Penulis: Admin

Membaca penjajahan dari sisi lain

Saat di kampus dulu, ada satu pegangan yang Saya pegang baik-baik. Mumpung di kampus, fikiran harus terbuka, harus berani berdialog, berdialektika, membuka fikiran atas pendapat-pendapat yang seakan bertentangan dengan apa yang diyakini benar.

Budaya berfikir terbuka ini membuat diri kita mampu berteman dengan berbagai pihak. Budaya berfikir terbuka ini juga membuat kita diterima baik di berbagai elemen. Hingga saat ini Saya meyakini bahwa membuka ruang diskusi lebih baik untuk pengembangan diri.


Untuk kesekian kalinya, tulisan Saya yang berjudul “Melawan Tatanan Kezaliman” kembali disambut sengan 2.000++ likes dan 1.200++ share dalam 2 hari. Nampaknya tulisan tentang VOC beresonansi di hati anak negeri yang rindu narasi heroisme perlawanan. Secara tidak sengaja, tulisan tersebut juga mengundang berbagai pihak untuk mengutarakan pendapatnya.

Salah satu akun yang menarik perhatian Saya adalah akun Wukir Mahendra, nama pena dari anonim ini sangat menantang fikiran. Beliau menyampaikan narasi pembandimg atas tulisan Saya, yang menurut Saya layak untuk kita lihat sebagai sudut pandang lain dalam melihat penjajahan.

Saya sampaikan beberapa printscreen dari Mas Wukir Mahendra, dan Saya rangkumkan beberapa kesimpulan Saya atas pemikiran Mas Wukir.

  1. VOC hanya perusahaan dagang, bukan negara.

VOC hanyalah perusahaan kongsi dagang yang bertujuan mencari keuntungan. Sebuah organisasi profit dengan kekuatan kongsi modal terbesar saat itu. Dikenal sebagai perusahaan multinasional pertama di dunia.

Adapun VOC memiliki tentara, itu mirip seperti perusahaan yang punya petugas keamanan. Security lah. Yang menjamin keamanan jalur perdagangan dari bentuk kekerasan. Jadi kehadirannya bukan sebagai instrumen kekerasan yang memaksa.

  1. VOC berinvestasi wajar, seperti perusahaan asing hari ini.

Apa yang dilakukan VOC murni kerja investasi pada lahan yang dinamakan india timur. VOC ingin memaksimalkan perolehan pada lahan india timur. Lahan tropis yang bisa ditanami apa saja sepanjang tahun merupakan kekuatan geografis yang akhirnya membawa nusantara pada posisi penghasil gula terbesar dunia, kopi, lada teh dan rempah favorit lainnya.

Jauh dari imajinasi film avatar, dimana manusia menduduki planet untuk menjarah sumber daya, VOC hadir wajar sebagai perusahaan yang menawarkan konsep perdagangan.

  1. Penguasaan VOC atas tanah sebenarnya bukan pendudukan, tetapi dibeli legal ke para tuan tanah.

Lanjutan dari poin 2, salah satu pendekatan investasinya adalah melakukan pembelian tanah secara massive kepada “Land Lord” atau tuan tanah. Secara de yure, para Raja Nusantara inilah yang memiliki lahan rakyat. VOC beli baik-baik dengan negosiasi, dan akhirnya menguasai lahan secara massive.

Berikutnya karena lahannya milik VOC, jadi suka-suka VOC mau diapakan. Pribumi yang bekerja di lahan VOC dihitung sebagai mitra kerja dan karyawan.

  1. Culturstelsel bukan tanam paksa, tetapi hanya perkebunan homogen.

Dalam pendekatan industri pertanian, dengan penanaman homogen pada sekawasan lahan, maka produktifitas akan meningkat. Culturstelsel bukan tanam paksa, melainkan hanya konsep penanaman homogen atas lahan yang telah dibeli sah oleh VOC ke tuan-tuan tanah.

Karena lahan milik VOC, manajemen perkebunan milik VOC, maka rakyat yang menanam, para pribumi dihitung sebagai pekerja.

  1. VOC hanya memanfaatkan konflik antar elite di kerajaan-kerajaan nusantara.

Mengapa tuan-tuan tanah ini menjual sebegitu banyak lahan ke VOC? Itulah yang harus disadari, bahwa kerajaan-kerajaan di nusantara ini mengalami masalah yang sama pada hal suksesi, yaitu perebutan kekuasaan paska mangkatnya raja. Game of Thrones.

Perebutan kekuasaan ini akhirnya menjadi celah bagi VOC untuk “mensponsori” salah satu pihak atau bahkan kedua-duanya untuk berperang dan berkonflik. Siapapun yang menang, VOC akan menjadi bohirnya. Dimana komitmen paska berkuasa adalah dengan memudahkan VOC menguasai lahan-lahan di di nusantara.

Jadi, kelompok elite pribumi ini sumber masalah inti ternyata. Kok tega-teganya jual sebegitu luasan tanah ke VOC, dan kok tega-teganya berhutang gulden ke VOC guna menggempur saudara senusantara.

  1. Pemerintah Hindia Belanda telah berlelah-lelah mengundang investasi asing paska VOC Bankrut.

1800 VOC bangkrut. Setelah beroperasi hampir 200 tahun di nusantara, VOC bangkrut akibat korupsi dan penggelapan di internal mereka. Dari tulisan mas Wukir, putaran modal ini berpindah dari amsterdam ke wallstreet. Jadi yang di wallstreet sekarang ini, turunan derivatif dari VOC sejak 4 abad yang lalu. Tatanan permodalan yang mencengkram dunia.

