Penulis: Dr. Adian Husaini
Oleh: Dr. Adian Husaini (Pendiri Pesantren at-Taqwa Depok/Ketua Program Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor)
“Kamu adalah umat terbaik, yang dilahirkan untuk manusia. Kamu menyuruh kepada yangmakruf dan mencegah kemunkaran; dan kamu beriman kepada Allah.” (QS 3:110). DanRasulullah s.a.w. bersabda, “Setiap kamu adalah pemimpin dan kamu akan dimintaipertanggungjawaban atas apa yang kamu pimpin.”
Umat Islam adalah umat yang mulia. Umat yang diserahi tugas mewujudkan rahmatan lil alamin, memakmurkan bumi dan mewujudkan keselamatan bagi manusia, didunia dan akhirat. Umat Islam akan menjadi saksi atas manusia. Sebab kata Nabi s.a.w, Al Islamu ya’lu wal yu’la alaihi. Islam itu tinggi. Tidak ada yang lebih tinggi dari Islam. Begitulah yang sering kita dengar dari ayat-ayat maupun hadits Nabi s.a.w.
Dulu, generasi-generasi pertama umat Islam, masa shahabat dan tabi’in, tentu tidak sulit mengerti makna ayat-ayat tersebut. Saat itu mereka memang benar-benar menjadi umat yang disegani. Sering kita dengar musuh-musuh Islam sudah gemetar duluan tatkala mendengar tentara Islam datang. Dalam benak mereka terdapat persepsi: tentara Islam tidak dapat dikalahkan. Menghadapi apapun, umat Islam kala itu tidak gentar. Ingatlah, seorang Khalid bin Walid yang memandang ratusan ribu tentara Romawi dalam Perang Yarmurk, hanya laksana lalat saja! Dan itu terbukti, pasukan Islam yang hanya puluhan ribu mampu mengalahkan Romawi yang ratusan ribu! Tengok pula bagaimana seorang Ja’far bin Abi Thalib, dalam keadaan terjepit dalam pengungsian di Habasyah, mampu mengeluarkan argumen-argumen jitu di hadapan raja Najasi dan pembesar-pembesar Habasyah. Juga bagaimana kaum muslimin di bawah Khalifah Muhammad al-Fatih dengan gagah berani menaklukkan ibukota Romawi,Konstantinopel (sekarang Istambul), sebuah imperium yang besar dan hebat di dunia tanggal 29 Maret 1453.Tentu tidak akan ada habisnya kita bercerita tentang pribadi-pribadi besar di kalangan umat Islam. Mereka menggoreskan tinta emas bagi sejarah kehidupan manusia.
Kita kenal pribadi Hamka, yang dengan tegas menolak permintaan pemerintah agar fatwa natal dicabut. Demi menjadi kemandirian, sejak awal Hamka menolak berkantor di Istiqlal dan digaji sebagai ketua MUI. Maka, tatkala situasi menuntut mundur dari MUI, bukan masalah baginya. Keteguhan, keberanian, keikhlasan dan kecerdikan senantiasa menyatu pada diri tokoh-tokoh panutan umat.
Haji Agus Salim, dengan jenggotnya yang khas, ketika diledek lawan-lawan politiknya, ia teguh pendirian dan pandai berargumen. Saat beliau sedang berorasi, lawan-lawannya mengejeknya dengan cara mengembik. Di tengah-tengah orasinya, beliau diam memandangi sebagian orang yang menghinanya. Lalu berkata, “Maaf, para kambing. Saya sedang berbicara dengan manusia. Saya faham anda tidak mengerti bahasa manusia, oleh karena itu silakan kalian tunggu di luar. Setelah selesai bicara dengan manusia saya akan melayani anda dengan bahasa Anda. Sebab, saya ahli dalam berbagai macam bahasa.”
