Penulis: Admin
Anak-anak umur sekitar 6 tahun pernah dipekerjakan pada awal era Industri dimana kaum Kapitalis mengambil alih ototarianisme kaum Feodal. Ini karena tangan kecil dan jari jemari mereka bisa masuk ke dalam mesin untuk memperbaikinya atau untuk membersihkan penyumbatan terhadap mesin. Secara umum, pekerja bekerja keras dalam kondisi yang sulit dan tidak aman, sering bekerja 12 hingga 14 jam per hari, enam hari per minggu, tanpa istirahat makan. Lingkungan kerja buruk dan kecelakaan kerja sering terjadi.
Marx dan Engels mengecam penyalahgunaan pekerja dalam sistem kapitalis. Menurut mereka kepemilikan individu ini adalah sabab musababnya, tiada cara kecuali alat produksi seperti pabrik dan tanah wajib dikendalikan penuh oleh negara dan semua orang secara bersama mendapat pembagian kekayaan berdasarkan kebutuhan mereka sehingga semua orang bekerja keras untuk kebaikan sosial. Inilah keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Secara teori ini akan membentuk masyarakat tanpa kelas. Negara mengatur kuantitas dan kualitas (cara memperoleh) harta. Menurut Marx, filsafat Hegel hanya akan menjadi teori jika tidak diwujudkan menjadi negara. Menurut Marx dan Engels kaum revolusioner harus bersandar pada gerakan massa kelas buruh dan harus melakukan intervensi di dalam organisasi-organisasi buruh, bahwa kemenangan rakyat pekerja hanya bisa dicapai melalui aksi massa. Intervensi paling konkret dan realistis di kelas buruh adalah agitasi dan propaganda.
Marxisme tidaklah satu penasiran tunggal. Lenin, Trotsky, Rosa Luxemburg, dan yang lainnya berani menyatakan bahwa Marxisme mereka adalah yang paling benar dan menyerang penafsiran-penafsiran Marxisme lainnya (Bernstein, Kautsky, Plekhanov, Martov, Martynov, Struve, dsb.) sebagai Marxisme yang keliru.
Bagi negara berkembang, kapitalisme adalah alat penjajahan asing. Sosialisme-Marxisme banyak dianut para tokoh untuk melawan Kapitalisme termasuk Mao Zedong. Mao Zedong merasa harus men-Cina-isasi Komunisme agar lebih sesuai dengan identitas bangsa. Di Indonesia, ada Tan Malaka yang membawa Marxisme yang khas. Marhaen disebut seorang petani (meski misterius) namun ada yang menyebut akronimnya sebagai MARxisme, HEgel, dan ENgels
Hari ini banyak orang-orang dari berbagai latar belakang dan agama bahkan santri dan ustadz masih tertarik dengan Marxisme. Bagi mereka Marxisme adalah mata air pembelaan bagi kaum mustadh’afin yaitu kaum termarjinalkan baik agama minoritas, sosial ekonomi, buruh, petani, etnis, aliran kepercayaan, LGBT.
Bagi mereka konsep Islam yang dibawa kelompok kanan (Islamis) kurang seksi dan cenderung intoleran karena ada spirit hegemoni “Islam itu paling tinggi” dan term “Kafir, murtad, seiman, musyrik” . Mereka yang muak dengan kapitalisme akhirnya beralih ke Golongan Kiri.