Nah, pemerintah Hindia Belanda ini telah bekerja keras menghadirkan pendanaan bagi pembangunan di nusantara, terutama pulau Jawa. Jadi pemerintah Hindia Belanda ini sebenarnya membangun, jauh dari teori menjajah.

  1. VOC berjasa pada pembangunan negeri.

Kesadaran yang cukup mengagetkan adalah bahwa.. dengan hadirnya VOC lah, negeri Indonesia ini memiliki pondasi untuk menjadi sebuah bangsa.

Pusat pemerintahan Batavia sekarang Jakarta : mirip-mirip.

Konsentrasi ekonomi berada di tanah jawa : mirip dengan pergerakan VOC di 4 abad yang lalu. Memusatkan ekonomi di Jawa.

Hampir 80% lebih jalur rel kereta adalah warisan Belanda.

Jalan Anyer - Panarukan yang dibangun Daendels menjadi urat utama awal pertumbuhan di pulau Jawa.

Itulah 7 poin simpulan atas berbagai artikel dan komentar yang dutulis oleh Mas Wukir.


Hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik guna bekal melangkah di masa depan :

  1. Sumber daya alam tanpa kekuatan modal akan pincang.

Sumber daya alam yang ada di negeri ini given. Dia sudah ada di alam Nusantara. Untuk mengekstraksinya lalu mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai tambah, maka dibutuhkanlah modal untuk melakukan proses tambang dan pengolahannya.

Maka pada masa kemerdekaan 1.0 ini, kita sebagai anak bangsa pegiat ekonomi harus memikirkan konsep pendaya gunaan modal anak negeri. Bagaimana 150 juta angkatan kerja anak bangsa ini mampu menghadirkan kekuatan permodalan yang kokoh dan kolektif bagi pergerakan ekonomi nasional. Intinya, melawan wallstreet lah.. hehehehe…

  1. Pencapaian ilmu adalah jalan kesejahteraan.

Saya meresapi, pertempuran ekonomi antar VOC versus raja-raja nusantara tidak berimbang dari segi keilmuwan. VOC hadir dengan ilmu arsitektur, infrastruktur, psikologi, ilmu adu domba, rekayasa finansial, agrikultur, irigasi, fluida teknik, militer, sastra, sosial, … jadi entitas VOC ini memang memiliki perangkat berfikir yang lengkap untuk “menang dagang”.

Sementara lahan India Timur aka tanah jawa di tahun 1600 jelas tertinggal pada level pemikiran, dibandingkan bangsa eropa yang sudah memiliki rencana mendalam dalam mengekstraksi bumi nusantara. Kita kehadiran kelompok yang PUNYA RENCANA DAN ILMU atas Nusantara.

Sebagai anak bangsa, pada hari ini kita harusnya merencanakan penguasaan keilmuwan yang serius dan seksama. Sederhana : agar bisa menang dalam perang dagang yang ada.

Jika ilmu kita gak sampai, kita akan mengulangi sejarah untuk di adu domba sebagai anak bangsa. Cicit-cicitnya VOC akan masuk lagi menguasai lahan-lahan di Indonesia. Eh… udah kejadian ya? Hehehehe…

  1. Pendekatan geopolitik dan geoekonomi yang lebih canggih di masa depan.

Kita hidup di ekosistem dunia. Lokasi kita diapit 2 samudera, 2 benua, jadi lalu lintas ekonomi dunia. Letaknya juga dahsyat banget, berada di garis katulistiwa. Ketak tropis, bisa ditanami sepanjang tahun.

Sesama warga dunia pasti punya kepentingan. Amerika punya kepentingan kepada kita, kita juga punya kepentingan dengan Amerika. Kita impor gandum dan kita juga ekspor tekstil ke Amerika. China punya kepentingan dengan kita, One Belt One Road (OBOR), kita juga punya kepentingan ke China. Ya wajar lah… pergaulan dunia… kita saling terikat dan terhubung.

Nah, yang harus jadi cara main kedepan, belajar dari sejarah 5 abad kebelakang nusantara, nampaknya kita harus merancang hubungan yang sejajar dan tidak lagi inferior.

Contohnya seperti investasi asing, oke lah uangnya dari Asing, tetapi bagaimana pun mereka beroperasi di wilayah tanah air kita, hitungan investor harusnya sederhana, selama menguntungkan, harusnya OK-OK saja. Jadi jangan sampai merugikan kita sebagai anak bangsa.

kerjasama dengan bangsa-bangsa lain, atau entitas perusahaan asing yang ingin bekerja sama dengan negeri ini, perlu dirancang secanggih mungkin agar dampak kesejahteraannya maksimal.


Nampaknya serial tulisan tentang penjajahan berakhir disini. Sengaja Saya hadirkan dua tulisan dengan dua kutub pemikiran yang berbeda, agar kita kemudian dapat memahami dengan objektif dan komprehensif, tentang apa yang terjadi selama ini.

Disinilah peran dari kita sebagai entitas pegiat usaha bangsa ini. Sudah saatnya kita berfikir tentang kerja-kerja ekonomi yang menguntungkan segenap anak bangsa. Sebuah kerja bisnis yang pro rakyat, sebuah kerja ekonomi yang memastikan maksimalnya raihan ekonomi dari hasil alam negeri.

Semoga dapat memaknai…

Terima kasih mas Wukir Mahendra atas pandangan berbedanya. Terima kasih atas dialog yang sudah terjadi. Semoga kita dapat merancang jalam terbaik guna melangkah ditengah tentakel VOC yang masih tersisa. Hehehehe…

Rendy Saputra Serikat Saudagar Nusantara