Penulis: Admin
Suhail Syahin jubir gerakan Taliban mengumumkan di Qatar bahwa terwujudnya perjanjian damai dengan negara penjajah Amerika makin mendekati kenyataan.
Ia menyatakan kepada Kantor berita Rusia Tass (25/07/19), “Saya belum bisa menjelaskan rinciannya, karena pembicaraan masih terus berlangsung. Tapi saya bisa katakan bahwa (yang belum disepakati) hanya tersisa satu atau dua paragraf terakhir. Dan sesudah tercapainya kesepakatan yang dimaksud, kami akan segera mengumumkan penandatanganan kesepakatan damai dengan Amerika. Setelah itu, akan berlangsung sejumlah kesepakatan antar berbagai kelompok kekuatan di Afghanistan.
Sesungguhnya Amerika adalah negara penjajah, pembunuh dan penghancur yang telah menduduki Afghanistan secara tidak sah. Mereka telah membunuhi, mencederai, dan mengusir jutaan rakyat Afghanistan baik dari kelompok perlawanan maupun rakyat biasa serta meluluhlantakkan negerinya. Tanpa ragu lagi, Amerika adalah musuh yang amat jahat.
Maka apakah balasan yang layak terhadap penjahat berlumuran dosa ini? Paling minimal adalah mengusir mereka keluar dalam keadaan terhina dan terusir. Karena itu yang mesti dilakukan tidak lain menghukum mereka atas apa yang telah diperbuat oleh tangan-tangan jahat mereka yang berlumur darah kaum Muslimin yang tak berdosa baik dari kalangan sipil maupun Mujahidin.
Lalu bagaimana bisa terjadi negosiasi dengan mereka untuk sebuah kesepakatan damai? Padahal Allah SWT telah menegaskan hukuman atas kaum yang bertindak melampaui batas dan mengusir orang-orang Mukmin dari kampung halaman mereka,
وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُم مِّنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُم
“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu.” (Al-Baqarah: 191)
فَمَنِ اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ
“Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu.” (Al-Baqarah: 194)
Langkah Taliban yang menerima sejumlah kompromi terhadap negara penjahat dan penjajah Amerika, dengan mengikat kesepakatan damai, sama halnya dengan apa yang terjadi di Irak. Yang mana kesepakatan damai tsb justru memberikan jaminan kelanggengan pengaruh Amerika dan sikap mengekor terhadapnya, serta keleluasaan bagi Amerika untuk campur tangan kapan pun dan dengan cara apapun. Maka melakukan kesepakatan damai dengan musuh penjajah jelas-jelas haram. Allah SWT berfirman,
فَلَا تَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ وَاللَّهُ مَعَكُمْ وَلَن يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
“Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu.” (Muhammad: 35)
Bisa saja salah seorang dari mereka kemudian berdalih bahwa Rasulullah Saw telah mengikat kesepakatan damai dengan Quraisy. Argumentasi semacam ini tertolak karena beliau Saw bukan mengikat perdamaian dengan sebuah negara yang menduduki negerinya. Ketika itu kekuasaan Mekah di tangan Quraisy, sedangkan Rasulullah Saw datang untuk menyepakati perjanjian damai selama sepuluh tahun agar beliau bisa leluasa memerangi Yahudi Khaibar yang secara diam-diam telah melakukan konspirasi jahat terhadap beliau. Mereka juga berencana hendak menjalin persekutuan militer dengan Quraisy dalam rangka memerangi negara Madinah. Pada akhirnya strategi beliau Saw ini benar-benar terealisasi.
Lantas, apakah fakta hukum (Quraisy) ini bisa diterapkan atas musuh bernama Amerika yang datang dari jarak beribu-ribu kilometer ke Afghanistan dalam rangka kampanye perang salib sebagaimana yang dideklarasikan oleh George Bush Jr.?
Tampak bahwasanya kompromi demi kompromi akan terus dituntut dari pihak Taliban. Pasca penerimaan mereka untuk bernegosiasi dengan Amerika, padahal sebelumnya menolak bernegosiasi kecuali Amerika harus keluar dulu dari Afghanistan. Kini Taliban sudah siap untuk bernegosiasi dengan rezim bikinan Amerika, padahal dulu menolak bernegosiasi dengannya karena dianggap hanya boneka penjajah Amerika. Dan fakta rezim tsb hingga saat ini masih sama, tidak ada yang berubah!
Demikian pula sikap kompromi dengan memberikan kepada negara penjajah waktu selama minimal sembilan bulan untuk keluar dari sana, sementara itu kekuatan penjajahnya sendiri menginginkan waktu maksimal 30 bulan. Kantor berita tsb menyebutkan bahwa Jubir Taliban tidak dapat memastikan berapa lama tenggat waktu bagi penarikan pasukan Amerika dari Afghanistan seperti berita yang dilansir oleh koran Amerika The Wall Street Journal dari berbagai sumber yang dimilikinya tentang usulan Amerika untuk menarik mundur pasukan dalam waktu dua setengah tahun. Sementara itu Taliban bersikukuh bahwa waktu penarikan mundur pasukan tidak boleh lebih dari sembilan bulan.
