Penulis: Admin
Ada satu pepatah bangsa Cina yang penting untuk kita renungkan; “if you have a plan for a year, plant rice. If you have a plan for a decade plant tree, but if you have a plan for a lifetime educate people.”
Bagi bangsa Cina, investasi itu dibagi tiga; jangka pendek, menengah dan seumur hidup. Jangka pendek adalah untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari. Investasi jangka panjang adalah untuk persiapan kebutuhan kita di masa depan 10-20 tahun ke depan. Tapi investasi yang lebih panjang lagi adalah pendidikan karena hasilnya dirasakan sepanjang hayat.
Negara-negara besar, rata-rata berinvestasi besar untuk pendidikan rakyat mereka. Amerika Serikat tercatat sebagai salah satu negara yang paling banyak membelanjakan dana untuk pendidikan di dunia. Demikian laporan Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD). Dalam laporan yang diterbitkan Selasa (25/6/2013), OECD mengatakan Amerika Serikat menghabiskan 7,3 persen dari produk domestik bruto untuk pendidikan. Porsi anggaran sebesar itu dibelanjakan mulai dari jenjang pendidikan anak usia dini hingga tingkat perguruan tinggi.
Setiap tahun tak kurang AS mengeluarkan uang sebanyak 270 miliar US dolar untuk pendidikan. Sementara pemerintah Jerman mengeluarkan anggaran pendidikan sebesar 129.2 miliar euro pertahun atau setara dengan 148 miliar USD. Pemerintah Indonesia pada tahun 2018 mengganggarkan pendidikan dalam APBN sebanyak Rp 444,131 triliun atau sekitar 31 miliar US$ alias ‘hanya’ 1/3 anggaran pendidikan di AS.
Di masa Khilafah Islamiyah pendidikan juga memiliki anggaran khusus dan perhatian khusus dari negara. Kota-kota besar seperti Baghdad atau Cordova memiliki kampus dan perpustakaan-perpustakaan dengan koleksi ratusan ribu buku. Para ulama kerap ‘dimanjakan’ dengan berbagai hadiah dari negara maupun pribadi para pejabat dan khalifah karena jasa mereka menyebarkan ilmu pengetahuan. Dampaknya umat saat itu menjadi addict akan ilmu. Sahabat terbaik untuk duduk yang dipilih adalah buku. Majlis-majlis para ulama penuh dengan para pencari ilmu. Dunia ilmu pun berada dalam puncak kejayaannya pada abad pertama sampai ke-empat Hijriyah.
Ilmu adalah cara yang kuat untuk menguasai dunia, juga akhirat. Pionir fikih umat ini, Imam asy-Syafi’i, pernah berpesan, “Siapa yang menginginkan dunia maka harus dengan ilmu, siapa yang menginginkan akhirat maka harus dengan ilmu, dan siapa yang menginginkan keduanya maka harus dengan ilmu.” Saat umat Muslim menggenggam ilmu, dunia pun mereka taklukkan.
Tapi bukan hanya umat Muslim yang berpikir demikian, Barat pun begitu. Bukan sekedar untuk menguasai dunia, tapi juga untuk menghancurkan peradaban Islam yang mereka anggap sebagai ancaman. Semenjak kekalahan di Perang Salib, Barat menginvestasikan banyak uang untuk membangun pusat-pusat kajian Islam yang kita kenal dengan nama orientalisme. Nyaris sama besarnya dengan investasi di bidang militer. Mereka siapkan orang-orang yang dididik untuk bisa melakukan perang pemikiran (ghazwul fikri) dan perang peradaban (ghazwuts tsaqofi) terhadap kaum muslimin. Mereka juga rekrut pemuda-pemuda Muslim yang bengkok hatinya untuk dijadikan agen-agen pemikiran Barat. Beasiswa dan berbagai fasilitas disiapkan untuk kenyamanan studi mereka. Nama-nama seperti Rifaat at-Tahtawi dan Qasim Amin di Mesir, atau Harun Nasution yang menyebarkan benih liberalisme di tanah air adalah hasil investasi manusia yang dilakukan Barat selama puluhan tahun.
Investasi manusia yang dilakukan Barat dengan tujuan mendestruksi Islam secara keseluruhan, teologis maupun politik, tak pernah berhenti. Berbagai beasiswa ditawarkan oleh lembaga-lembaga seperti USAID, Ford Foundation, dll., bukan sekedar menawarkan pendidikan yang menggiurkan, tapi juga menyiapkan mindset bagi para calon intelektual agar berkiblat pada Barat. Hasil investasi inilah yang kemudian diorbitkan sebagai teknokrat negara asal mereka, intelektual, akademisi, dan narasumber, termasuk menjadi ‘ustadz’ bagi umat Muslim, tentu semua berkhidmat pada ideologi liberalisme-kapitalisme-hedonisme ala Barat. Merekalah yang menyerukan bahwa tak ada pembangunan tanpa utang LN. Demokrasi adalah jalan para dewa. Tak lupa cela syariat Islam dan khilafah sebagai ideologi sampah.
