APAKAH “ILMIAH” = EMPIRIS?
Ada kecenderungan dalam sebagian kalangan untuk menyamakan makna “ilmiah” semata-mata dengan hal yang bersifat fisik dan empiris. Dalam pandangan ini, sesuatu dianggap ilmiah hanya jika dapat diamati, diukur, dan diuji melalui metode empiris.
Pandangan ini tampak tegas secara teknis akademik, tetapi sesungguhnya problematik secara prinsipiil-bertentangan dengan prinsip dasar ilmu pengetahuan. Karena dalam sejarah peradaban umat manusia- “ilmu pengetahuan” bukan konsep yang semata hadir untuk mengelola obyek- persoalan fisik tapi juga non fisik-metafisik.Ilmu bukan misal cuma sebatas teknologi-kimia tapi juga logika- matematika-etika- hukum-teologi Dlsb. (hal hal metafisik).
Dengan kata lain : Struktur organisasi ilmu pengetahuan itu terbentang luas mulai dari wilayah fisik hingga metafisik.Maka mereduksi ilmu sebatas aspek fisik- empiris itu = mempersempit makna sekaligus wilayah operasi ilmu pengetahuan yang seharusnya universal- menyeluruh-menjangkau beragam persoalan keilmuan yang bersifat kompleks yang pernah hadir kedalam alam pikiran manusia
Makna “ilmiah” secara lebih tepat adalah:
sesuatu yang bersifat keilmuan, rasional, sistematis, dan dapat dipertanggungjawabkan dalam kerangka ilmu pengetahuan-Dan maknanya tak boleh dibingkai oleh ideologi ilmiah semacam positivism-karena ia adalah sebuah ideologi > bukan prinsip dasar ilmu pengetahuan
Maka pertanyaannya:
apakah benar “ilmiah” harus selalu berarti “empiris”?
1. Logika dan Matematika: Ilmu Non-Empiris yang Fundamental
Mari kita uji klaim tersebut secara langsung :
Apakah logika itu empiris?
Apakah matematika itu empiris?
Jika dijawab tidak, maka jelas ada wilayah ilmu yang non-empiris.
Jika dijawab ya, maka itu menunjukkan ketidakpahaman terhadap hakikat logika dan matematika.
Karena: Logika tidak berasal dari eksperimen, melainkan dari prinsip rasional > muncul dari karakter cara berpikir akal
Matematika tidak ditemukan lewat observasi, tetapi melalui konstruksi akal.
Namun ironisnya: seluruh sains modern- termasuk fisika-bertumpu pada logika dan matematika.
Tanpa keduanya:
>Tidak ada hukum fisika
>Tidak ada teori ilmiah
>Tidak ada teknologi
Artinya:
Ilmu empiris justru berdiri di atas fondasi non-empiris > cara berpikir akali
2. Peran Akal: Pengorganisir Realitas, Bukan Sekadar Penerima Data
Indera hanya menangkap data mentah-dan input data itu bersifat acak
Fungsi akal adalah :
>Mengorganisir
>Mengabstraksikan
>Menyusun hukum dan pola
Tanpa akal:
data empiris hanyalah fragmen acak tanpa makna.
Kita memahami “hukum alam” bukan karena melihat hukum itu secara langsung, tetapi karena:
akal menyusun keteraturan dari fenomena.
Di sini tampak jelas: ilmiah tidak identik dengan empiris, melainkan melibatkan struktur rasional yang melampaui empirisme.
3. Akal Bersifat Universal-Tidak Terbatas pada Fisik
Pada prakteknya dalam peradaban ilmu pengetahuan umat manusia > Akal manusia tidak berhenti pada objek dan persoalan yang bersifat fisik. Ia secara alami juga memikirkan persoalan persoalan metafisis.Maka itulah dalam peradaban umat manusia kita mengenal ada bahasan fisika dan metafisika-Ada institusi sains-filsafat serta agama > Karena akal berpikir secara universal-menyeluruh-menjangkau beragam aspek > Ini adalah karakter akal
Dalam memikirkan hal metafisik akal misal bergerak menuju memikirkan :
>pertanyaan sebab pertama
>hakikat keberadaan
>makna dan tujuan
Inilah yang melahirkan:
filsafat
metafisika
teologi
Membatasi akal hanya pada yang empiris berarti: mereduksi kapasitas akal itu sendiri pada wilayah yang sempit
4. Kontradiksi Internal Empirisme Radikal
Klaim:
“Hanya yang empiris yang ilmiah”
Pertanyaannya:
Apakah pernyataan itu sendiri empiris?
Jika empiris > mana eksperimen yang membuktikannya?
Jika tidak empiris > berarti ia menggunakan standar yang ia sendiri tolak
Kesimpulan:
prinsip ini runtuh oleh kontradiksinya sendiri (self-refuting).
Inilah yang dalam sejarah dikenal sebagai kegagalan Rudolf Carnap dan gerakan Positivisme Logis yang akhirnya ditinggalkan karena tidak mampu mempertahankan prinsip verifikasinya sendiri.
5. Fondasi Sains Itu Sendiri Bersifat Metafisik
Sains berdiri di atas asumsi-asumsi dasar:
>Alam teratur
>Hukum alam bersifat universal
>Realitas dapat dipahami secara rasional
Pertanyaannya:
Apakah asumsi-asumsi ini dibuktikan melalui eksperimen?
Jawabannya: tidak - Itu difahami oleh akal- bukan semata dilihat oleh mata
Bahkan Albert Einstein mengakui bahwa:
keteraturan dan rasionalitas alam bukan hasil eksperimen, tetapi prasyarat bagi eksperimen.
Artinya: sains bergantung pada prinsip metafisik sebelum menjadi empiris.
6. Perspektif Filsafat Klasik: Ilmu Lebih Luas dari Empiris
Sejak awal, ilmu tidak pernah dibatasi pada fisik.
Aristotle membagi ilmu menjadi:
>Fisika (alam)
>Matematika
>Metafisika (yang paling fundamental)
Ini menunjukkan:
pembatasan ilmu hanya pada wilayah empiris bukan kemajuan, tetapi penyempitan.