Jubir Taliban berkata, “Saya juga sudah membaca berbagai laporan tentang hal itu, tapi ini masih sedang didiskusikan dan belum ada kesepakatan soal jadwal penarikan mundur pasukan.”
Perlu dicatat bahwa yang namanya musuh wajib angkat kaki segera tanpa ditunda-tunda meskipun hanya satu hari! Juga wajib terus-menerus menentang dan melawan musuh tanpa kompromi hingga mereka terpaksa keluar sebagai orang-orang terhina lagi terusir.
Di samping itu, dalam kesepakatan tsb terdapat kompromi lain yang diungkapkan Jubir Taliban seperti dikutip Kantor Berita Rusia, “Rusia dan Cina sudah memastikan diri akan menjadi penjamin bagi terlaksananya kesepakatan-kesepakatan tsb.”
Padahal kedua negara musuh kaum Muslimin ini (Rusia dan Cina), tidak kalah sengit permusuhannya terhadap umat Islam dibandingkan Amerika. Rusialah (dulu Uni Soviet) yang telah membantai rakyat Afghanistan dan memporakporandakan negerinya. Apakah Taliban mau berpura-pura melupakannya? Rusia jugalah yang hingga kini terus membantai kaum Muslimin Suriah seraya melindungi rezim bengis Asad! Rusia juga yang menduduki Semenanjung Crimea dan menindas rakyat di sana sejak dulu hingga sekarang! Begitupun kejahatan Rusia di Chechnya termasuk meluluhlantakkan ibukota Grozny pada tahun 90-an abad yang lalu. Sungguh Rusia telah melanggar janjinya kepada rakyat Chechnya dan memperdayai mereka, lalu memaksa mereka untuk tunduk kepada penguasa bonekanya. Sebelumnya pun Rusia telah menduduki Chechnya dan wilayah Kaukasus, lalu mengusir penduduknya, menindas mereka serta membunuhi jutaan umat Islam di sana … Lantas, layakkah negara model begini sebagai negara penjamin?!
Adapun Cina, inilah negara yang menduduki Turkistan Timur, lalu membunuhi dan mengusir jutaan warganya dan hingga saat ini memenjarakan jutaan orang guna memaksa mereka murtad dari Islam dan mencap Islam sebagai suatu kegilaan! Inikah yang layak jadi negara penjamin!?
Bagaimana bisa Taliban melupakan semua hal tsb dan tidak mempedulikan nasib umat Islam yang lain, juga melupakan makar jahat Rusia dan Cina serta pengkhianatan keduanya, lalu menjadikannya sebagai negara penjamin!? Perlu diingat bahwa Rusia dan Cina lah yang paling concern terhadap penjagaan stabilitas rezim boneka buatan Amerika di Afghanistan. Tujuannya agar tidak ada bantuan apapun dari sana terhadap saudara-saudara Muslimnya yang tertindas yang ada di dua negara tsb.
Utusan Amerika Khalilzad telah berada di Doha Qatar untuk melanjutkan pembicaraan antara 22 Juli hingga 1 Agustus guna merealisasikan tujuan-tujuan Amerika. Khalilzad menegaskan bahwa, “Dialog kedua pihak telah meraih sejumlah kemajuan berupa empat butir kesepakatan, yaitu :
- Jaminan penghentian aktivitas ‘terorisme’.
- Penarikan mundur pasukan Amerika
- Partisipasi dalam dialog Afghan-Afghan
- Penghentian kontak senjata secara menyeluruh dan kontinyu.
Sementara itu, Menlu Amerika, Pompeo menyatakan bulan lalu bahwa, “Amerika mendukung kesepakatan dengan Taliban soal perluasan perdamaian di Afghanistan sebelum awal bulan September nanti.”
Jadi Amerika menganggap bahwa jihad melawan pasukan pendudukan adalah terorisme, padahal justru Amerika lah gembong teroris yang amat keji. Amerika juga ingin penghentian secara total aktivitas jihad melawan negaranya di kawasan tsb, serta pengakuan atas rezim boneka Amerika dan kesediaan Taliban untuk bergabung di dalam pemerintahannya.
Pada saat yang sama (23/07/2019), dalam konferensi pers di Gedung Putih bersama PM Pakistan Imran Khan, Presiden Trump dengan sombong, angkuh dan arogan mengancam, “Saya mempunyai sejumlah rencana terkait Afghanistan. Dan jika saya mau memenangi peperangan itu, saya bisa menghapuskan Afghanistan dari peta dunia hanya dalam tempo sepuluh hari. Tapi saya tidak mau melakukannya. Saya tidak ingin menempuh jalan semacam itu.” (Reuters).
Taliban tidak memprotes hal tsb dan memilih bernegosiasi dengan Amerika. Mestinya Taliban tidak meneruskan langkah-langkah komprominya dan hendaknya memahami bahwa di tengah-tengah umat ada kelompok orang-orang Mukmin yang mereka sama sekali tidak takut terhadap Amerika dan seluruh kekuatannya.
