Penulis: Admin

Kurang lebih 25 tahun silam, saya sulit memahami isi kitab at-Takatul al-Hizbiy karya ‘Alamah al-‘Alim Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani. Bagaimana gambaran kaum terdidik (al-mutsaqofu) teracuni dengan tsaqofah asing, sampai-sampai akar sejarah umat tercerabut dari diri mereka, lebih percaya pada imperialis asing, lebih akrab dan ihtiraman pada mereka.

Namun zaman berganti hingga masuk era reformasi dimana neoliberalisme makin menjadi, satu persatu fakroh dalam kitab itu dapat diuraikan.

Bagaimana kaum terdidik — ulama dan intelektual — yang teracuni kurikulum pendidikan Barat menjadi berpikir bukan layaknya seorang muslim karena sudah tercerabut mabda Islam dan kehilangan akar sejarahnya, sampai-sampai tak bisa menggambarkan kondisi hakiki negeri mereka selain membebek pada gambaran yang diberikan Barat.

Ketika rupiah melemah dengan santai pejabat terkait mengatakan kondisi ekonomi nasional masih baik, pendapatan negara justru bertambah setiap kali dolar naik, utang LN bagus untuk pembangunan infrastruktur

Saking ihtiramannya pada asing, saat IMF berpesta, negara menyumbang hampir satu triliun padahal untuk bayar bunga utang LN saja harus pakai utang baru lagi.

Kaum terdidik dari kalangan alim juga setali tiga uang. Mereka gagal mengelaborasikan pemikiran-pemikiran agung dalam tafsir, ushul fikih, dan fikih, dengan realita umat.

Mereka terbawa pemikiran asing kalau kondisi negeri saat ini sudah on the right track. Lalu mereka tempatkan Islam malah sebagai ancaman, kecuali ajaran akhlak dan ibadah. Tanpa sadar para mutsaqofun ini. Para pejuang Islam dipersekusi dan difitnah. Beginilah, seperti kata Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani pada tahun 50-an, kaum muslim terdidik menelan bulat-bulat arahan Barat pada mereka.

Dengan bercanda saya bilang pada para bapak yang sedang ikut kajian ini , Syaikh Taqiy seperti punya elmu weruh saduruning winarah. Tahu sebelum terjadi. Kita baru tahu isi pemikiran kitab yang ditulisnya setelah sekian belas atau puluh tahun.

Tentu bukan itu yang terjadi. Syaikh Taqiy hanya gambaran sosok yang tajam pengihsasan-nya ke dalam kondisi umat sehingga bisa menyingkap tabir yang terjadi di tengah umat. Ya, hanya mereka yang concern pada perjuangan Islam, setia pada mabda Islam, dan taqarrub pada Allah (bukan pada asing-aseng) yang dapat menyibak tabir kebusukan kondisi penjajahan, jauh sebelum orang kebanyakan menyadarinya,

Pada zamannya, orang-orang seperti ini dianggap sedang berilusi, ngawur, termakan teori konspirasi, bahkan mungkin hilang akal. Inilah resiko menjadi orang mustanir yang pemikirannya melampaui zaman. Terkadang, kebenaran butuh waktu untuk bisa diterima banyak orang, termasuk kaum muslimin.

Semoga Allah membalas jerih payah pemikiran dan perjuangan Anda, wahai Syaikh rahimahullah!