Tatkala orang Islam yang tampak alim dan saleh sering mempersoalkan aliran akidah yang benar, kita mungkin bertanya-tanya, “apa pentingnya akidah bagi manusia?”

Ya, akidah memang harus benar. Namun, apakah akidah hanyalah sesuatu yang ada untuk dipercayai dan jadi bahan perdebatan tanpa fungsi praktis?

Akidah itu keyakinan, dan itu seharusnya sangat penting bagi arah dan bangunan kehidupan kita.

Bayangkan jika Anda suatu saat terbangun dalam kondisi tak ingat apa pun. Anda tak punya keyakinan dasar tentang Anda ini siapa, asal-usulnya dari mana, sedang ada di tempat macam apa, dan apa tujuan Anda di sana. Gelap, tanpa titik terang.

Jika Anda tidak segera memiliki jawaban atas persoalan-persoalan dasar itu, dapat dipastikan Anda tidak akan tahu apa yang seharusnya Anda lakukan, arah mana yang harus Anda tempuh, apa yang mestinya Anda bangun, atau misi apa yang harus Anda selesaikan.

Kita analogikan jika itu terjadi pada seorang mahasiswa di tanah rantau. Kehilangan pemahaman tentang data-data mendasar itu akan membuatnya menjadi pemuda lontang-lantung yang tak tahu apa yang harus dia lakukan, karena tak ingat bahwa dia seorang mahasiswa dengan misi belajarnya. Padahal, seharusnya dia kuliah, mengerjakan tugas, praktikum, ujian, dll, sampai lulus. Namun, karena tak mengingat itu, dia tak pernah ke kampus lagi, justru menjadi tukang parkir ‘sukses’ di sebuah tempat nongkrong. Dia mungkin bisa bertahan hidup, namun bangunan hidupnya salah, tak sesuai misi awal yang seharusnya dia jalankan.

Fungsi utama akidah Islam, secara global, sejatinya adalah memberi jawaban mendasar semacam itu terkait kehidupan manusia. Sekali kita meyakini Islam, segala tentang siapa diri kita, apa dunia ini, apa misi kita, kehidupan seperti apa yang mesti kita bangun, apa tujuan akhir kita, semuanya menjadi terjawab dengan jelas, terang-benderang dan meyakinkan.

Singkatnya, akidah Islam membuat kita yakin bahwa kita harus bersatu, membangun kehidupan pribadi dan umat dengan Islam, menerapkan hukumnya, menjalankan segala urusan dengan Islam, melindungi eksistensinya dan menyebarkannya ke seluruh bangsa-bangsa.

Sejarah membuktikan bahwa akidah ini memberi dorongan luar biasa bagi umat Islam untuk bangkit, menjadi umat yang kuat, karena dituntut untuk tangguh, berusaha untuk lebih unggul secara material dari kekuatan-kekuatan yang membahayakan Islam atau menghalangi penyebaran Islam. Ini yang membuat mereka akan haus terhadap ilmu pengetahuan, tak mau ketinggalan inovasi, tak mau dikalahkan.

Kalau sudah demikian, insyaallahu, mereka tidak akan sempat untuk ribut-ribut soal, “apakah sifat Allah ‘Maha mendengar’ itu merupakan bagian dari Dzat-Nya ataukah terpisah dari Dzat-Nya?”, sebagaimana yg diperdebatkan oleh Asy’ariyyah dengan Mu’tazilah.