Sayangnya, Taliban tetap melanjutkan negosiasi yang menghinakan itu. Perihal Taliban ini seperti burung unta yang membenamkan kepalanya ke dalam tanah seraya berangan-angan bisa memenangkan negosiasi padahal negosiasi tsb justru ditujukan untuk kepentingan Amerika. Amerika saat ini hakikatnya sedang dibelit krisis akibat perang terlama sepanjang sejarahnya dan ia tidak dapat keluar sebagai pemenang. Amerika pun menderita kesakitan sebagaimana Taliban maupun rakyat Afghanistan merasakannya. Allah SWT berfirman:
وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ ۖ إِن تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisaa: 104)
Oleh karena itu, Trump menambahkan, “Sesungguhnya yang diharapkan adalah peran Pakistan dan bantuannya sebagai perantara untuk menghantarkan pada penyelarasan politik guna menghentikan peperangan yang terus berkelanjutan sejak 18 tahun lalu di Afghanistan.”
Jadi sebetulnya Amerika berada dalam situasi krisis yang sangat parah. Sebuah negara besar tapi tidak mampu memenangkan perang meskipun mempunyai kekuatan raksasa. Amerika tidak sanggup merealisasikan berbaga ancamannya. Semua ancamannya hanyalah omong kosong dan igauan belaka. Karena itulah, Trump dengan penuh kekhawatiran dan kelemahannya mengancam bakal menghapus Afghanistan dari peta dunia, sembari meminta Pakistan untuk membantu Amerika.
Padahal Pakistan sudah sekian lama membantu Amerika seperti yang diakui sendiri oleh Imran Khan dalam pernyataannya, “Pakistan telah berkorban di sisi Amerika dan telah kehilangan puluhan ribu tentara, serta kerugian lebih dari 20 milyar dolar.”
Perlu dicatat bahwa, pernyataan Trump ini mestinya dianggap sebagai ancaman buat negaranya juga Afghanistan, sehingga ia wajib membela dan melindunginya. Sayangnya, Imran Khan bukan melakukan hal tsb tapi malah mengiba kepada Amerika dan menyatakan bersedia melakukan apa saja demi menyenangkan Amerika. Dia pun bersegera memenuhi perintah Trump dengan berkata, “Saya akan segera menemui Taliban dan berupaya semaksimal mungkin untuk meyakinkan mereka agar mau ikut dalam pembicaraan bersama-sama dengan pemerintah Afghanistan.”
Akan tetapi rezim Afghanistan menampakkan seakan-akan dia menentang dengan melontarkan pernyataan kecaman. Jubir presiden Afghanistan, Shiddiq Shadiqi mengatakan, “Sesungguhnya Afghanistan tidak mentolerir sama sekali ada kekuatan asing manapun yang menentukan nasib negaranya.” Seolah-olah penguasa di Afghanistan memiliki kewenangan walau hanya secuil karena hakikatnya hanyalah boneka penjajah Amerika yang hingga sekarang Amerika lah yang mengawasi dan menyetirnya. Seandainya dia punya sedikit saja rasa malu atau marwah niscaya akan memaklumkan berlepas diri dari Amerika dan menuntutnya untuk hengkang sesegera mungkin.
Sesungguhnya posisi ketiganya yaitu, Pakistan, Afghanistan dan Taliban adalah posisi yang diliputi kehinaan. Agama mereka yang hanif tidak mengajarkan mereka bersikap demikian. Mestinya mereka bersatu padu melawan musuh dan menuntut musuh segera hengkang lalu memutuskan segala bentuk hubungan dengan penjajah dan tidak mengikat perjanjian apapun dengannya.
Kemudian menuntut ganti rugi kepada Amerika dan menjatuhkan denda pampasan perang sejumlah ratusan milyar dolar sebagai kompensasi kerugian yang telah dialaminya dan hilangnya nyawa orang-orang tak bersalah. Setelah itu mereka berupaya untuk mewujudkan persatuan hakiki antara kedua negara guna menjadikannya sebagai titik tolak tegaknya negara Khilafah yang mengikuti petunjuk kenabian dan meminta bantuan Hizbut Tahrir bagsimana merancang berdirinya bangunan negara Khilafah tsb, bagaimana operasionalnya, dan apa sistem aturannya, politiknya, serta bagaimana menghadapi Amerika, Rusia, Cina.
Selanjutnya mereka memberikan nushrah (pertolongan) dan kekuasaan kepada Hizbut Tahrir yang dengan izin Allah memiliki kemampuan menjalankan kekuasaan.
Sungguh Hizbut Tahrir telah merancang semua perkara tsb dan menyemainya, mengkristalisasinya, mensenyawakannya dalam institusinya, juga dalam diri para syababnya sehingga jadilah mereka mampu mengelola negara Khilafah tsb yang atas karunia dan fadilah dari Allah, akan menjadi negara superpower dunia.
As’ad Manshur Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir