Penulis: Adi Victoria
Oleh: Adi Victoria
Benar bahwa berdakwah itu adalah amal yang mulia, karena dakwah awalnya adalah tugas utama Nabi dan Rasul [مهمّة الرّسل]
Aktivitas dakwah juga adalah aktivitas yang mulia, para penyerunya adalah mereka yang memiliki perkataan terbaik.
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” [Surat Fussilat Ayat 33]
Namun… Para Da’i lah yang juga memiliki “beban” tersendiri. Karena mereka akan dihisab atas setiap seruan mereka dalam berdakwah.
Murka Allah terhadap mereka yang tidak melakukan apa yang mereka katakan.
Allah berfirman dalam surah Ash Shaf ayat 2 dan 3 :
يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ
- “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?”
كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ
- “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
Bahkan Imam Ahmad, yang menulis Musnad Imam Ahmad, berkata :
“Tidaklah aku menulis suatu hadits, kecuali aku mengamalkannya. Sampai-sampai aku mendengar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dan memberikan juru bekam upah satu dinar, lalu aku pun berbekam dan memberikan upah satu dinar kepada juru bekam.”
Masya Allah… Padahal beliau hanya menulis hadist, bukan sedang menyampaikan sebuah hadist.
Itulah kenapa kemudian, ada pepatah yang mengatakan “Da’i itu harus bersikap keras terhadap dirinya, namun ia berlemah lembut terhadap orang lain (yang ia dakwahi).