Penulis: Admin

[Ust. Iwan Januar]

Banyak orang alim enggan mengkaji persoalan siyasah/politik. Sebagian mengatakan lebih utama mengkaji tauhid, akhlak, dan ibadah. Patut disadari, orang-orang alim ini kemudian tanpa sadar dipermainkan oleh para ahli bid’ah, kaum zalim, bahkan kaum kuffar untuk kepentingan mereka.

Caranya:

Pertama, orang-orang alim ini dibuat tenggelam dalam keasyikan mengkaji agama, tapi dibuat buta akan kezaliman, syirik, bid’ah dan kemungkaran di sekitar mereka. Itulah cara para pemimpin zalim membungkam kaum alim ini agar mereka tak disadari telah melanggengkan kemungkaran, kezaliman, syirik dan bid’ah di sekeliling mereka karena sikap diamnya.

Dua, mereka diminta membuat fatwa untuk mendukung penguasa sekalipun zalim, ahli bid’ah, membiarkan perbuatan syirik. Alasannya karena para penguasa itu masih mengerjakan shalat dan pemimpin yang sah.

Tiga, mereka diminta untuk membuat fatwa mengecam saudara-saudara mereka yang beramar ma’ruf nahi mungkar atas kezaliman penguasa dan kebijakan mereka yang pro perbuatan syirik dan mendukung praktek bid’ah. Tapi mereka hampir-hampir tak pernah mengingatkan penguasa atas kezaliman dan pelecehan mereka terhadap Islam.

Empat, mereka mengecam amal amar ma’ruf nahi mungkar yang dilakukan secara demonstratif, karena katanya dakwah kepada penguasa harus dilakukan secara pribadi. Tapi mengapa kecaman terhadap sesama muslim yang berdakwah justru dilakukan secara terbuka, dibuat buku-buku, kajian-kajian, dan sebagainya? Mengapa tak ada hal serupa untuk kezaliman para penguasa?

Orang alim yang tidak mau Mengamalkan ilmunya Mereka akan disiksa sebelum Disiksanya para penyembah berhala

(Hasyiyah Tsalatsatul Ushul, hal. 12)

Astaghfirullah al-azhim!