Cemas dan prihatin? Harus, dan itu bagus. Tapi itu tak cukup hentikan Barat menggerus ideologi Islam, melainkan harus dilawan. Ketika Barat mengokang senjata pemikiran maka umat Muslim juga harus menyiapkan senjata serupa. Pemikiran dicounter dengan pemikiran.
Masalahnya, apakah umat Muslim, termasuk para pengemban dakwah sudah berinvestasi pada manusia seperti Barat? Menyiapkan kader-kader dakwah yang terdidik? Dulu, Rasulullah SAW. menyiapkan Zaid bin Tsabit ra. yang belia untuk menjadi sekretaris Beliau. Hanya butuh waktu 16 hari Zaid bin Tsabit menguasai bahasa Ibrani, sebagai modal berdakwah dan berdiplomasi dengan bangsa Yahudi. Sultan Murad 2 memanggil sejumlah ulama seperti Syaikh Aaq Syamsuddin untuk mempersiapkan anaknya, al-Fatih, agar menjadi pembukti bisyarah nabawiyah tentang penaklukkan Konstantinopel. Kaum muslimin sejak dulu paham bahwa investasi manusia amat berharga untuk kepentingan dakwah dan perjuangan Islam.
Memang investasi manusia bisa mudah saat ada Daulah Khilafah, tapi itu bisa menjadi rancu ketika kita berpikir untuk tidak berinvestasi di jaman sekarang. Investasi manusia tak bisa menunggu nanti ketika Islam sudah menjadi negara adidaya. Terlalu lama. Justru investasi manusia adalah uslub yang bisa – malah harus – dilakukan sebagai upaya membangun Islam agar menjadi kekuatan adidaya.
Dakwah membutuhkan kader-kader yang loyal tapi juga berkualitas. Bibit-bibit dakwah itu sebenarnya telah terhampar di hadapan umat, namun mereka butuh investasi untuk menaikkan kafa’ah mereka di jalan dakwah. Agar core competency mereka bisa naik dalam menandingi ideologi batil yang diusung kaum intelektual. Bukankah berat bagi seorang dai bertarung di jalan dakwah menghadapi ahli tafsir yang mbalelo? Sarjana S-1 lemparkan pemikiran ekonomi syariah untuk menghajar ekonomi neoliberalisme di hadapan doktor ekonomi lulusan Berkeley? Karenanya dakwah ini membutuhkan investasi, dan salah satunya investasi manusia.
Tapi sayang investasi untuk pengembangan manusia di jalan dakwah ini belum menarik perhatian banyak pihak. Orang masih mabuk kepayang dengan sedekah membangun mesjid, tebar nasi bungkus bagi kaum dluafa, membangun Islamic Centre dan mesjid, mengumrohkan orang, dll., tapi belum banyak yang terpikir untuk menginvestasikan hartanya untuk mendidik hamalatud dakwah. Sedekah memang amal soleh tapi perhatikanlah bobotnya lebih banyak bermanfaat bagi si pemberi infak, belum pada umat. Namun ketika Anda menginvestasikan harta untuk mendidik para dai, dampaknya akan terasa bagi umat, bahkan sepanjang zaman. Karena para dai yang terdidik ini akan bertarung di medan dakwah menyelamatkan umat dan mengalahkan ideologi batil.
Pernahkah terpikir untuk menginvestasikan harta Anda membangun rumah binaan untuk calon-calon dai? Mengalokasikan harta Anda untuk mengirim dai kuliah ke luar negeri, membiayai mereka untuk melanjutkan pendidikan ke strata lebih tinggi agar menjadi dai yang mumpuni pada bidangnya? Sementara tak jarang dai muda yang notabene anak kuliahan terseok-seok antara dakwah dan kuliah serta tuntutan mencari ma’isyah. Bukan saja harus membagi waktu, mereka juga harus membagi jatah uang bulanan untuk makan, sewa rumah kos dan ongkos dakwah. Bukankah menjadi amal yang besar, dan harta Anda akan barakah, ketika membantu langkah dakwah mereka dengan ‘menginvestasikan’ harta Anda pada mereka?
Sungguh kita sudah kalah langkah dengan kaum orientalis dan misionaris yang berinvestasi dalam nilai besar untuk mengkaderisasi agen-agen mereka dalam melawan Islam. Mereka sudah berpikir jauh – bahkan amat jauh – untuk masa depan mereka, sementara kita masih sibuk dengan amalan fardliyah dan luput menyiapkan barisan pejuang Islam yang tangguh dan berkualitas. Ataukah kita berpikir bahwa dakwah cukup dengan keadaan seperti ini, dan tidak perlu akselerasi untuk melejitkannya? Kalau demikian, sayang sekali.