Dengar² ada saudara² kita yg tak mau menjalin hubungan baik dan berbagi pikiran kecuali dengan kalangan Asy’ari.
Kebanyakan ulama mutaakhirin yg kita “kenal” memang dikatakan merupakan Asy’ariyyun atau Asya’irah. Item pemikiran teologis Asy’ariyyah ada puluhan, sebagaimana ada di kitab² kalam yg klasik. Salah satu pemikiran yg unik dan terkenal adalah soal kasb dalam konteks hubungan antara amal hamba dengan Kehendak, dan Kekuasaan Allah untuk mencipta segala hal.
Kasb, dalam terminologi Asy-ariyyah, adalah hal yg membuat manusia layak menerima pahala dan siksa. Kasb adalah “bersandingnya qudrah manusia dengan perbuatan,” yang sebenarnya terkait dengan kesadaran dan kehendak manusia tatkala bertindak. Walau, di balik kasb itu, tetap saja, kehendak dan perbuatan manusia itu sendiri, secara realtime, tumbuh dan terwujud karena Allah menciptakannya pada dirinya.
Maka, jika Anda seorang Asy’ari, sesekali dalam hidup Anda bisa melakukan refleksi semacam ini:
“Saat ini aku berkehendak untuk shalat. Menurut keyakinanku, kehendakku saat ini diciptakan oleh Allah, bukan oleh diriku sendiri secara independen. Seandainya Allah tidak mencipta kehendak itu, niscaya aku tak berkehendak untuk shalat. Kemudian, Allah menciptakan setiap detail perbuatan shalat itu pada diriku, sehingga, di dunia ini, kalian bisa melihat aku benar-benar memilih utk mengerjakannya, dan bergerak utk melakukannya. Aku pun mendapat pahala karena Allah menjadikanku sebagai orang yg menghendaki, memilih dan melakukan shalat tersebut.”
Atau sesekali bisa merenungkan hal seperti ini:
“Dan seandainya seseorang mencuri, menurut keyakinanku, Allah meletakkan kehendak mencuri itu pada dirinya, dan menciptakan setiap detil perbuatan mencuri tersebut untuknya. Di alam ini, kita melihat orang itu berniat sendiri untuk mencuri, dan melakukan pencurian itu dengan kesadaran diri dan kesengajaan. Dia pun layak mendapat dosa karena orang itu telah dijadikan oleh Allah sebagai pelaku nyata dari perbuatan tercela itu.”
Meski sebagian orang mengatakan bahwa ini hanyalah paham jabriyyah yang dimodif, namun menurur ‘Asyariyyah, ini bukan jabr, karena manusia tidak merasa dan tidak terlihat dipaksa, karena ia benar² bertindak dalam kesadaran, kehendak, pilihannya sendiri. Itulah kasb. Meski sejatinya, semua itu hanya disandingkan, niat dan perbuatan diciptakan Allah untuknya, karena Allah satu² Pencipta, satu²nya yg Maha Berkehendak, tidak ada yg berserikat dengan Dia dalam hal itu. Dikatakan, ini adalah pandangan yg mengokohkan tauhid, keEsaan Allah dalam sifat-sifatNya sebagai Dzat yg memiliki iradah dan qudrah yg mutlak, sekaligus menyelamatkan konsep keadilan Allah dalam membalas perbuatan hambaNya.
Bagaimana, apakah Anda seorang Asy’ari?
.
NB:
Sejumlah pihak menjelaskan bahwa kasb adalah kehendak manusia atau pilihan manusia; kemudian Allah menciptakan perbuatannya. INi kurang lengkap, sebab masih ada sisa pertanyaan: bagaimana niat atau kehendak itu bisa muncul? Asy’ariyyah menjawab: Allah yang menciptakan niat/kehendak itu dalam diri manusia.