Penulis: Dr Budi Handrianto

Oleh: Dr Budi Handrianto

Peristiwa Pertama Setelah Khadijah dan Abu Thalib wafat, tekanan terhadap dakwah Rasulullah saw makin menjadi jadi. Sampai-sampai beliau saw mengatakan, ”Setelah Abu Thalib wafat, barulah aku mengalami gangguan yang paling tidak kusukai dari orang-orang Quraisy.” (Ibnu Ishaq, I/258).

Abdullah bin Mas’ud berkata, ”Pada suatu hari di saat Rasulullah saw sedang shalat di dalam Ka’bah, Abu Jahal dan beberapa kawannya duduk tak seberapa jauh dari beliau. Abu Jahal teringat, kemarin ada beberapa ekor kambing telah disembelih. Ia kemudian berkata kepada kawan-kawannya, ’Siapakah di antara kalian yang mau mengambil isi perut kambing dari Bani Fulan untuk diletakkan di atas pundak Muhammad waktu ia sujud ?’ Salah seorang dari mereka yang paling jahat segera berangkat mengambil kotoran tersebut. Di saat Rasulullah saw sedang sujud, isi perut kambing yang sangat kotor itu mereka letakkan di atas pundak beliau. Setelah itu mereka tertawa terbahak-bahak sambil saling memandang. Ketika itu aku (Ibnu Mas’ud) hanya bisa berdiri menyaksikan tingkah laku merka. Seumpama ketika itu aku mempunyai kekuatan untuk menghadapi mereka, tentu kotoran itu akan kuambil dan kusingkirkan. Rasulllah saw terus sujud, tidak mengangkat kepalanya sehingga ada seseorang yang pergi memberitahu Fathimah, putri beliau. Fathimah yang masih anak-anak itu tiba, lalu ia segera menyingkirkan kotoran itu sambil berteriak memaki-maki gerombolan Abu Jahal.

Seusai shalat, dengan suara keras Rasulullah saw berdoa. Tiap permohonannya kepada Allah diucapkan tiga kali. Beliau saw mengucapkan, ”Ya Allah, binasakanlah orang-orang Quraisy itu,” diulang tiga kali. Mendengar doa beliau itu mereka laangsung berhenti tertawa dan tampak ketakutan.

Beliau saw berdoa lagi, ”Ya Allah, binasakan Abu Jahal bin Hisyam, Uthbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Al Walid bin Uthbah, Umayyah bin Khalaf, Uqbah bin Abi Mu’aith…! Beliau saw menyebut nama yang ketujuh, tetapi aku tidak ingat siapa dia.”

Ibnu Mas’ud melanjutkan, ”Demi Allah yang telah mengutus Muhammad saw pembawa kebenaran. Orang-orang yang namanya disebut Rasulullah saw itu semuanya tewas dalam perang Badar. Kemudian mayat mereka diseret-seret dan dimasukkan ke dalam sumur yang sudah kering.” (HR Bukhari, Muslim, An Nasaa’i, dan Ahmad bin Hanbal) Kalimat yang berbunyi ”Beliau saw menyebut nama yang ketujuh tapi aku tidak ingat siapa dia” sesungguhnya adalah Abi Ishaq, yang dalam riwayat Muslim disebut dengan nama As Suba’i. Dalam hadits Bukhari dan Ahmad bin Hanbal orang yang ketujuh itu disebut dengan nama Imarah bin Al Walid.

Peristiwa Kedua Masih di masa-masa sulit perjuangan Rasulullah saw periode Mekkah. Saat itu bulan Syawal tahun 10 kenabian atau tepatnya penghujung Mei atau awal Juni tahun 619 M, Rasululllah saw pergi menuju kota Thaif yang letaknya sekitar 60 km dari Mekkah. Beliau datang dan pergi ke sana dengan berjalan kaki didampingi anak angkatnya Zaid bin Haritsah. Setiap melewati satu kabilah beliau saw mengajak mereka untuk memeluk Islam. Namun tidak satu kabilahpun yang memberikan respon positifnya. Tatkala tiba di Thaif, beliau saw mendatangi tiga orang bersaudara yang bernama Abdul Yalail, Mas’ud dan Habib. Ketiganya adalah putra dari Amr bin Umar Ats Tsaqafi. Beliau duduk-duduk bersama mereka seraya mengajak kepada Allah dan memeluk Islam.

Salah seorang dari mereka berkata, ”Jika Allah benar-benar mengutusmu maka Dia akan merobek-robek pakaian ka’bah.” Yang lain lagi berkata, ”Apakah Allah tidak menemukan orang lain selain dirimu ?” Orang terakhir mengatakan, ”Demi Allah ! Aku sekali-kali tidak akan mau berbicara denganmu ! Jika memang engkau seorang rasul, sungguh engkau terlalu agung untuk dibantah ucapanmu dan jika engkau seorang pendusta terhadap Allah maka tidak patut pula aku berbicara denganmu.”

