstitusional yang diinginkan oleh para perwira muda Mektebi. Siapapun yang datang setelah itu akan tidak berdaya; kecuali siap mengambil kebijakan tangan besi, tentu dengan berbagai konsekuensinya.
Mehmed V Reşat adalah pilihan mereka karena dapat diatur, semacam sultan boneka.
Turki Muda menghidupkan kembali konstitusi 1876 dan membuka kembali parlemen yang sempat dibekukan oelh Sultan Abdülhamid II Han. Mereka membentuk partai Komite Persatuan dan Perkembangan (İttihat ve Terakki Cemiyeti, Committee of Union and Progress, CUP) dan memanfaatkan jaringan anggotanya di birokrasi kekhilafahan serta para perwira militer yang juga anggota maupun simpatisan CUP. Paşalar yang memimpin CUP memenangkan pemilu pertama setelah pemakzulan Sultan Abdülhamid II Han yang dengan itu menguasai kepemimpinan Turki Utsmani.
Sejujurnya sejak kekalahan pada Perang Italia 1911 serta Perang Balkan satu dan dua, 1912-1913, keuangan Turki Utsmani sudah bangkrut. Inggris, Perancis, dan Jerman berlomba memberi bantuan untuk mendapatkan konsesi. Baik sultan Abdülhamid II Han yang dikudeta maupun Turki Muda yang mengudeta sama-sama memiliki agenda reformasi terhadap birokrasi serta angkatan perang. Hanya beda pada cara. Ketiga negara Eropa sama-sama mengetahui itu dan mencoba memanfaatkannya secara ekonomis maupun politis.
Pada awalnya, CUP hendak memberikan. Konsesi pada Inggris dan Perancis. Namun, berbagai lobi politik tidak berhasil membuang kecurigaan Paşalar pada keduanya. Apalagi Enver Paşa termasuk dekat dengan Jerman karena pernah menjabat sebagai atas militer Turki Utsmani di Berlin. Apalagi sebelumnya, Jerman pada era Sultan Abdülhamid II Han sudah lebih dahulu mendekat.
Singkat kata, karena para pembaca biasanya lelah dengan tulisan panjang, maka menjelang Perang Dunia Pertama meletus kepemihakan pada Jerman sudah hampir bulat. Tidak sabar, pihak Jerman memanfaatkan isu dua kapal perang Göeben dan Breslau sebagai jebakan agar Turki Utsmani tidak mungkin lagi berpihak pada Inggris, Perancis, dan Russia. Ketiga negara ini tergabung dalam Triple Entente; sekutu pada masa itu.
Setelah kedua kapal perang Jerman itu diserahkan seolah dibeli oleh angkatan laut Turki Utsmani, langsung dipakai untuk menyerang angkatan laut Russia di Laut Hitam. Jenderal Liman von Sanders yang mengepalai misi militer Jerman di Turki Utsmani bahkan kaget dengan keberanian keputusan tersebut. Von Sanders dalam beberapa aspek politik tidak diambil pendapatnya oleh Dubes Freiherr von Wangenheim. Provokasi ini berbuntut perang. Deklarasi perang diumumkan pada sisi utara Masjid Fatih dengan sebuah balkon bongkar pasang. Secara resmi pada tanggal 11 November 1914 fatwa jihad melawan Inggris, Perancis, dan Russia dibacakan oleh Ali Haydar Efendi***.
Boleh dikatakan selain terakhir, fatwa ini tidak mendapatkan sambutan yang meriah di luar wilayah Turki Utsmani. Hal itu disebabkan karena Kaum Muslimin yang terjajah oleh kolonial Eropa mendapatkan fatwa lokal untuk tidak memberontak kepada penjajah. Nampaknya, secara umum**, mental terjajah telah meredupkan semangat perjuangan.
Berbagai upaya, termasuk pengulangan deklarasi fatwa jihad juga dilakukan di depan Masjid Nabawi, al-Madinah al-Munawwarah. Namun, Syarif Hussein bin Ali selaku pemimpin kita Makkah dan Madinah yang diangkat oleh Sultan Abdülhamid II Han menolak halus fatwa tersebut. Kita semua tahu bahwa antara Inggris dan keluarga Syarif Hussein bin Ali sudah ada hubungan gelap sejak April 1914.
Setelah Turki Utsmani kalah pada Perang Dunia Pertama, semua pelaku Paşalar melarikan diri keluar dari Turki. Mereka tidak siap dengan konsekuensi berhadapan dengan mahkamah militer Sekutu yang menduduki İstanbul. Sultan yang sudah jadi boneka sejak 1909 tidak banyak pilihan kecuali tunduk pada Sekutu. Posisi buruk itu dimanfaatkan secara maksimal oleh Turki Muda lapis ketiga. Iya siapa lagi, kalau bukan Mustafa Kemal. Ia mengambil posisi heroik dengan mengobarkan “jihad” melawan pendudukan Sekutu. Kali ini pusat gravitasi sudah bergeser dari İstanbul ke Ankara. Lahirlah Republik Turki yang sekuler menggantikan Kekhilafahan Turki Utsmani yang sekarat. Ibarat pepatah, kekhilafahan itu sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Ah, sudahlah..
Dari ust Agung Waspodo,
merasa bersalah ketika harus menulis ini dan mengabaikan yang lain, nastaghfirullah.
Depok, 19 Jumadil-Ula 1440 Hijriyah
Sumber:
Uyar, Erickson. A Military History of the Ottomans. ABC Clio. Santa Barbara: 2009.
Liman von Sanders. Fünf Jahre Türkei.
- Pada bab Camiler (masjid-masjid) DI İstanbul mulai halaman 230 sampai 307 terdapat total 76 foto masajid.
** Tentu ada beberapa kasus khusus dimana respon berupa bantuan terhadap pendanaan perang Turki Utsmani datang dari Mesir, Libya, India, bahkan Hindia Belanda (Indonesia).
*** Ahıskalı Ali Haydar Efendi (1870-1960) adalah mursyid Tarekat Naqsbendi. Beliau juga memimpin komunitas Tarekat Ali Ağa dan guru dari Sheikh Mahmud Ustaosmanoğlu. Beliau lahir di Batumi tahun 1870 dan sekolah pertama kali di Erzurum Bakırcı Medrese sebelum ke Fatih Medrese tahun 1901. Lulus dari sekolah lanjutan di Mekteb-i Nüvvab (fakultas hukum/fiqh) Medrese-tul Kuzat tahun 1906. Beliau wafat tahun 1960 di İstanbul serta dikebumikan di Edirnekapı Sakızağacı.
Foto kartu yang saya pegang diambil dari consim Pursuit of Glory dimana event/kejadian bersejarah itu dimasukkan dalam skenario pembelajaran sejarah.