Penulis: Admin

Yahya Cholil Staquf di sela-sela Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU), di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Kota Banjar, Jawa Barat, Kamis (28/2).kepada wartawan menyatakan kalau gagasan negara Khilafah yang diperjuangkan Hizbut Tahrir sama dengan gagasan komunisme internasional. “Jadi mereka sama dengan gagasan komunis internasional yang memungkinkan satu rezim komunis untuk satu dunia,”

Menurutnya, gerakan yang bercita-cita tentang khilafah itu tergolong gagasan baru yang sedang dipaksakan pada dunia Islam.

Gus Yahya juga mengatakan ideologi dan gerakan yang membawa gagasan secara universal seperti khilafah maupun komunis hanya menghasilkan kemelut dan kekacauan di seluruh dunia.

“Maka harus ditolak dan kembali pada asal dari nilai agama yaitu rahmah, kemanusiaan, dan akhlaqul karimah,” katanya, yang juga merupakan anggota Wantimpres itu.

Yahya Cholil, yang pernah berkunjung ke Israel dan mendukung entitas negara Yahudi itu, melakukan tiga kebohongan besar:

Pertama, ia telah memfitnah khilafah sama dengan ajaran komunis? Dari sudut mana?

Komunisme berasal dari akidah materialisme yang memberhalakan materi, memusuhi agama, membuat aturan berdasarkan dialektika historis dan dialektika materialisme. Sedangkan khilafah berasal dari ajaran Islam, akidahnya adalah tauhid, melindungi semua agama (termasuk agama di luar Islam), dan melaksanakan syariat Islam dari Allah SWT.

Rezim komunisme seperti Uni Soviet bertanggung jawab atas pembantaian hampir 10 juta muslim di seluruh negeri itu, mengubah mesjid menjadi kandang hewan, dan membunuhi para imam dan ulama yang tidak sepakat dengan kebijakan Kremlin atau Moskow lalu membuang jasad mereka ke dalam sumur.

Tapi siapapun yang pernah membaca Tarikh Khulafa – utamanya Khulafa ar-Rasyidin – tak akan pernah menjumpai kebiadaban semacam itu. Andaipun ada, dipastikan khalifah atau pejabat yang melakukannya terkategori melakukan dosa besar, karena jangankan membunuh, menelantarkan seorang bayi saja sudah kemungkaran di hadapan Allah SWT. Tapi dalam ajaran komunisme, membantai kaum beragama – khususnya umat Muslim – adalah bagian dari ajaran ideologi mereka. Jelas beda.

Kedua, hukum kewajiban khilafah bukanlah perkara baru. Justru ajaran demokrasi, republik, HAM, adalah perkara yang asing dalam ajaran Islam. Terminologi dan bahasan hukum Khilafah sudah menjadi bahasan para ulama sejak lama. Para ulama ahlussunnah, empat imam madzhab, semua menyatakan wajibnya hukum menegakkan khilafah. Misalnya Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menyatakan:

هذه الآية أصل في نصب إمام وخليفة يسمع له ويطاع، لتجتمع به الكلمة، وتنفذ به أحكام الخليفة. ولا خلاف في وجوب ذلك بين الامة ولا بين الائمة إلا ما روي عن الاصم

(Tafsir li Jami’I Ahkam al-Qur’an, juz 1 hal 264)

“Ayat ini – yakni QS.2: 30 — adalah dasar dalam pengangkatan imam dan khalifah yang (wajib) didengar dan ditaati, dan terkumpul padanya semua kalimat, dan dilaksanakan seluruh hukum-hukum khalifah. Tidak ada perbedaan dalam kewajiban hal itu di antara umat dan di antara para imam kecuali apa yang diriwayatkan dari Ashim.”

Imam al-Qurthubi adalah ulama tafsir terkemuka di abad ke-6 H. Beliau bukan ulama baru, apa yang disampaikan juga bukan perkara baru. Para ulama lain sebelum beliau juga sudah banyak membahas wajibnya penegakkan khilafah. Khilafah sudah ditetapkan sebagai taj al-furudl dan ma’lum min ad-din bi adl-dlarurah. Mahkota kewajiban dan perkara yang telah dipahami urgensinya dalam agama.

Imam al-Qurthuhi menyebut hanya Ashim yang menolak kewajiban penegakkan khilafah. Siapakah itu Ashim? Ashim adalah tokoh Mu’tazilah yang bernama asli Abdurrahman bin Kaysan al-Ashim atau yang dikenal sebagai Abu Bakar (wafat tahun 279 H). Mereka yang menolak hukum kekhilafahan bisa jadi sekutu dari orang yang telah disebut oleh al-Jalil Imam al-Qurthubi.

Ketiga, Khilafah itu menimbulkan kemelut dan kekacauan layaknya komunisme, benarkah? Hanya pencipta hoaks dan pendukung hoaks yang doyan memproduksi pernyataan semacam ini. Dari sepanjang sejarah khilafah yang hampir 14 abad, berapa kalikah terjadi suasana chaos? Perang Jamal? Perang Shiffin? Bani Umayyah vs Bani Abbasiyah? Berapa lama durasi itu terjadi? Sepanjang 14 abad? Sama sekali tidak. Lalu apakah kondisi itu mengancam seluruh negeri dan seluruh warga? Juga tidak sama sekali.

Mari bandingkan dengan pembantaian warga Indian oleh pendatang Eropa ke benua Amerika, Civil War di Amerika, penjajahan Belanda di tanah air, okupasi militer AS ke Irak, Afghanistan, belum lagi embargo mereka ke Irak. Lebih lama dan jauh lebih banyak warga sipil termasuk bayi-bayi menjadi korban. Bicaralah berdasarkan data, bukan dengan dusta.

Itung juga korban revolusi Bolshevik dan juga jumlah muslim yang dibantai oleh rezim Stalin maupun Lenin.

Dan ngomong-ngomong akhlak karimah dan kemanusiaan, apakah itu ditunjukkan dengan mempersekusi ustadz dan pengajian yang berbeda sikap politik dan madzhab? Rasanya itu tidak pernah dilakukan oleh kelompok yang rajin memperjuangkan syariah dan khilafah.

Sudahilah kebiasaan berdusta dan memfitnah agama sendiri.