Ketika berdebat dengan orang belanda di konsulat Jeddah Arab Saudi, Agus Salim yang sangat cerdas dan menguasai banyak bahasa asing itu disentil, “Anda jangan merasa pintar sendiri. Banyak orang pintar selain anda.” Dengan santai Agus Salim menjawab, “Memang banyak orang pandai di dunia ini. Tapi sampai saat ini saya belum bertemu dengan orang tersebut.” Demikian ungkapan beliau secara diplomatis untuk mengatakan bahwa orang Belanda tersebut bukan orang pintar. Adakah kini orang-orang seperti mereka? Tentu jawabnya: Ada. Namun repotnya barangkali jumlah mereka terlalu kecil dibanding kebutuhan. Yang jelas, kita merasakan orang-orang yang layak menjadi panutan semakin langka. Kalaupun ada, integritasnya pun diragukan dengan sikap dan pernyataan-pernyataan mereka yang plin plan dan membingungkan umat. Padahal secara alami harus kita akui orang-orang yang memiliki bakat sebagai pemimpin berkualitas jumlahnya tidak banyak. Nabi s.a.w. bersabda, “Manusia itu laksana barang tambang. Siapa yang terbaik diantara kamu di masa jahiliah, ia akan terbaik pula di masa Islam, jika ia faqih (alim).” Allah menciptakan manusia dalam kapasitas yang tidak sama satu sama lainnya. Ada yang cerdas ada pula yang bodoh. Ada yang terlahir di tengah keluarga kaya, cukupan atau miskin. Ini kenyataan. Karena itu, tanggung jawab tiap orang tentu berbeda. Tergantung besar kecilnya nikmat Allah yang dikaruniakan kepadanya. Jika seseorang berpotensi besar, berotak cerdas, berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi, mampu dalam hal materi (harta), lalu tidak mengoptimalkan potensinya, maka ia berarti telah menyia-nyiakan karunia Allah tersebut. Ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang itu.
Maka, jika anda termasuk golongan pemuda dan kaum muslimin, ingatlah posisi tersebut dalam perjuangan dan dakwah Islam. Sadarlah bahwa anda adalah bibit-bibit unggul berkualitas, aset umat yang kehadirannya ditunggu, untuk mengubah nasib mereka.
Maka,sungguh keterlaluan jika anda bersikap egois, memikirkan diri sendiri. Nabi s.a.w. bersabda, “Barangsiapa bangun di pagi hari dan tidak memikirkan kondisi kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan itu.” Na’udzubillah min dzalik.
Umat menunggu uluran tangan anda. Artinya, umat berharap di masa depan, entah beberapa puluh tahun lagi, andalah orang yang mampu membimbing umat ke jalan kebenaran. Juga menghilangkan belenggu-belenggu yang memasung kebebasan dan kejumudan mereka. Ringkasnya, anda saat ini berkesempatan mengasah pribadi anda. Tidak ada istilah terlambat. Suatu saat kelak hasil asahan tersebut akan menjadi intan berlian, bukan sekedar batu arang.
Jadilah pemimpin. Jangan puas jadi pengikut. Mengapa Harus jadi Pemimpin ?Ali bin Abi Thalib pernah melontarkan ungkapan, “Kebenaran tanpa tata aturan yang rapi akan dikalahkan kebathilan yang tertata rapi.” Sudah menjadi sunatullah, suatu aturan atau organisasi agar berjalan dengan baik memerlukan kepemimpinan yang baik pula.
Dalam istilah manajemen kita mengenal istilah POAC (Planning, Organizing, Acting, Controlling). Keempat unsur menajemen tersebut tidak akan berfungsi tanpa faktor kepemimpinan. Harus ada pemimpin yang piawai yang menggerakkan orang-orang di sekitarnya sehingga keempat fungsi manajemen berjalan dengan baik. Ini wajar sekali.Karena itu Rasulullah s.a.w. memerintahkan, jika anda bepergian dengan sebanyak tiga orang, angkatlah salah seorang menjadi pemimpin. Itu kelompok kecil manusia. Apalagi masyarakat. Pasti mereka membutuhkan pemimpin yang mampu menggerakkan anggota masyarakat menuju tujuan bersama yang telah disepakati. Relakah kita apabila umatm emilih panutan orang-orng yang tidak karuan agamanya, atau bahkan dari agama lain, disebabkan tidak adanya kader-kader umat yang muncul?