Dengan penolakan mereka Rasulullah pun berdiri dan meninggalkan mereka seraya berkata, ”Jika kalian melakukan apa yang telah kalian lakukan (maksudnya menolak ajakan) maka rahasiakanlah tentang diriku.” Maksudnya Rasulullah berharap penolakan ketiga orang tersebut tidak mempengaruhi penduduk Thaif lainnya.

Rasulullah saw tinggal di tengah penduduk Thaif selama sepuluh hari. Dan selama masa itu beliau saw tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu dengan para pemuka mereka. Namun jawaban mereka, ”Keluarlah engkau dari negeri kami.” Mereka membiarkan beliau saw menjadi bulan-bulanan orang-orang tak bermoral di kalangan mereka. Maka tatkala beliau saw ingin keluar, orang-orang tersebut beserta budak-budak mereka mencaci maki dan meneriaki beliau sehingga khalayak berkumpul. Mereka menghadang Nabi saw dan Zaid dengan membuat dua barisan, lalu melempari mereka dengan batu dan mencaci makinya dengan ucapan-ucapan tak senonoh. Kemudian menghujani tumit beliau saw dengan batu sehingga kedua sandal yang beliau pakai berlimbah darah.

Zaid bin Haritsah yang bersama beliau menjadikan dirinya sebagai perisai untuk melindungi diri Nabi saw. Tindakan ini mengakibatkan kepalanya mengalami luka-luka, sementara orang-orang tersebut terus melakukan itu hingga memaksanya berlindung ke sebuah kebun milik Uthbah dan Syaibah yang terletak 3 mil dari kota Thaif. Manakala sudah berlindung di sana, merekapun meninggalkannya.

Selanjutnya Imam Bukhari meriwayatkan rincian kisah ini dengan sanadnya dari Urwah bin Az Zubair bahwasanya Aisyah pernah bertanya kepada Nabi saw, ”Apakah engkau pernah mengalami suatu hari yang lebih berat daripada perang Uhud (perang di mana kaum muslimin dikalahkan) ?”

Beliau saw bersabda, ”Aku pernah mendapatkan perlakuan kasar dari kaummu. Tetapi perlakuan mereka yang paling berat yang aku rasakan adalah pada waktu di ’Aqabah ketika aku menawarkan diriku kepada Ibnu Abdul Yalail bin Abdul Kallal tetapi dia tidak menanggapi apa yang aku inginkan sehingga aku beranjak dari sisinya dalam keadaan sedih. Aku tidak lagi menyadari apa yang terjadi kecuali setelah dekat tempat yang bernama Qarn Ats Tsa’alib (sekarang disebut Qarn al Manazil). Waktu itu aku mengangkat kepalaku, tiba-tiba datang segumpal awan menaungiku. Lalu aku melihat ke arahnya dan ternyata di sana ada Jibril yang memanggilku. Dia berkata, ’Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan tanggapan mereka terhadapmu. Allah telah mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan kepadanya sesuai keinginanmu terhadap mereka.’

Malaikat penjaga gunung tersebut memanggilku dan memberi salam kepadaku. Kemudian berkata, ’Wahai Muhammad, hal itu terserah padamu. Jika engkau menghendaki aku meratakan mereka dengan Al Akhasyaibain maka akan aku lakukan.”

Nabi saw menjawab tawaran malaikat tersebut, ”Aku berharap kelak Allah memunculkan dari tulang punggung mereka suatu kaum yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (HR Bukhari dan Muslim)

Analisis

Mengapa pada kasus yang pertama Rasulullah saw demikian marah dan langsung mengutuk mereka yang menganiaya dirinya ? Mengapa pada kasus yang kedua Rasulullah tidak menerima tawaran untuk menghancurkan penduduk Thaif tapi justru mendoakan agar keturunannya ada yang beriman? Mengapa ketujuh orang Quraisy itu tidak didoakan saja agar mendapat hidayah, minimal keturunannya ? Mengapa penduduk Thaif tidak dihancurkan saja padahal Rasulullah mampu melakukan itu ?

Jawabnya adalah, pada peristiwa pertama orang-orang Quraisy yang menghina Rasulullah dan didoakan agar celaka karena mereka adalah para pemimpin Quraisy. Sedangkan peristiwa kedua yang menyakiti Rasulullah dan Zaid adalah rakyat biasa bahkan sekedar budak-budak yang disuruh majikannya. Pelajaran yang didapat dari kedua peristiwa di atas, seorang pemimpin jangan sekali-kali menghina agama Allah. Janganlah demi kepentingan pribadi dan memuaskan hawa nafsunya sendiri ia mengeluarkan statement yang menghina agama dan melecehkan ayat-ayat Allah. Seorang pemimpin akan diikuti rakyatnya. Jika dia menghina dan melecehkan Islam, maka tunggulah balasan Allah lebih dahsyat.