Jangan salahkan orang-orang lain yang akhirnya menjadi panutan masyarakat. Sebab mereka memang lebih mampu dari kita. Jangan salahkan masyarakat jika mereka begitu gandrung dengan pemikiran-pemikiran para tokoh sekuler-liberal atau ateis, untuk menyelesaikan problema ekonomi mereka. Atau umat perlu mengemis kepada fund manager perusak ekonomi dunia, dengan harapan mereka akan menyelamatkan perekonomian negara. Atau umat akhirnya mengidolakan dan memilih pemimpin yang komitmen keislamannya tidak jelas. Jangan salahkan mereka. Mari kita salahkan diri kita sendiri, bahwa kita belum bekerja keras 12 jam sehari demi memperjuangkan apa yang kita cita-citakan!
Relakah kita, sebagai bagian dari tubuh umat Islam membiarkan bagian tubuh lainnya digerogoti oleh ulat-ulat yang ganas. Tidakkah kita merasa sakit ketika melihat umat dibantai, dilecehkan, dirusak aqidahnya, diperkosa kehormatannya, ditindas ekonominya, dipasung kebebasannya dan dininabobokkan dengan harapan-harapan kosong. Tegakah kita melihat keadaaan umat seperti yang digambarkan Rasulullah s.a.w., laksana makanan lezat yang dikelilingi orang-orang kelaparan.
Maka, jadilah pemimpin! Jadilah orang yang berkualitas pemimpin. Kepemimpinan tidak bisa dipaksakan. Berbeda dengan kekuasaan. Kepemimpinan harus melalui proses, yang butuh waktu relatif panjang. Sehingga kehadiran dan kemampuan serta keteladanannya diterima di masyarakat. Sedangkan kekuasaan bisa saja dipaksakan. Seorang penguasa selama ia menduduki jabatan bisa saja bertahan, walau bagaimana pun sikap hidupnya. Seorang suami bisa menjadi penguasa bagi istri dan anak-anaknya. Tapi belum tentu kepemimpinannya dapat diterima. Kepemimpinan memerlukan penerimaan sikap lahir dan batin. Karena itu, Rasulullah menekankan bahwa ketaatan kepada imam (pemimpin) bersifat lahir dan batin, bukan karena takut kepadanya.
Jadilah Pemimpin! Jika anda seorang yang bercita-cita menjadi pemimpin dan tidak merelakan diri dicengkeram oleh mental pengekor, pembebek, pembeo dan ‘sendiko dawuh’, maka renungkanlah beberapa hal berikut ini: Manfaatkan setiap peluang dan kesempatan yang terlintas di hadapan anda. Berlatihlah mulai sekarang. Jadilah pemimpin kecil-kecilan. Apabila dalam lingkungan kerja atau rumah, kebetulan anda jadi pemimpin, hal tersebut adalah sarana bagus untuk berlatih.Terutama adalah sikap bertanggung jawab. Ia perlu dikokohkan dalam diri kita, sebab ia tidak dapat mungkin dan kokoh begitu saja. Dan kepemimpinan adalah seni, yang tidak didapat di bangku sekolah mana pun.
Kepemimpinan hanya bisa dipelajari di lapangan, saat anda menjadi pemimpin sekecil apapun skupnya. Ibarat orang belajar berenang, beribu buku tentang cara berenang tidak akan sedikitpun menolong anda, jika anda tidak langsung terjun ke dalam air. Ingat, kesempatan yang saat ini terlintas belum tentu akan muncul kembali nanti. Sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan.Jangan takut gagal atau belum-belum sudah menyatakan tidak mampu. Nabi s.a.w.mengkritik orang yang semacam itu. Kata Nabi s.a.w: “Berusahalah sekuat tenaga kamu untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu. Janganlah sekali-kali merasa lemah. Dan minta tolonglah kamu kepada Allah.” Gagal adalah suatu hal yang wajar. Pelajarilah kisah hiduporang-orang besar. Betapa banyak dari mereka yang hidupnya berjalan dari kegagalan satu menuju kegagalan lain. Tidak ada yang terus mendaki atau terus turun. Jika anda takut, tidur saja. Sebuah batu granit menjadi keras karena tempaan alam yang ganas dan panjang. Pemimpin tidak muncul begitu saja. Tidak ada istilah ‘satrio piningit’. Seorang pemimpin harus terjun ke ‘kawah candradimuka’ kehidupan, berinteraksi dengan masyarakat. Bertarung, jatuh dan bangun. Janganlah anda berpikir bahwa sudah ada orang lain yang akan memimpin. Cukuplah kita mengikuti dia. Ingatlah, yang penting bukan kita jadi pemimpin atau tidak jadi pemimpin. Yang penting adalah kita mempunyai kualitas diri sebagai pemimpin. Jika kita yang dipimpin maka kita sudah tahu bagaimana menjadi pemimpin yang baik dan kita bisa mengontrol maupun mengoreksi bila terjadi penyelewengan. Ya, itu kalau bisa. Kalau tidak, jangan salahkan orang lain jika mereka lebih siap dari kita dalam kepemimpinan.
Ingatlah, kualitas pemimpin bukan hanya dilihat bahwa dia besar di kandang sendiri. Lihat pula bagaimana ia berada di kandang lawan. Besar jugakah ia? Kata-kata bijak mengatakan, “Bagaimana kamu, begitulah kamu diperlakukan. Kalau mutu kamu kambing, kamu akan diperlakukan sebagai kambing. Kalau mutu kamu harimau, kamu akan diperlakukan sebagai harimau.” Perlu kita sadari bahwa Islam diturunkan bukan hanya untuk orang Islam saja. Tapi untuk seluruh umat manusia. Karena kepemimpinan umat Islam adalah meliputi seluruh umat manusia, maka janganlah kita terlalu bangga jika saat ini kita besar dan dihormati di kelompok sendiri. Perlu belajar dan berlatih sehingga kita menjadi besar, di manapun kita berada.
Perhatikan setiap perkembangan situasi yang terjadi di lingkungan kita. Belajarlah menyusun kerangka masalah dan mencari jalan keluarnya. Jangan suka ‘cuek’ terhadap masalah yang berkembang. Apalagi kalau masalah itu berkaitan dengan umat Islam. Khususnya yang dekat dengan lingkungan kita.
Untuk itu kita harus aktif dan jangan menunggu. Berpikirlah dan bergerak, aktif mengajukan solusi. Pandanglah umat Islam sebagai satu kesatuan, meskipun kenyataannya mereka terkotak-kotak oleh golongan dan partai. Kita harus menentukan sikap yang kita yakini benar terhadap suatu masalah. Jika berbeda pendapat dengan orang lain, telitilah di mana letak perbedaannya. Jika kita salah, jangan segan-segan untuk mengubahnya. Mulailah menghilangkan sikap egois. Hanya hidup untuk diri sendiri dan keluarga. Ingat sabda Nabi s.a.w. “Belum sempurna iman seseorang jika ia tidak mencintai saudaranya seiman sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Kadang kita harus berkorban demi persatuan dan kebaikan. Itu wajar bagi sebuah perjuangan.
Terakhir, tentu saja kita harus terus menjadi hubungan baik dengan Allah SWT. Barusahalah mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Terus berdoa semoga cita-cita kita terkabul. Tak kenal putus asa. Apalagi sampai berprasangka buruk terhadap Allah. Dia, Allah, telah berfirman, “Oleh karena itu, hendaklah kamu ingat kepada-Ku, niscaya Aku pun ingat kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkari karunia-Ku ini.” (Al Baqarah 152)
Juga waspadalah setan-setan yang berkeliaran di sekitar kita. Mereka adalah musuh-musuh yang sangat berbahaya yang suka menina bobokkan kita dengan angan-angan kosong, atau menakut-nakuti kita. Akhirnya kita jadi serba salah untuk melangkah, bahkan malas untuk mengerjakan sesuatu.
Berlindunglah kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Ucapkanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan segala manusia dari kejahatan bisikan setan yang bersembunyi, yang berbisik-bisik di hati manusia, (mereka itu) dari golongan jin dan manusia.” (An Nas 1-5).
Nah, selamat berjuang. Allah beserta kita.